
"Ayo, Nona Maria. Sebaiknya aku antar kamu pulang," ucap Dylan sembari menarik tangan Maria dan menuntun gadis itu menuju motor kesayangannya.
"Mana helmnya?" Dylan mengulurkan tangannya kepada Maria dan gadis itupun segera menyerahkan kunci motornya kepada Dylan.
Dylan mengambil helm yang ada di box motor Maria kemudian mengenakannya. Maria tersenyum saat lelaki bertubuh besar itu mengenakan helm imutnya tanpa protes sedikitpun.
"Apa kamu ingin terus disitu sambil tersenyum konyol melihat kebodohanku, Nona Maria?" kesal Dylan karena gadis itu tersenyum padanya, saat ia mengenakan helm bermotif kucing fenomenal yang berasal dari Negara Sakura tersebut.
"Ah, iya. Maafkan aku, Om."
Maria segera naik kemudian masih seperti kemarin, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Dylan dengan erat. Lagi-lagi Dylan tersenyum saat melirik lengan mungil yang sedang memeluk perut six packnya.
"Pegangan yang erat, aku tidak ingin kamu jatuh. Aku tidak ingin ganti rugi satu, dua atau tiga milyar lagi padamu."
"Heheh ...." Terdengar tawa ringan dari belakang tubuh Dylan.
Dylan segera melajukan motor matic berwarna pink tersebut meninggalkan dua penjahat yang masih terkapar dan tak sadarkan diri ditempat itu.
"Oh ya Nona Maria. Soal hutang piutang satu milyar kita, aku rasa sudah impas karena sekarang kamu juga punya utang satu milyar kepadaku."
Terlihat gurat kesedihan di wajah lelah Maria saat itu. Entah mengapa saat Dylan mengatakan kata 'impas', Maria merasakan rasa sedih yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Ternyata Om serius ya, soal satu milyar itu? Aku kira Om hanya bercanda," lirih Maria.
"Ya, serius lah, masa tidak?! Kamu sendiri saja serius soal satu milyarmu padaku," balas Dylan.
Maria menghembuskan napas berat dan wajahnya semakin sendu saat itu. "Apa itu artinya Maria tidak bisa bertemu sama Om Udin lagi?"
Ekspresi bahagia Dylan sirna seketika saat mendengar ucapan gadis polos itu.
__ADS_1
"Ehm ... memangnya kenapa jika kita tidak bisa bertemu lagi? Bukankah itu lebih baik buatmu?" tanya Dylan balik.
"Ehm, entahlah. Mungkin nanti aku akan merindukan sosok Om Udin. Karena selama beberapa hari terakhir hanya Om Udin yang setia menemaniku."
Dylan tersenyum kecut. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Dylan pun merasakan hal yang sama.
"Heh, modus. Aku yakin kamu pasti merindukanku dengan alasan tertentu, ya 'kan? Kamu rindu karena tidak bisa mengerjai aku lagi."
"Ih, kok Om Udin ngomongnya seperti itu?"
"Tapi, aku benar 'kan?"
"Eh, Om Udin berhenti disini!"
Tiba-tiba Maria menepuk pundak Dylan dengan cepat dan memerintahkan lelaki itu untuk berhenti di sebuah taman.
"Kenapa kita berhenti disini?" tanya Dylan heran sembari menepikan motor matic milik Maria ke pinggir taman.
"Apa kalian lihat-lihat? Apa kalian tidak pernah melihat orang tampan, ha?!" hardik Dylan kepada para remaja yang menertawakan dirinya.
"Bukan hanya tampan, Om. Tetapi juga lucu dan menggemaskan," jawab salah satu daru mereka.
"Sudah, Om."
Maria mengajak Dylan ke salah satu kursi taman kemudian duduk disana.
"Kenapa berhenti disini, Nona Maria? Sebaiknya kita pulang, aku yakin kedua orang tuamu akan mencari keberadaanmu jika hingga sekarang kamu belum juga tiba di mansion megahmu itu," kesal Dylan.
"Aku sudah kasih tau Mommyku, Om. Hari ini aku memang ada jadwal pelajaran tambahan untuk menghadapi ujian akhir nanti dan Mommy pun sudah mengijinkanku."
__ADS_1
"Ehm, Om? Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" lanjut Maria.
"Bertanya apa?"
"Sampai dengan hari ini aku bahkan tidak tahu status Om Udin yang sebenarnya. Sebenarnya Om Udin itu sudah punya pacar belum, sih?" tanya Maria.
Dylan tersenyum. "Bukan hanya seorang kekasih, Nona Maria. Om Udin ini sudah punya seorang istri dan bahkan sudah punya anak tiga. Memangnya kenapa, Nona? Kamu naksir Om Udin, ya?" goda Dylan sambil mencolek dagu Maria.
Maria terlihat kecewa setelah mendengar jawaban Dylan.
"Aku kira Om masih single."
Dylan tergelak sambil menutup mulutnya, sedangkan Maria masih menatap lelaki itu dengan seksama. Tiba-tiba saja mata Maria tertuju pada luka di tangan Dylan.
Sebuah luka gores yang mungkin terjadi akibat perkelahian tadi. Maria bergegas meraih tangan Dylan kemudian memeriksa luka tersebut.
"Om, kamu terluka!" pekik Maria.
"Ah, itu cuma luka gores. Tidak apa-apa," jawab Dylan. Ia ingin menarik kembali lengannya tetapi ditahan oleh Maria.
"Biar Maria kasih plester luka, Om. Sebentar ya, Om."
Maria meraih tasnya kemudian mengambil beberapa plester luka yang memang selalu ada di dalam tasnya. Maria menutup luka Dylan dengan plester luka dengan motif bunga-bunga.
"Astaga, Nona! Kenapa plester lukanya bergambar bunga-bunga begini? Apa tidak ada yang polos?"
"Maaf, tidak ada, Om. Hello Kitty, mau?"
"Ya, Tuhan!" Dylan menepuk jidatnya.
__ADS_1
...***...