Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 32


__ADS_3

"Mari, Pak!" ajak Marissa sembari menuntun lelaki itu menuju ruangan pesta.


Fattan membulatkan matanya ketika memasuki Mansion milik Marcello. "Ternyata Daddy-mu benar-benar kaya, ya!" seru Fattan seraya memperhatikan sekeliling ruanga pesta.


"Ya, tapi sayangnya aku tidak bisa hidup bebas disini. Aku harus seperti ini, harus seperti itu dan bla, bla, bla! Belum lagi sikap Daddy yang over protektif, hmmm, membuat aku seperti burung yang hidup didalam sangkar emas," gerutu Marissa sembari melangkahkan kakinya bersama Fattan.


Fattan memperhatikan Gadis cantik yang tengah menggandeng tangannya. Mata Lelaki itu bahkan tidak mampu berkedip menyaksikan keindahan tanpa cela yang tengah berdiri disampingnya.


"Marissa, kamu sangat cantik," ucap Fattan.


Marissa menoleh sambil melemparkan senyuman manisnya kepada lelaki itu. "Ah, Bapak bisa saja! Eh, untuk malam ini boleh kah aku memanggilmu dengan Fattan aja? Terdengar lucu jika aku harus memanggilmu dengan sebutan Bapak karena usiamu saja jauh lebih muda dari Daddy-ku," tanya Marissa.


"Dengan senang hati, untuk selamanya juga tidak apa-apa," sahut Fattan.


Marissa pun tersenyum mendengar ucapan lelaki itu.


Ketika Marissa dan Fattan memasuki ruangan pesta, semua mata tertuju pada mereka, termasuk Marcello, Joe dan para Bodyguard-nya. Walaupun penampilan Fattan terlihat sederhana dengan pakaian yang harganya tidak semahal para tamu undangan lainnya, tetapi dengan Marissa disampingnya, iapun menjadi pusat perhatian dipesta itu setelah Tuan Marcello.


Wajah Marcello memerah, ia benar-benar marah. Apalagi setelah ia melihat Gadis kecilnya itu memeluk lengan Fattan dengan begitu mesra.


"Mau apa lelaki itu hadir ke pesta ini!" geram Marcello.


Marcello melangkahkan kakinya dan ingin menghampiri pasangan itu. Namun, ditahan oleh Joe.


"Jangan, Tuan. Saat ini para rekan bisnis Anda sedang berkumpul. Begitupula anggota keluarga Nona Sarrah dan teman-temannya," ucap Joe.

__ADS_1


Marcello membuang napas kasar. Ia berbalik dan mengurungkan niatnya. "Kamu benar, Joe!"


. . .


Acara pertukaran cincin antara Sarrah dan Marcello dimulai. Dengan wajah semringah pasangan itu saling memakaikan cincin ke jari manis pasangannya. Marissa hanya bisa tersenyum kecut di kejauhan sambil memperhatikan kemesraan pasangan itu. Apalagi di akhir sesi, pasangan itu berciuman dengan sangat mesra.


Mendadak wajah Marissa menjadi sendu, hatinya kembali tersentil ketika menyaksikan kemesraan pasangan itu.


"Marissa, kamu kenapa?!" tanya Fattan.


Sejak tadi lelaki itu hanya memperhatikan Marissa, ia bahkan tidak bisa melepaskan pandangannya kearah lain.


"Ah?! Ehm, tidak apa-apa. Aku hanya merasa terharu, akhirnya Daddy-ku resmi bertunangan dengan wanita penyihir itu, ehm bukan! Maksudku Sarrah, ya! Sarrah," sahut Marissa.


Fattan terkekeh pelan ketika melihat ekspresi aneh Marissa saat itu. "Kamu lucu, Marissa," ucapnya.


"Ehm, Fattan. Ada sesuatu di wajahmu," ucap Marissa kepada Lelaki itu.


Posisi Fattan membelakangi Marcello, sehingga ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Marissa sebenarnya. Marissa meraih wajah Fattan kemudian mendekatkan wajahnya kepada Lelaki itu. Sontak Fattan terkejut, tetapi ia tidak menolak sedikitpun apa yang sedang dilakukan Marissa kepadanya.


Dari penglihatan Marcello, Marissa seperti sedang berciuman bersama Fattan. Ia meradang dan tidak sanggup menahan emosinya. Marcello melangkah pergi, meninggalkan Sarrah sendirian. Sarrah nampak kebingungan melihat tingkah aneh lelaki yang kini resmi menjadi tunangannya itu.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Sarrah


Namun, lelaki itu tidak menggubrisnya. Ia meneruskan langkahnya dengan tergesa-gesa menembus kerumunan para tamu undangan. Joe menyadari akan ada sesuatu yang terjadi di pesta itu. Ia bergegas mengikuti langkah Marcello dan berjalan dibelakangnya untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


Fattan yang terpana akan kecantikan Marissa, tidak menyadari bahwa ada bahaya yang sedang menghampirinya. Lelaki itu tidak mampu mengedipkan matanya ketika menatap Marissa dengan posisi yang sangat dekat. Ia bahkan dapat mendengar hembusan napas Gadis itu dengan sangat jelas.


"Marissa, sebenarnya aku ..."


Belum sempat Fattan mengutarakan isi hatinya kepada Marissa, Marcello sudah menarik kerah kemeja lelaki itu dengan sangat kasar.


"Dasar bajing*n!" hardik Marcello sembari ingin melayangkan sebuah pukulan kepada Fattan. Namun, Marissa sudah menduga akan hal itu. Ia bergegas menahan Marcello kemudian memeluknya dengan erat.


"Sudah, Dad! Hentikan! Apa Daddy tidak malu dilihat oleh banyak orang?!" ucap Marissa sembari mendorong tubuh Marcello agar menjauh dari Fattan.


Pertengkaran yang terjadi disaat pesta masih berlangsung, membuat mereka menjadi pusat perhatian para tamu undangan.


"Seret lelaki ini keluar! Dan jangan pernah biarkan dia menginjakkan kakinya ketempat ini lagi!" titah Marcello kepada para Bodyguard-nya.


"Baik, Tuan!" sahut para Bodyguard serempak.


"Tuan, sebenarnya aku dan Marissa ..."


Fattan ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tetapi Para Bodyguard sudah menyeretnya keluar dari ruangan itu.


"Dan sekarang giliranmu, Gadis Nakal!" Marcello menarik tangan Marissa dan membawanya meninggalkan pesta itu.


Sarrah sangat kesal sekaligus malu. Ia tidak menyangka bahwa Marcello akan meninggalkan dirinya di pesta itu hanya karena merasa cemburu kepada Fattan dan Marissa.


"Ada apa dengan calon suamimu, Sarrah? Sebenarnya siapa Gadis itu?" tanya teman-teman sosialita-nya.

__ADS_1


Sarrah tidak mampu menjawab pertanyaan dari tempat-temannya itu. Ia hanya terdiam sembari memikirkan bagaimana nasib pestanya tanpa Marcello.


...***...


__ADS_2