
Setelah kondisi Maria agak baikan, Marissa pun segera kembali ke ruang utama dan ingin menemui calon menantunya. Setibanya di ruangan tersebut ternyata semua lelaki di ruangan itu tengah asik berbincang-bincang.
"Tuan Dylan, Maria ingin bicara empat mata denganmu," ucap Marissa sembari duduk di samping suaminya.
"Ya, sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian terlebih dahulu. Baru setelah itu kita putuskan bagaimana selanjutnya," lanjut Tuan Marcello.
Dylan pun menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya saat itu ia benar-benar pesimis bahwa Maria akan memaafkannya.
"Mari, biar aku antar ke kamarnya," ajak Marissa sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Terima kasih, Nyonya Marissa."
Marissa melangkah terlebih dahulu sementara Dylan mengikutinya dari belakang. Setibanya di ruangan itu, Marissa pun segera membukakan pintu kamar Maria dan mempersilakan Dylan untuk masuk ke dalam.
"Masuklah, Tuan Dylan. Eits, tapi ingat! Kalian belum halal jadi jangan coba melakukan hal-hal yang aneh, ya!" Marissa mengingatkan pasangan itu dengan mata membulat.
"Tentu saja, Nyonya Marissa."
"Ish, Mommy ngomong apaan, sih? Memangnya Maria gadis apaan?!" ucap Maria sambil menekuk wajahnya.
"Mommy takut kalian khilaf!" jawab Marissa sembari menutup pintu kamar Maria dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Dengan ragu-ragu, Dylan menghampiri tempat tidur Maria. Sedangkan Maria terus memperhatikan Dylan yang mendekat padanya. Wajahnya menekuk dan sepertinya gadis itu masih sangat kesal.
"Duduklah, Om," titah Maria sembari menepuk tepian tempat tidurnya.
Dylan pun menurut saja, ia duduk di samping Maria kemudian memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.
__ADS_1
"Nona Maria, maafkan aku."
"Kenapa selama ini Om Udin terus membohongiku dengan berpura-pura sebagai sopirnya Tuan Dylan? Nah, 'kan aku sudah terbiasa memanggilmu dengan sebutan itu jadi susah mengubahnya," kesal Maria.
"Maafkan aku, Nona Maria. Sebenarnya aku tidak bermaksud membohongimu, tapi apa kamu sudah lupa? Di hari pertama kali kita bertemu, kamu adalah orang pertama yang mengatakan bahwa aku adalah seorang sopir. Jadi ya ... sekalian saja aku kasih kartu nama Pak Udin sama kamu," ucap Dylan sambil tersenyum getir.
"Ish, jahatnya!"
Maria mendengus kesal setelah mendengar penjelasan Dylan saat itu. Ia meraih salah satu boneka Hello Kitty yang berjejer di tempat tidurnya kemudian melemparkannya kepada Dylan.
Dylan menyambut boneka itu sebelum benar-benar mendarat di wajahnya sambil tergelak. "Maafkan aku, Nona. Please ... kamu mau 'kan memaafkan aku?"
"Tidak! Aku masih kesal!"
"Wajahnya jangan ditekuk begitu, Nona. Nanti makin jelek," goda Dylan sambil mencolek hidung Maria.
"Ya, sudah kalau Nona tidak bisa memaafkan aku. Sebaiknya aku pulang saja dan biarkan Tuan Aidan yang akan menggantikan posisiku," ucap Dylan seraya bangkit dari posisinya.
Mendengar nama Aidan disebutkan, Maria pun bergegas bangkit dari posisinya kemudian menyusul Dylan yang sudah melangkah menghampiri pintu kamarnya.
"Eh, Om! Tunggu," panggil Maria sembari meraih tangan kekar Dylan yang ingin membuka pintu ruangan itu.
"Baiklah, baiklah! Maria maafin Om tapi Maria mohon dengan sangat jangan biarkan Tuan Aidan menggantikan posisi Om untuk menikahiku, ya?" lirih Maria dengan wajah penuh harap menatap Dylan.
Dylan terkekeh kemudian mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Oke, aku setuju! Sekarang ikutlah denganku, kita kembali menemui kedua orang tua dan juga Kakak kembarmu di ruangan itu. Kamu ingin jadi istriku, 'kan?"
"Ya, tapi Om masih berhutang seribu penjelasan padaku!" kesalnya sambil memeluk lengan kekar Dylan dan berjalan bersama lelaki itu keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Loh, penjelasan apa lagi?"
"Banyak! Dan salah satunya adalah tentang rumah sempit yang Om akui sebagai rumahnya Om. Dasar menyebalkan, bisa-bisanya aku percaya begitu saja dengan semua kebohonganmu," gerutu Maria.
"Ya, ya. Nanti akan kujelaskan semuanya padamu."
Akhirnya mereka tiba di ruang utama, Marissa dan Marcello memperhatikan mereka tanpa berkedip sedikitpun.
"Melihat mereka, aku jadi teringat kisah kita saat masih muda, Cha." Marcello tersenyum kemudian melirik Marissa yang sedang duduk di sampingnya.
"Ya, kamu benar, Dad. Tapi, usia Maria jauh lebih muda dari usiaku ketika mengenalmu. Daddy lihat saja, kadang-kadang pikiran gadis itu masih seperti anak-anak," tutur Marissa.
Setelah Maria dan Dylan kembali duduk di posisi mereka sebelumnya, acara pun kembali di lanjutkan. Dylan mengutarakan niatnya kepada Tuan Marcello bahwa dia ingin melamar Maria.
"Aku sebagai orang tua Maria, tentu saja setuju. Tetapi, semua keputusan ada di tangan Maria. Jadi, bagaimana Maria?"
Sekarang, semua mata tertuju pada gadis itu. Maria menyeringai kepada Dylan yang juga sedang menatapnya.
"Baiklah, aku setuju! Tapi ada syaratnya, Tuan Dylan!"
Dylan menelan salivanya dengan susah payah. Ia mulai ketakutan melihat seringaian gadis itu. Dylan tahu, jika Maria tersenyum seperti itu kepadanya, ia pasti dalam masalah.
"Apa syaratnya?"
Jeng ... jeng ... jeng ....
...***...
__ADS_1