
Akhir pekan.
Seluruh keluarga besar Marcello berkumpul di kediamannya. Jika si kembar Marvel dan Melvin sedang asik bercengkrama di ruang utama bersama Mommy dan Daddynya, berbeda dengan Maria. Gadis itu lebih memilih duduk sendirian di depan mansion mewahnya dengan wajah masam.
"Dimana Maria?" tanya Marcello kepada dua anak lelakinya.
"Di teras, Dad. Entah kenapa sama itu anak, sepertinya sejak tadi Melvin perhatikan wajahnya terus menekuk. Apa dia sudah diputuskan sama pacarnya, ya?" Melvin tergelak setelah mengucapkan hal itu.
"Hush, Melvin. Tidak boleh begitu," tegur Marissa.
"Serius, Mom. Coba aja Mommy lihat bagaimana ekspresi wajahnya, pasti Mommy juga akan bilang seperti itu," balas Melvin yang kembali tergelak.
Sementara itu di depan mansion.
"Hai, Nona Maria. Jangan ditekuk begitu wajahnya nanti makin jelek, lo!" goda Leo yang sejak tadi memperhatikan Maria yang sedang duduk sendirian.
Maria melirik Leo dengan tatapan mengerikan kemudian meraih sandal bulu-bulu yang sedang menempel di kaki mulusnya dan melemparnya ke arah Leo.
Sandal bulu-bulu berwarna baby pink dengan bentuk kepala kucing fenomenal itupun melayang di udara dan menuju tepat ke arah Leo. Namun, Leo sigap menghindarinya dan sandal lucu itupun melesat begitu saja di samping tubuhnya.
"Eits, gak kena!" ucap Leo.
Maria semakin kesal saja. Ia membuang muka dan menatap ke arah lain dengan wajah yang masih menekuk. Leo tahu bahwa saat itu Maria sedang Badmood dan dengan menggoda gadis itu, ia berharap bisa mencairkan suasana hati Maria. Namun, sepertinya ia salah. Perasaan gadis itu malah semakin kacau dibuatnya.
Leo meraih sandal milik Maria yang tergeletak di atas tanah kemudian menghampiri gadis itu.
"Ini sandalmu, Nona Maria."
Leo menyerahkan kembali sandal bulu-bulu milik Maria kemudian duduk di samping gadis itu. Maria meraih sandalnya dari tangan Leo dan mengenakannya kembali tanpa bicara sepatah katapun.
"Sebenarnya kamu kenapa, Maria? Sejak tadi kulihat wajahmu murung begitu," tanya Leo.
__ADS_1
Di antara ketiga anak Joe, hanya Leo yang berani menyebut Maria dengan sebutan nama. Ia sudah terbiasa dan Maria pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Aku lagi bete, Leo. Tolong jangan ganggu aku untuk saat ini," jawab Maria yang masih tidak ingin membalas tatapan Leo.
"Oh, Ayolah Maria. Bukankah kita teman? Ceritakanlah masalahmu padaku, siapa tahu aku bisa membantumu," tutur Leo sambil menatap lekat wajah cantik gadis itu.
Baru saja Maria membuka mulutnya dan ingin menjawab ucapan Leo, sebuah mobil berwarna biru elektrik masuk ke halaman mansion yang luas itu dan terparkir rapi disana. Tidak berselang lama, seorang gadis cantik berusia 21 tahun keluar dari mobil tersebut.
Ia berjalan sambil tersenyum hangat menghampiri Maria dan Leo yang sedang duduk di depan mansion.
"Hai, Maria! Apa kabar?"
"Baik, Kak."
Alifa Zea Sadiya, putri tunggal Erika dan Fattan. Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Maria kemudian menciumi kedua pipinya.
"Sebaiknya aku balik dulu," sela Leo sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Idih, siapa yang merasa terganggu. Aku memang sedang ada kerjaan, Fa. Tadi cuma kebetulan saja aku melihat Maria sedang duduk disini dengan wajah bete. Tuh, lihat wajahnya!" Leo menunjuk wajah masam Maria sambil terkekeh pelan.
"Ih, kamu!" kesal Maria yang kemudian memukul lengan Leo.
Leo melenggang pergi sambil tertawa dan meninggalkan Maria bersama Alifa disana.
"Eh, Om gantengmu udah datang belum?" tanya Alifa sambil tersenyum lebar menatap Maria. Ia duduk di samping Maria menggantikan posisi Leo.
"Belum, mungkin bentar lagi."
"Eh, aku nanya Om Duda tampanmu, ya! Bukan Arsya," celetuk Alifa.
"Iya, Kak Alifa. Om Zaid, 'kan?"
__ADS_1
"Ya!" sahut Alifa dengan sangat antusias.
"Kak, Kenapa Kak Alifa malah suka sama Om Zaid, sih? Dia kan udah tuir mana duda lagi," tanya Maria.
"Ish, usia dia boleh tua tapi penampilan dan ketampanannya, tidak kalah dari yang masih muda. Arsya aja kalah keren dari My Hot Daddy."
Tersungging sebuah senyuman di wajah Maria, "Itu 'kan menurut Kak Alifa aja. Coba tanya ke Lea, dia pasti bilang Om Arsya lah yang paling tampan," jawab Maria.
"Tidak, tetap My Hot Daddy yang paling keren!"
Mendengar kata 'Hot Daddy' tiba-tiba saja terlintas di pikiran Maria sosok lelaki dewasa yang sudah beberapa kali menemaninya.
"Eh, Kak Alifa. Kenapa Kakak menyukai pria dewasa, sih? Memangnya apa yang istimewa dari mereka?" tanya Maria penasaran.
"Pria dewasa itu istimewa, Maria. Mereka sudah berpengalaman dan yang pasti, mereka akan selalu memanjakanmu sebagai pasangannya," sahut Alifa.
"Benarkah?"
"Ya, coba saja kamu pacaran sama Hot Daddy, kamu akan tahu perbedaannya ketika kamu berpacaran sama anak muda seusiamu," tutur Alifa.
Maria terdiam sambil memikirkan Om Udin. Wajahnya kembali murung saat itu. Bagaimana tidak, Om Udin yang ia kenal sudah punya istri dan tiga anak. Itu artinya ia harus melupakan perasaannya terhadap lelaki tampan itu.
"Kamu kenapa, Maria?" tanya Alifa saat ia memperhatikan wajah murung Maria.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku baik-baik saja, kok."
"Ehm, ya sudah. Aku masuk dulu, ya! Aku ingin bertemu sama Mommy dan Daddy serta kedua Kakak gantengmu," ucap Alifa sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Ya, Kak. Silakan. Mereka sedang berkumpul di ruang utama."
...***...
__ADS_1