
"Wah, wah, wah! Dari mana saja kamu, Gadis Cantik Daddy? Jam segini baru pulang?" tanya Marcello sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Marcello memperhatikan Maria yang sedang memarkirkan motor kesayangannya sambil bertolak pinggang. Sedangkan yang diperhatikan, malah cengengesan. Tepat di saat itu, Marissa juga hadir disana dan berdiri di samping suaminya.
"Lihat motornya, Cha. Entah diapain lagi tu motor sampai penyok begitu."
Marissa pun ikut geleng-geleng kepala. Ya, dia sendiri mengaku bahwa dia pernah nakal. Namun, ia rasa Maria jauh lebih nakal dari dirinya ketika masih muda dulu.
"Ini gara-gara Om Udin, Dad. Dia menabrak motor Maria dari belakang sampai Maria terjengkang bersama Clara. Lihat ini, kaki Maria bahkan sampai lecet begini," tuturnya sambil memperlihatkan lututnya yang lecet.
"Udin? Siapa lagi dia, apa dia pacarmu?" tanya Marcello.
"Ish, Daddy!"
Maria meraih kartu nama milik Udin dan menyerahkannya kepada sang Daddy.
"Ini, Dad. Dia yang sudah menabrak motor Maria dan minta ganti aja sama dia," ucap Maria.
Di saat Marcello tengah memperhatikan kartu nama tersebut, Maria segera melarikan diri dari tempat itu. Jika ia terus berada di sana, bisa-bisa urusan akan semakin panjang.
"Maria! Kita belum selesai," teriak Marcello.
"Sudahlah, Daddy. Jangan marah-marah terus, nanti tekanan darahmu naik lagi," ucap Marissa sembari mengelus punggung Marcello kemudian menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu.
"Tapi, anakmu itu benar-benar--"
"Sudah," sela Marissa sambil terkekeh.
__ADS_1
Tepat di saat itu Shakila yang baru saja keluar dari kediaman orang tuanya, menghampiri Marcello dan Marissa.
"Mommy, Kak Marvel ada?"
"Shakila sayang, masuklah. Biasanya di jam-jam seperti ini Marvel berada di ruang kerjanya, coba saja cek ke sana," sahut Marissa.
"Baik, Mom. Terima kasih."
Shakila sempat membungkuk hormat kepada pasangan itu sebelum ia masuk ke dalam mansion.
"Seandainya Maria bisa lebih kalem sama seperti Shakila dan Lea, mungkin tekanan darahku tidak akan terus naik, Cha." gumam Marcello sambil memijit pelipisnya.
"Oh, ayolah, Tuan Marcelloku sayang. Jangan terus mengeluh, bukankah dia anak gadis kesayanganmu? Jadi, terima saja bagaimanapun keadaanya."
Sementara itu.
Setibanya di depan ruangan itu, Shakila segera mengetuk pintunya sambil memanggil nama Marvel.
"Tuan Muda Marvel, ini aku Shakila. Bolehkah aku masuk?"
"Masuklah, Shakila."
Suaranya terdengar pelan, tetapi tegas. Suara berat khas milik Marvel yang selalu membuat hati Shakila bergetar saat mendengarnya.
Perlahan Shakila membuka pintu ruangan itu dan matanya langsung tertuju pada sosok tampan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Shakila menghampiri meja kerja Marvel kemudian berdiri tepat di hadapan lelaki itu. "Maafkan aku karena sudah mengganggu pekerjaanmu, Tuan Muda."
__ADS_1
Marvel yang tadinya masih asik dengan beberapa berkas yang ada di hadapannya, segera menoleh ke arah Shakila sambil tersenyum tipis.
"Kenapa masih memanggiku dengan sebutan 'Tuan Muda'?"
Shakila menundukkan kepala saat lelaki itu manatapnya. Ya, ini sudah kesekian kalinya Marvel melarang Shakila menyebutnya dengan sebutan seperti itu.
"Maafkan aku, Tuan. Tetapi Daddy selalu mengingatkan kami untuk memanggil kalian seperti itu," jawab Shakila.
Marvel menghembuskan napas berat sembari melepaskan pena yang masih menempel di tangannya.
"Ya, sudahlah terserah padamu. Sekarang apa yang bisa aku bantu?"
"Ehm, begini Tuan Muda. Aku punya tugas kuliah, tapi sayangnya aku masih belum mengerti. Apa Tuan bersedia membantuku?" tanya Shakila dengan wajah penuh harap menatap Marvel.
"Tentu saja, kemarilah."
Marvel bangkit dari kursi kesayangannya kemudian menghampiri sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Ia duduk disana dan mengajak Shakila untuk ikut duduk bersamanya.
Shakila pun menurut saja. Ia duduk di samping Marvel kemudin menyerahkan sebuah buku dan laptop yang sejak tadi ia peluk kepada lelaki itu.
Ini bukan pertama kalinya untuk Shakila, tetapi sudah yang kesekian kalinya. Shakila pernah mencoba meminta bantuan kepada Melvin. Bukannya selesai, tugas-tugasnya malah semakin terbengkalai karena lelaki itu lebih memilih menggodanya daripada membantunya menyelesaikan tugas.
Shakila memperhatikan Marvel dengan seksama. Lelaki tampan nan cerdas itu membuat Shakila begitu terpesona. Namun, sayang Shakila sudah di wanti-wanti oleh Daddy Joe untuk tidak berharap lebih kepada Marvel.
"Ingat status kita, Shakila. Tuan Muda Marvel adalah majikan kita dan kita hanya sebatas pengabdi untuk keluarga mereka."
Kata-kata yang selalu diucapkan oleh Daddy Joe begitu membekas di hati dan pikiran Shakila.
__ADS_1
...***...