
"Dasar Icha, sebenarnya apa yang ada di otak anak itu?!" gumam Erika sembari menenteng lingerie pemberian sahabatnya itu.
"Hhhh, mana dia suruh nonton video begituan lagi, dasar ngeres!"
Erika mendengar suara langkah kaki dari luar kamarnya dan ia yakin itu pasti Fattan. Dengan cepat, ia sembunyikan lingerie pemberian Marissa dibalik tumpukan kado lainnya. Beberapa detik berikutnya, pintu kamarnya pun terbuka dan ternyata benar. Fattan masuk kedalam kamarnya sambil tersenyum hangat.
"Aku tidak mengganggumu 'kan, Erika?" tanya Fattan sembari melepaskan setelan jas pengantin yang masih melekat di tubuhnya.
"Ti-tidak, Pak. Eh, maksudku Mas,"
Fattan terkekeh pelan sambil melepaskan satu persatu pakaian yang sedang ia kenakan. Dengan mata membulat, Erika menatap punggung lebar itu. Ia bahkan sampai lupa dengan kado-kado yang berada di hadapannya.
Setelah melepaskan pakaiannya, Fattan bergegas menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandinya. Sedangkan Erika kembali melakukan pekerjaannya, membuka kado-kado yang ia peroleh tadi siang.
Tidak berselang lama, Fattan pun keluar dari ruangan itu dengan wajah yang jauh lebih segar. Lagi-lagi Erika terpelongo melihat ketampanan lelaki itu. Apalagi tubuh kekarnya kini terpampang jelas di matanya.
Perlahan Fattan menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya. Ia tersenyum seraya meraih tangan Erika yang terasa sangat dingin, sedingin es.
"Erika, walaupun pernikahan kita terkesan mendadak dan terpaksa, tetapi aku akan tetap berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan belajar mencintai dirimu mulai dari sekarang dan aku harap kamu pun begitu," ucap Fattan dengan wajah serius menatap Erika.
"Be-benarkah itu?" Erika benar-benar terharu mendengar penuturan Fattan.
"Ya. Dan aku harap kamu pun bersedia menerima diriku dengan segala kekurangan yang aku miliki. Mulailah belajar mencintaiku dan jadilah istri yang baik."
"Ya, ya! Aku bersedia, Mas!" sahut Erika dengan semangat menggebu-gebu menatap lelaki pujaan yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Syukurlah kalau kamu mau mengerti karena bagiku pernikahan itu adalah hal yang suci dan bukanlah permainan. Aku ingin menikah sekali dalam seumur hidupku, Erika. Aku berharap hanya ada satu orang yang bertahta dalam hatiku yaitu kamu dan akan tetap kamu sampai maut memisahkan kita," sambungnya.
"Oh, so sweeett ... aku meleleh, Mas."
Erika mulai berani menyandarkan kepalanya ke pundak mulus Fattan yang masih bertelanjang dada. Fattan terkekeh pelan kemudian bangkit setelah Erika mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Fattan menghampiri lemari pakaian dan meraih baju tidurnya.
"Oh ya, Erika. Soal itu 'tuh', aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak ingin melakukannya. Kita akan melakukannya setelah kamu siap dan ikhlas memberikannya kepadaku," ucap Fattan seraya mengenakan setelan tidurnya.
"Aku siap kok, Mas!"
Sontak Fattan menoleh. Ia menatap Erika dengan tatapan serius kemudian kembali menghampiri gadis itu.
"Kamu serius?"
"Ehm, maksudku aku siap kapan saja Mas siap melakukannya. Bahkan aku sudah mempersiapkan ini!" jawab Erika sambil memperlihatkan lingerie pemberian Marissa kepada Fattan.
"Wow!" Fattan membulatkan matanya menatap lingerie seksi peruntuh iman itu.
"Tunggulah sebentar."
Erika berlari ke kamar mandi dan mengganti setelan tidurnya dengan lingerie tersebut. Setelah lingerie itu terpasang, Erika kembali ke kamarnya dan memperlihatkan penampilan nakalnya kepada Fattan.
Erika berpose erotis sambil berpegangan di daun pintu kamar mandi. Ia juga memperlihatkan paha mulusnya kepada lelaki itu.
"Ya, Tuhan!" gumam Fattan setelah menyaksikan aksi nakal istrinya. "Jadi, kamu siap melakukannya malam ini juga?" tanya Fattan.
"Ya, tentu saja!"
(Untuk MP nya, Fattan sama Erika bayangin sendiri aja ya, pemirsahhh ... 😅😂 Pisss!!!)
Keesokan harinya.
Seperti janji Marcello kepada Marissa. Mereka akan berkunjung ke makam Melinda setelah pernikahan Fattan dan Erika.
Setelah semuanya siap, Joe segera melajukan mobilnya menuju pemakaman umum, dimana Melinda di makamkan. Setelah dua puluh menit kemudian, mereka pun tiba di depan pemakaman umum tersebut.
__ADS_1
Joe memarkirkan mobilnya ditempat yang sudah disediakan kemudian mereka pun melangkah menuju makam Melinda. Dari kejauhan, Marissa memperhatikan nampak seorang wanita berpakaian serba hitam berada di depan makam Melinda.
Wanita itu membersihkan rumput-rumput kecil yang tumbuh di pinggir makam dan menaburkan bunga di atas makam Melinda.
"Siapa wanita itu?" tanya Marissa kepada Marcello sambil menunjuk kearah makam Melinda.
Marcello menggelengkan kepalanya pelan. Ia pun tidak tahu siapa wanita itu karena posisi wanita itu membelakangi mereka.
"Daddy tidak tahu. Apa mungkin salah satu kerabat Melinda?"
"Entahlah,"
Kini mereka berdiri tepat di belakang wanita itu dan dari tempat Marissa berdiri, ia dapat mendengar isak tangis wanita itu sambil mendoakan mendiang Melinda.
Marissa semakin penasaran dengan sosok wanita itu dan tidak sabar menunggu wanita itu berbalik menghadap ke arahnya. Begitupula Marcello, ia pun tidak kalah penasaran.
Tidak berselang lama, wanita itu selesai berdoa. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian berbalik menghadap Marissa dan Marcello serta Joe.
"Kamu!!!" pekik Marissa ketika mengetahui siang yang sedang berada di depannya. Begitupula Marcello, ia pun tidak kalah terkejutnya.
"Marissa?!"
Wanita itu tersenyum seraya menghampiri Marissa dan ingin meraih tangan gadis itu, tetapi Marissa menolaknya. Wanita itu agak kecewa ketika Marissa menolaknya. Namun, ia terus mencoba melemparkan senyuman kepada orang-orang yang sedang berdiri di hadapannya, termasuk Marissa.
"Kebetulan sekali ya, kita bertemu lagi disini," ucap Bella kepada Marcello.
"Apa? Lagi?" pekik Marissa.
Marissa memperhatikan wajah Marcello dengan serius dan lelaki itu hanya bisa tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
...***...
__ADS_1