
"Hhh, aku kesal! Aku harus kasih tau Daddy bagaimana kelakuan Tuan Aidan terhadapku!" gerutu Maria sambil mengepalkan tangannya.
"Itulah sebabnya aku tidak ingin kamu menikah dengannya, Nona Maria," batin Dylan sambil tersenyum melihat ekspresi kesal gadis itu.
"Dimana motor Kittymu, Nona?" tanya Dylan yang baru saja teringat akan motor kesayangan gadis itu.
"Nah 'kan! Motorku tadi ditinggal begitu saja di pinggir jalan dan kuncinya masih bersama Tuan Aidan," jawab Maria.
"Hmmm," gumam Dylan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Dylan pun tiba di depan gerbang mansion milik Tuan Marcello.
"Aku akan mengantarkanmu sampai ke dalam," ucap Dylan sembari mengembangkan senyumannya.
"Benarkah?!" pekik Maria.
"Ya!"
"Oh, aku senang sekali!"
Setelah pintu gerbang terbuka, Dylan pun kembali melajukan mobilnya memasuki halaman mansion tersebut untuk pertama kalinya.
Marissa memperhatikan mobil asing yang baru saja memasuki halaman mansion dari balik tirai jendela. Ia menautkan alisnya sambil bergumam.
"Mobil siapa itu?"
Tanpa pikir panjang, Marissa segera menuju halaman depan dan berniat mencari tahu siapa pemilik mobil mewah tersebut. Mobil mewah berwarna hitam pekat itu berhenti tepat di hadapannya dan tidak berselang lama, keluarlah seorang gadis cantik dengan seorang lelaki tampan bertubuh besar dengan otot menonjol-nonjol.
Marissa membulatkan mata sambil tersenyum manis menyambut kedatangan Maria dan Dylan yang berjalan mendekatinya.
"Maria?!" Marissa memperhatikan Maria dan Dylan secara bergantian.
"Mommy, kenalkan ini Om Udin. Om Udin, kenalkan ini Mommy Marissa, Mommy-nya Maria."
__ADS_1
Dylan mengulurkan tangannya kepada Marissa yang masih terpesona dengan ketampanan lelaki itu.
"Pantas saja Maria selalu menyebut namamu, Tuan Udin. Ternyata kamu jauh lebih tampan dari fotomu," ucap Marissa sembari menyambut uluran tangan Dylan.
"Ah Nyonya Marissa, Anda bisa saja."
"Sudahlah, Mommy. Tersenyumnya biasa aja, nanti kalau Daddy lihat takutnya tekanan darah Daddy kumat karena cemburu melihat Mommy tersenyum seperti itu kepada Om Udin," ucap Maria karena Sang Mommy terus tersenyum manis sambil menatap wajah tampan Dylan.
"Tenang saja, Daddy sedang bertapa di dalam kamar mandi dan dia tidak mungkin segera keluar dari ruangan itu."
"Ih, Mommy!"
"Mari Tuan Udin, silahkan masuk," ajak Marissa sembari mempersilakan lelaki itu untuk ikut dengannya masuk ke mansion mewah milik Tuan Marcello.
"Ehm ... maafkan saya, Nyonya Marissa. Sepertinya saya harus segera kembali karena pekerjaan saya masih menunggu dan saya tidak bisa berlama-lama berada disini," tolak Dylan dengan lembut.
"Ehm, begitu ya?"
"Oh, baiklah kalau begitu. Tapi, lain kali janji main-main kesini, ya!"
"Ya, tentu saja, Nyonya Marissa."
Dylan pun pamit dan segera kembali ke kantornya.
"Maria, apa kamu yakin Udin itu seorang sopir?" tanya Marissa sembari merengkuh pundak Maria dan berjalan bersama anak gadisnya itu memasuki mansion.
"Memangnya kenapa, Mom? Maria percaya kok, Om Udin itu seorang sopir."
"Bagaimana Mommy bisa percaya, penampilannya aja seperti Boss-Boss begitu," sahut Marissa.
"Itu karena Bossnya Om Udin itu tidak pelit. Tuan Dylan begitu memperhatikan Om Udin bahkan pakaiannya saja di belikan oleh Tuan Dylan."
Marissa menatap wajah Maria dengan heran. "Memang ada Boss yang seperti itu?"
__ADS_1
"Ya, ada lah, Mom. Om Udin buktinya," jawab Maria.
Ketika Maria dan Marissa melewati ruang utama, mereka berpapasan dengan Tuan Marcello yang baru saja selesai melakukan ritual mandinya. Lelaki itu terlihat lebih segar. Marcello menatap heran kepada Maria kemudian melirik jam tangan mewahnya dengan alis mengkerut.
"Kamu tidak masuk sekolah lagi, Gadis Daddy?" tanya Marcello dengan wajah serius menatap Maria.
"Ini semua gara-gara Tuan Aidan, Daddy. Dia tetap memaksaku jalan bersamanya walaupun dia sudah tahu bahwa Maria harus segera ke sekolah."
"Benarkah?" tanya Marcello penuh selidik.
"Serius, Dad! Kunci motor Maria saja masih bersama dia. Mau tau yang lebih menjengkelkan lagi?"
Maria mengajak Mommy dan Daddynya menuju sofa dan mengajak pasangan itu untuk duduk disana. Setelah Marissa dan Marcello duduk, Maria segera meraih dress seksi yang dibeli oleh Aidan untuknya dari dalam ransel.
"Coba Daddy lihat! Masa Maria di paksa mengenakan pakaian seperti ini? Memangnya Maria cewek apaan coba?"
Maria menggelar dress ketat dan seksi itu ke atas meja yang ada di hadapan Marissa dan Marcello. Pasangan itu membulatkan matanya saat menatap dress seksi tersebut.
"Benarkah? Aidan melakukan ini padamu?"
"Ya! Pokoknya Maria minta batalkan acara pertunangan Maria dengan Tuan Aidan. Belum jadi suami Maria aja, Tuan Aidan sudah berani mengatur hidup Maria sampai sedetail itu apalagi kalau sudah jadi suami Maria?!" kesalnya sambil menyilangkan tangan ke dada.
"Daddy harus membicarakan masalah ini kepada Aidan dan Tuan Alfonso. Seenaknya saja dia memperlakukan anak gadisku seperti ini! Memangnya siapa dia!" gerutu Marcello dengan wajah kesal.
"Ya, Dad! Harus," sambung Maria yang juga sangat kesal.
"Lalu itu, si Udin-mu kapan mau melamarmu? Jangan bilang dia mengundurkan diri, ya!" ucap Marcello lagi.
"Kata Om Udin, tunggu satu dua hari lagi. Dia pasti akan berkunjung kesini untuk melamar Maria."
"Baguslah kalau begitu."
...***...
__ADS_1