Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 142


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan gadis kecil itu, jantungku selalu tak terkontrol!" batin Joe.


Joe menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


"Tuan?" lirih Sofia.


"Ya, kenapa?"


"Tuan, saat ini kami mendapatkan musibah. Rumahku roboh akibat hujan lebat dan angin kencang yang terjadi tadi malam. Sekarang kami tidak tahu harus bagaimana, Tuan Joe," lirih Sofia sambil terisak.


Joe mendengarkan penuturan Sofia dengan seksama dan ia yakin, Sofia benar-benar dalam masalah. Apalagi ketika Joe mendengar suara isak tangis gadis itu.


"Tunggulah sebentar, aku akan segera ke sana," ucap Joe sembari memutuskan panggilan Sofia.


Sofia menautkan kedua alisnya sambil menyeka air matanya ketika Joe memutuskan panggilannya.


"Tuan Joe aneh. Aku belum selesai bicara, dia sudah main putus saja," gumam Sofia, sebelum ia menyerahkan ponsel itu kembali kepada sang empunya.


"Terima kasih, Bu."


"Sama-sama, Sofia," jawab sang pemilik ponsel.


Bu Sri segera menghampiri Sofia dengan wajah penuh harap. "Bagaimana, Nak? Apa Bossmu bersedia menolong kita?"


Wajah Sofia sendu. Ia bahkan belum sempat berucap meminta bantuan pada Tuan Joe. Namun, pria dingin itu sudah memutus panggilannya begitu saja.


Sofia menghembuskan napas berat sembari berucap, "Semoga saja, Bu. Semoga Tuan Joe bersedia membantu kita," lirih Sofia.

__ADS_1


Pagi itu Sofia dan Ibunya mendapatkan bantuan dari tetangga-tetangganya. Ada yang memberinya pakaian bekas, makanan, minuman, dan juga sejumlah uang. Walaupun tidak banyak, tetapi Sofia dan Bu Sri tetap bersyukur.


Sementara itu di mansion.


Joe panik sendiri setelah mengetahui bahwa Sofia sedang dalam masalah. Sebenarnya Joe bisa saja membelikan gadis itu rumah baru, tetapi semua orang pasti akan bertanya-tanya padanya. Apa hubungannya dengan gadis itu, hingga ia rela berkorban banyak untuk Sofia.


"Memalukan!" gumam Joe.


Joe terus berpikir keras hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui Tuan Marcello selaku pemilik mansion. Setelah berpakaian lengkap, Joe segera melangkah menyelusuri mansion dan mencari keberadaan Big Bossnya tersebut.


Sembari melangkah, Joe melirik jam tangan mahalnya dan ia tahu dimana Tuan Marcello berada sekarang ini.


"Ruang makan," gumamnya.


Apa yang ada di pikiran Joe benar, saat itu Tuan Marcello sedang sarapan pagi bersama sang Istri di ruang makan. Joe memilih untuk duduk di ruang utama dan menunggu sang majikan selesai melakukan ritual pagi mereka.


"Tuan Marcello, bolehkah saya meminta waktu Anda sebentar? Ada yang ingin saya tanyakan kepada Anda," ucap Joe.


"Kita bicara di sini saja, katakanlah Joe."


Joe nampak ragu menceritakan keinginannya kepada Marcello. Karena saat itu Marissa masih berdiri di samping suaminya.


"Sebenarnya--" Joe kembali melirik Marissa. Sedangkan wanita muda itu membalas tatapan Joe sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Tuan Marcello, tadi malam salah satu pelayan Anda mengalami kejadian naas. Rumahnya roboh akibat hujan deras dan angin kencang yang terjadi tadi malam," ucap Joe.


"Pelayanku? Siapa?" tanya Marcello bingung.

__ADS_1


"Sofia, Pelayan baru di mansion ini."


"Apa! Sofia?!" pekik Marissa sambil membulatkan matanya. "la-lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Marissa panik.


"Dia baik-baik saja, Nona. Hanya saja dia dan Ibunya kehilangan tempat tinggal mereka," jawab Joe.


"Daddy, kita jenguk dia! Dia pasti sangat membutuhkan bantuan kita," ajak Marissa kepada suaminya.


"Tapi hari ini aku ada meeting, Cha. Biarkan Joe saja yang mengatur semuanya."


"Tidak, tidak! Aku tidak mau. Ayolah Dad! Pliss," rengek Marissa.


Akhirnya Marcello pun mengalah dan menuruti keinginan sang Istri. Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya mereka tiba di tempat Sofia.


Dari kejauhan, Joe menatap Sofia yang sedang berdiri di depan puing-puing rumahnya. Gadis itu terlihat sangat sedih. Wajahnya murung dan matanya pun masih sembab.


Setelah memarkirkan mobilnya, Joe segera membukakan pintu mobil untuk Marcello dan Marissa. Kedatangan pasangan itu membuat kampung Sofia heboh. Mereka berkerumun di tempat itu hanya untuk melihat Boss pemilik mansion, tempat Sofia bekerja.


Marcello dan Marissa terpelongo ketika menyaksikan sisa-sisa puing bangunan rumah Sofia. Sementara pasangan fenomenal itu mengajak Bu Sri berbincang, Joe menghampiri Sofia dan mengajak gadis itu bicara.


"Kamu baik-baik saja, Sofia?" tanya Joe sambil memperhatikan wajah sedih gadis itu.


"Begitu banyak kenangan di gubuk-ku ini, Tuan Joe. Kenangan masa kecilku, kenangan terpahit, termanis, semuanya terjadi di gubuk reot ini. Dan sekarang, gubuk ini rata dengan tanah dan menghilang bersama kenangannya."


"Oh, ya!" Sofia berbalik dan menatap wajah dingin Joe saat itu. "Terima kasih sudah bersedia membantu saya, Tuan Joe. Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya,"


...***...

__ADS_1


__ADS_2