Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 290


__ADS_3

Setelah acara mengharu biru itu berakhir, Tuan Marcello mengutarakan keinginannya kepada Sarrah. Mewakili Marvel dan Melvin melamar Shakila dan Aira untuk menjadi istri mereka.


"Kami sudah membicarakan masalah ini kepada Ayah dan Ibu angkat mereka dan mereka menyetujuinya. Dan hari ini, aku ingin menanyakan hal yang sama karena disini kamu adalah Ibu kandung dari kedua gadis ini," ucap Marcello dengan wajah penuh harap menatap Sarrah.


Sarrah pun tersenyum kemudian merangkul kedua gadis yang sedang duduk di samping kiri dan kanannya. "Bagaimana, Nak?"


Shakila dan Aira tersenyum sambil menganggukkan kepala mereka. Sarrah pun kembali menatap Tuan Marcello dan Marissa yang kini duduk di hadapannya.


"Kamu dengar sendiri 'kan, Tuan Marcello. Mereka menerimanya. Dan aku sebagai Ibunya hanya bisa mendoakan yang terbaik buat mereka."


Marcello dan Marissa saling melempar senyum. "Syukurlah, akhirnya semuanya beres dan aku pun lega sekarang," ucap Marcello.


Tak terasa sore pun menjelang, Tuan Marcello beserta rombongannya berpamitan kepada Dylan dan Sarrah sebelum mereka kembali ke mansion. Sedangkan Shakila dan Aira memutuskan menginap di kediaman Dylan.


"Maria nginap juga ya, Dad!" pinta Maria sambil memelas kepada sang Daddy. "Maria janji bisa jaga diri, kok. Lagipula disana 'kan ada Kak Shakila sama Kak Aira juga," lanjut gadis itu.


Dylan hanya bisa tersenyum kecut sambil mengelus tengkuknya saat menyaksikan Nona Kitty-nya merengek kepada Tuan Marcello.


"Tidak!" ketus Marcello sembari menarik tangannya menuju mobil mereka. "Shakila dan Aira menginap disini karena mereka ingin berkumpul bersama Ibu mereka. Lah, kamu? Ngapain kamu mau menginap disini?" gerutu lelaki tua itu sambil mendorong pelan tubuh putrinya masuk ke dalam mobil.


"Kan ada Om Dylan disana," jawab Maria sambil tersenyum konyol.


Pletak!


"Aw!" pekik Maria karena satu sentilan mendarat sempurna di keningnya walaupun sebenarnya tidak sakit. Ia mengelus keningnya sambil memasang wajah masam. Sedangkan sang Daddy tidak peduli dengan ekspresinya saat itu.

__ADS_1


Akhirnya mobil-mobil mewah yang tadinya terparkir rapi di halaman depan kediaman Dylan, melaju meninggalkan tempat itu.


Sepeninggal keluarga Tuan Marcello, Dylan duduk sendirian di ruang kerjanya sambil menatap laptop yang masih menyala tepat di hadapannya. Sementara Sarrah dan kedua anak gadisnya sedang asik berbincang-bincang di dalam kamar mereka.


"Tuan Damian Kenneth," gumamnya sambil mengetik nama tersebut di pencarian.


Tidak butuh waktu lama keluarlah foto serta setumpuk berita tentang lelaki itu. Dengan wajah serius, Dylan menatap foto lelaki itu satu-persatu. Setelah puas memperhatikan foto Tuan Damian, kini ia mulai membaca berita-berita tentang lelaki itu.


Dylan menggelengkan kepala setelah tahu bahwa lelaki itu sering terlibat skandal dengan para artis yang pernah bekerjasama dengannya. Dylan menghembuskan napas panjang kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kesayangannya.


"Semoga sifat buruk Tuan Damian tidak menurun kepada siapapun. Kelakuan lelaki itu benar-benar menjijikkan!" gumam Dylan.


Keesokan harinya.


"Hari ini aku ingin pergi sebentar. Kalian tetaplah disini dan temani Ibu kalian," ucap Dylan kepada Shakila dan Aira yang masih menikmati sarapan mereka. Ini pertama kalinya bagi Dylan, sarapan bersama Kakak dan kedua keponakannya itu.


Sarrah menautkan kedua alisnya sambil memperhatikan wajah Dylan dengan seksama. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Dylan saat itu.


"Sebenarnya kamu mau kemana, Dylan?" tanya Sarrah penuh selidik.


"Ke suatu tempat, Kak. Ada sesuatu yang sangat penting, yang harus aku kerjakan."


Setelah menyelesaikan sarapannya, Dylan pun bergegas menuju mobil setelah berpamitan kepada Sarrah dan kedua keponakannya. Sarrah terus memperhatikan Dylan yang kini masuk ke dalam mobil bahkan hingga lelaki itu memacu benda tersebut keluar dari halaman rumahnya.


"Kenapa, Mom?" tanya Aira kepada Sarrah yang masih mematung di tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Entah mengapa Mommy rasa ada sesuatu yang tidak beres pada Om kalian. Tapi semoga dia baik-baik saja," sahut Sarrah.


Sementara itu.


Karena ujian akhir sekolah sudah selesai dan tinggal menunggu hasilnya, Maria memilih mengunjungi Dylan daripada menghabiskan waktu bersama teman-teman di sekolahnya.


Ia melajukan motor kesayangannya menuju kediaman Dylan dan berharap lelaki itu belum berangkat bekerja.


Disaat Dylan memacu mobilnya keluar dari halaman rumahnya, ia tidak menyadari bahwa saat itu Maria baru saja tiba disana. Beruntung gadis itu melihatnya dan segera mengikuti mobil Dylan dari belakang.


"Itu Om Dylan, 'kan? Mau kemana dia pagi-pagi begini?" gumam Maria sambil terus memperhatikan mobil berwarna hitam yang terus melaju jauh di depannya.


Beberapa kali Maria menekan klakson, berharap Dylan mendengar dan menghentikan laju mobilnya. Namun, lelaki itu tidak juga berhenti. Malah sebaliknya, Dylan semakin memacu kecepatan mobilnya.


"Aduh! Om ini kenapa, sih?" gurutu Maria karena kesusahan mengejar mobil lelaki itu.


Setelah beberapa saat, Dylan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah mewah. Maria sempat kehilangan jejak Dylan, tetapi gadis itu tidak menyerah dan terus mencari keberadaan lelaki itu.


Seorang penjaga keamanan di tempat itu menghampiri Dylan yang sedang berdiri di depan pintu gerbang. "Cari siapa?" ucap lelaki itu dengan nada ketus.


Wajah Dylan terlihat memerah dan tangannya pun kini mengepal dengan sempurna.


"Sang pemilik rumah!"


Bughkkk!

__ADS_1


...***...


__ADS_2