Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 288


__ADS_3

"Dad! Jangan bilang si kembar Shakila dan Aira adalah anaknya Nona Sarrah, ya!" pekik Marissa dengan setengah berbisik di samping Marcello. Matanya membesar saat menatap lelaki itu.


"Ya, Cha. Shakila dan Aira adalah anak kandung Sarrah. Dan yang jadi pertanyaannya sekarang, siapa Ayah mereka dan kenapa mereka bisa terpisah?" tutur Marcello.


Ternyata percakapan pasangan itu juga di dengar oleh Dylan. Ia kembali shok setelah mendengar bahwa ternyata sang Kakak sudah punya anak.


"Ja-jadi, selama ini Kakakku sudah punya anak?" tanya Dylan.


Disaat Tuan Marcello, Marissa dan Dylan masih kebingungan, Sarrah membuka mata kemudian menatap ke sekelilingnya. Tatapan wanita itu terhenti pada pasangan Marcello dan Marissa.


Sarrah bangkit dari tempat tidur kemudian menghampiri Dylan yang berdiri tepat di hadapan Marcello dan Marissa.


"Kalian? Sedang apa kalian disini?" ucap Sarrah dengan nada tegas.


Baru saja Marcello ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan wanita itu, tiba-tiba saja Dylan menyela.


"Kak, mereka adalah orang tua dari Maria, tunanganku," sahut Dylan.


Sontak saja Sarrah menoleh kepada sang adik dan menatapnya dengan tatapan heran. "Kenapa kamu tidak pernah ceritakan hal itu kepada Kakak?"

__ADS_1


"Karena aku tahu, dulu Kakak dan Tuan Marcello pernah memiliki hubungan yang spesial dan aku takut Kakak tidak akan memberikan restu kepadaku," sahutnya.


Maria yang sedang duduk sambil memijit pelipisnya, segera bangkit kemudian menghampiri Marcello. Ia berdiri di samping lelaki itu dan menatapnya dengan mata membulat.


"Jadi ... Daddy pernah pacaran sama Kakaknya Om Dylan?" pekik Maria


Marissa memutarkan kedua bola matanya. "Hush! Sudahlah kamu masih kecil, jangan suka ikut campur sama urusan orang tua!" kesal Marissa sambil menarik anak gadisnya itu ke samping tubuhnya. "Sudah, diam saja!" lanjut Marissa dengan mata membulat.


"Baiklah."


Maria menekuk wajahnya sambil menutup rapat mulutnya. Namun, ia tetap memasang telinganya dengan baik dan mendengarkan pembicaraan ketiga orang itu.


Sarrah yang masih terkejut dengan kedatangan tamu yang tak diundang itu kembali menjatuhkan diri ke tepian tempat tidurnya. Ia kembali mengusap kasar wajahnya yang memucat.


"Maafkan saya, Tuan Marcello, dulu saya sempat berpikir bahwa semua ini karena kesalahan Anda. Karena setahu saya, orang yanh terakhir kali berhubungan dengan Kak Sarrah adalah Anda," lirih Dylan dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Bukan, Dylan. Hubungan kami memang berakhir dengan kurang baik, tetapi Tuan Marcello tidak pernah berbuat macam-macam padaku," sahut Sarrah.


Dylan berjalan menghampiri Sarrah kemudian duduk di samping wanita itu. Ia memperhatikan ekspresi Sarrah dengan seksama dan berharap Kakaknya itu tidak sedang meracau.

__ADS_1


"Kakak sudah ingat semuanya, Dylan. Kakak sudah ingat!" ucap Sarrah sembari meraih kedua tangan Dylan dan menggenggamnya dengan erat.


"Benarkah? Kakak yakin?" Dylan masih ragu dan takutnya wanita itu hanya mengada-ada saja.


"Ya! Kakak sangat yakin!" sahutnya mantap.


Sarrah melepaskan tangan Dylan kemudian mulai mengingat-ngingat kisah masa lalunya. Kejadian-kejadian menyakitkan itu kembali terlintas di pikirannya. Wajahnya terlihat sedih dan membuat Dylan tidak tega melihatnya. Ia memeluk wanita itu dan mencoba menenangkannya.


"Sudahlah, Kak. Sebaiknya Kakak istirahat saja," ucap Dylan.


"Tidak, Dylan. Kakak harus menceritakannya, agar kamu tahu betapa jahatnya perlakuan lelaki itu kepada Kakak!" sahut Sarrah dengan mata berkaca-kaca.


Dylan menghembuskan napas dalam kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, ceritakan semuanya."


"Dulu setelah hubunganku dan Tuan Marcello bubar dan ia memilih menikahi Marissa, Aku memilih kembali berhubungan dengan lelaki itu. Seorang Produser yang pernah dekat denganku sebelumnya. Namanya Tuan Damian Kenneth, seorang produser yang sudah terkenal di kancah dunia perfilman. Namun, hubunganku dengannya lagi-lagi tidak berjalan mulus. Aku hamil dan lelaki itu tidak mau bertanggung jawab. Aku meminta pertanggung jawaban tetapi dia tetap kekeh dan tidak ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya kepadaku. Hingga suatu hari aku mencoba mengancam lelaki itu dengan sebuah video. Aku bilang padanya bahwa aku akan menyebarkan video tersebut jika ia tidak juga bertanggung jawab. Lelaki itu benar-benar mara, dia menyekap dan mengurungku di sebuah tempat yang sampai sekarang akupun tidak tahu dimana tepatnya. Lelaki itu memperlakukanku dengan sangat buruk. Setiap hari aku dilecehkan dan diperlakukan seperti seorang budak. Dia bahkan tidak segan-segan memukul dan menyakitiku. Entah berapa lama aku terkurung di tempat terkutuk itu hingga akhirnya aku melahirkan bayi kembar berjenis kelamin perempuan. Mereka sangat cantik, aku berharap dengan lahirnya mereka, Tuan Damian akan iba kepada kami dan bersedia bertanggung jawab. Saat itu aku sudah tidak peduli walaupun aku harus menjadi istri simpanan, yang penting aku dan kedua bayiku di akui. Ternyata aku salah! Lelaki itu memang tidak memiliki hati nurani sama sekali! Bukannya iba, ia malah semakin tega. Ia merebut kedua bayi kembarku kemudian membawanya pergi. Setelah kejadian itu aku benar-benar kehilangan akal sehatku. Setiap hari aku meracau dan akhirnya aku benar-benar tidak ingat semuanya."


Sarrah terisak dalam pelukan Dylan. Rasa sakit itu kembali menyeruak di dalam dadanya.


"Aku akan menemui lelaki itu! Dia harus mempertanggung jawabkan semua kesalahannya!" geram Dylan dengan wajah memerah.

__ADS_1


Marcello dan Marissa pun tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Sarrah akan mengalami hal seburuk itu.


...***...


__ADS_2