
Dylan duduk di kursi kesayangannya sambil memperhatikan plester luka bermotif bunga-bunga yang masih melekat di lengan kanannya. Saat itu tangan kemeja yang ia kenakan sengaja ia gulung agar plester luka tersebut terlihat dengan jelas.
Ekspresi wajah Dylan saat itu sangat sulit dijelaskan. Ada perasaan bahagia, bimbang dan sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
"Ya, Tuhan! Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Kalau benar, itu artinya aku dalam masalah besar. Masa iya aku harus jatuh cinta pada bocah ingusan seperti dia? Apa-apa serba Hello Kitty. Jangan-jangan setelah aku hadir dalam hidupnya, aku pun akan disulapnya menjadi Dylan Kitty."
Dylan memijit pelipisnya sambil bergumam ria. Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk oleh seseorang dari luar. Dylan terkejut dan segera menyembunyikan plester yang menutupi lukanya. Lengan kemeja yang tadinya menggulung, kini ia ulur dan akhirnya menutupi plester itu dengan sempurna.
"Siapa?"
"Ini saya Mac, Tuan Dylan."
"Masuklah, Mac. Pintunya tidak dikunci," titah Dylan yang kemudian pura-pura sibuk dengan beberapa berkas yang masih tersusun di atas mejanya.
Perlahan Mac mendorong pintu ruangan itu kemudian berjalan menghampiri meja kerja Dylan. Tadi pagi Dylan memang sengaja memanggil Mac ke rumahnya. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan lelaki itu.
"Ada apa, Tuan?"
"Begini, Mac. Aku sudah memikirkan semua saranmu kemarin soal Kakakku. Dan hari ini aku memerintahkanmu untuk menjemputnya. Seperti yang kamu katakan, sebaiknya Kakakku dirawat di sini saja. Akan lebih mudah buatku menjaga dan memantau kesehatannya walaupun resikonya juga lebih besar. Semoga saja kejadian dulu tidak terulang lagi," tutur Dylan dengan wajah sendu menatap Mac.
Mac menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Baik, Tuan. Hari ini saya akan segera menjemput Kakak Anda."
Dylan pun berbincang-bincang bersama Mac di ruangan itu untuk membahas tentang perusahaan dan lainnya.
Sementara itu di kediaman mewah Tuan Marcello.
__ADS_1
Sementara semua orang masih berkumpul dan bersenang-senang di dalam mansionnya. Maria masih duduk di luar dengan wajah cemberut. Entah mengapa hari ini mood Maria benar-benar sedang tidak baik.
Maria meraih ponselnya kemudian membuka daftar kontak. Ia menatap sebuah kontak ya bertuliskan nama 'Om Udin' di layar ponsel berwarna pink dengan kombinasi putih tersebut dengan seksama.
"Hubungi, tidak, ya?"
Maria nampak menimbang-nimbang dan wajahnya terlihat ragu.
"Aduh, kenapa Om Udin bikin aku jadi begini, ya? Tiba-tiba saja aku ingin bertemu dengannya tanpa alasan yang jelas," gumam Maria.
"Hubungi, tidak, hubungi, tidak? Ah, masa bodo! Hubungi saja," ucapnya sembari menekan tanda panggil di layar ponselnya.
Pak Udin yang sedang asik membersihkan mobil mewah milik Dylan, tiba-tiba dikejutkan dengan nada dering suara pekikan Nyai Kunti dari ponselnya. Pak Udin terperanjat dan lap yang ada di tangannya hampir saja terjatuh.
Dengan tergesa-gesa, Pak Udin menuju ruangan pribadi Dylan sambil menenteng ponsel yang terus mengeluarkan suara pekikan Nyai Kunti tersebut. Setibanya disana, Pak Udin segera meminta izin kepada Dylan untuk masuk ke ruangan tersebut.
"Tuan, ini ada panggilan dari Nona Maria."
"Masuklah," titah Dylan.
Pak Udin pun segera masuk kedalam ruangan itu. Dylan dan Mac membulatkan mata mereka setelah mendengar nada dering ponsel milik Pak Udin, sedangkan Pak Udin sendiri nampak tidak peduli dengan reaksi kedua lelaki itu. Ia terus melangkahkan kakinya menghampiri meja Dylan.
"Ini, Tuan. Panggilan dari Nona Maria," ucap Pak Udin seraya menyerahkan ponsel tersebut ke tangan Dylan.
Dylan meraih ponsel tersebut sambil bertanya pada Pak Udin dengan ekspresi wajah heran.
__ADS_1
"Pak Udin, kenapa nada deringmu terdengar mengerikan seperti ini?"
"Maaf, Tuan. Menurut saya suara ocehan Nona Maria hampir sama seperti suara pekikan Nyai Kunti ini. Sama-sama terdengar menakutkan dan memekakkan telinga."
Mac hampir saja tidak sanggup menahan tawanya. Mungkin ia merasa apa yang dikatakan oleh Pak Udin tersebut adalah benar.
Dylan memijit pelipisnya. Sama seperti Mac, Dylan pun merasa apa yang dikatakan oleh Pak Udin adalah benar. Suara pekikan Nyai Kunti dan Omelan Maria hampir 11-12.
Dylan segera menerima panggilan itu kemudian mendengarkan ocehan gadis itu.
"Om Udin, ini kamu 'kan?"
"Ya, ini aku."
Maria mengelus dadanya sambil tersenyum lega. "Kenapa sih, Om? Setiap kali aku menghubungimu, kamu selalu ogah-ogahan menerimanya."
"Bukan begitu, Nona. Saya sedang banyak pekerjaan saat ini."
"Di weekend begini?" pekik Maria sambil membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ya, aku hanya seorang sopir, Nona. Hari liburku ditentukan oleh Tuan Dylan. Bukan oleh kalender maupun weekend," jawab Dylan.
Mac dan Pak Udin sempat saling tatap sambil tertawa pelan setelah mendengar jawaban dari Dylan.
...***...
__ADS_1