
"Oh, Tuhan, apa-apaan ini?!" Marcello mengusap wajahnya kasar. "Ternyata Ayah kandung Marissa adalah sahabatku sendiri?!" gumamnya.
"Apa Riyadh sudah tahu bahwa Marissa adalah putrinya?" tanya Marcello.
Dian menggelengkan kepalanya dengan kepala masih tertunduk. "Aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya, Tuan Marcello. Aku khawatir ada yang berniat jahat padanya. Aku tidak ingin mereka menyakiti Marissa," tutur Dian.
"Mereka siapa? Kamu tidak perlu takut pada siapapun, Dian. Selama aku masih hidup, tidak akan ada yang berani menyakiti kalian, apalagi sampai menyentuh Icha-ku," ucap Marcello dengan wajah serius menatap Dian.
"Nyonya Ismika Hanif dan orang suruhannya! Anda tidak tahu bagaimana malam itu mereka memperlakukan aku, Tuan Marcello. Mereka menyeretku bagai hewan ternak, belum lagi saat mereka berusaha melenyapkan aku dan juga bayi dalam kandunganku. Mereka kejam dan sadis!"
Tubuh Dian kembali bergetar, ia merasakan sakit yang amat sangat di hatinya saat mengingat kisah kelamnya.
"Aku tidak menyangka dibalik wajah tenangnya, ternyata Nyonya Ismika bisa melakukan hal kejam seperti itu,"
"Dia melakukan hal itu karena ia takut kehadiranku dan Marissa dapat merusak hubungannya dengan Tuan Riyadh. Dia tidak ingin harta kekayaan milik Tuan Riyadh terbagi karena kehadiran bayiku. Itulah sebabnya kenapa aku memilih bungkam. Biarlah dia ambil semuanya, karena aku tak butuh itu, asalkan mereka tidak menyakiti Marissaku."
Tepat disaat itu, ada pergerakan dari atas tempat tidur. Marissa mulai tersadar, ia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memegang kepalanya yang masih terasa berat.
"Ya Tuhan, kepalaku!" rintihnya.
"Syukurlah, Nak. Akhirnya kamu sadar juga," ucap Dian sambil membelai puncak kepala Marissa.
"Dimana Daddy?"
"Aku disini, Cha."
Marcello yang tadinya duduk di sofa, segera menghampiri Marissa dan kini ia duduk di samping wanita itu.
"Bagaimana kepalamu, masih sakit?" tanya Marcello.
__ADS_1
"Yah, Dad. Kepalaku masih terasa berat," sahutnya.
Tok ... tok ... tok ...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Marcello, yang kemudian disusul oleh suara berat salah seorang Bodyguard.
"Tuan, Dokternya sudah tiba,"
"Oh ya, silakan masuk. Pintunya tidak dikunci," jawab Marcello.
Marissa mendongakkan kepala dan menatap Tuan Marcello yang masih berada di sampingnya. "Dokter? Kenapa harus memanggil Dokter segala, Dad? Marissa 'kan baik-baik saja?"
"Untuk memastikan sesatu," jawab Marcello dengan wajah semringah.
"Memastikan sesuatu?!" gumam Marissa.
Setelah Dokter cantik itu masuk kedalam kamar Marcello, ia pun segera menghampiri Marissa dan mulai memeriksanya.
"Ya silakan, Dok."
Sambil memeriksa kondisi Marissa saat itu, Ia juga menanyakan hal-hal tentang tamu bulanannya. Marissa sempat kebingungan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Dokter Nisa, tetapi ia terus menjawabnya dengan serius.
Setelah melewati serangkaian pertanyaan dan juga pemeriksaan yang mendetail, akhirnya Dokter Nisa pun tersenyum lega.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Marcello yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui hasilnya.
"Selamat ya, Tuan Marcello. Istri Anda positif hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke empat,"
"Apa, hamil?" pekik Marissa dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
"Ya, Cha! Kita akan segera menjadi Mommy dan Daddy!" jawab Marcello sembari memeluk tubuh Marissa dan menciumi puncak kepalanya berkali-kali.
Marissa masih tidak percaya bahwa dirinya sedang mengandung generasi penerus Tuan Marcello. Bibirnya terasa kelu dan tidak bisa mengucap apapun.
"Marissa, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Dian yang mulai khawatir karena anak perempuannya itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bahagia diwajah cantiknya.
"Marissa tidak apa-apa, Bu. Hanya saja, Marissa masih tidak percaya bahwa Marissa sedang mengandung dan akan menjadi seorang Ibu, aaakhh!!!" jerit Marissa tiba-tiba sembari memeluk tubuh Marcello yang masih berada di sampingnya.
Dian mengehela napas lega. Akhirnya Marissa menampakan kebahagiaannya.
"Iya, Cha. Mansion kita akan semakin ramai dengan suara jerit tangis dan teriakan bayi kita," ucap Marcello dengan sangat antusias.
Bukan hanya mereka yang berbahagia, Dokter Nisa pun turut berbahagia. Setelah selesai melakukan tugasnya, Dokter Nisa pun segera pamit dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Tidak berselang lama, Joe tiba dan bergegas menghampiri Marcello.
"Tuan, diluar ada Tuan Riyadh yang sedang menunggu Anda. Ada yang ingin ia bicarakan bersama Anda dan Dian," ucap Joe dengan setelah berbisik kepada Marcello.
Marcello menganggukkan kepalanya. "Baiklah, suruh dia menunggu di ruangku sebentar lagi," jawabnya.
Marissa terus memperhatikan gerak-gerik mencurigakan kedua lelaki itu. Ia curiga, ada sesuatu yang sedang mereka tutup-tutupi dari dirinya.
"Kalian kenapa, sih? Jangan coba-coba merusak mood'ku, ya! Karena aku sedang berbahagia sekarang," ancam Marissa dengan wajah menekuk menatap keduanya.
"Sebenarnya ini tentang dirimu, Cha. Apakah kamu sudah siap mengetahui siapa Ayah kandungmu?" tanya Marcello, dengan tatapan serius menatap istrinya itu.
Ekspresi wajah Marissa berubah seketika. Yang semula wajahnya terlihat menekuk karena kesal, sekarang berubah menjadi sendu.
"Apa lelaki itu sudah berada disini?" tanya Marissa.
__ADS_1
"Ya, Cha. Dia sedang menunggu kedatangan kita di ruang pribadiku."
...***...