
"Masuklah," ucap Fattan sembari membukakan pintu mobilnya untuk Marissa.
Marissa pun segera masuk kedalam mobil dan duduk di jok depan. Setelah Marissa masuk, Fattan bergegas menyusul Marissa kemudian duduk disamping wanita itu.
"Kamu siap?"
"Ya!" sahut Marissa mantap.
Fattan tersenyum kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju ke jalan raya.
"Bolehkah aku meminjam ponselmu, Pak Fattan? Aku ingin menghubungi sahabatku," tanya Marissa.
"Tentu saja," sahut Fattan.
Fattan meraih benda pipih tersebut dari dalam saku kemeja yang sedang dikenakannya, kemudian menyerahkan benda itu kepada Marissa.
"Terima kasih." Marissa menyambut benda itu dari tangan Fattan kemudian mulai menekan-nekan tombol angka yang ada di layar ponsel tersebut.
"Semoga saja ini benar nomornya," gumam Marissa sembari meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya.
"Ya, Hallo? Ini siapa dan perlu apa?!"
"Erika, ini aku, Icha."
"Icha!!! Kamu ganti nomor, ya?" seru Erika dari seberang telepon.
"Tidak, Erika. Ini nomor Dosenku, Pak Fattan yang pernah aku ceritakan ke kamu,"
"Dosen tampan itu?! Wah, kenalin aku donk, Cha!" seru Erika.
"Erika, aku belum selesai ngomong. Coba dengerin aku dulu. Begini, aku lagi dalam masalah. Ternyata selama ini Tuan Marcello ..." Marissa menggigit bibir bawahnya yang bergetar.
"Cha, kenapa Tuan Marcello?" tanya Erika penasaran.
"Erika, dia bukanlah Ayah kandungku, begitupula Nyonya Melinda ...." Marissa menahan isak tangisnya. Namun, sesenggukan itu masih bisa terdengar. Bibirnya kembali bergetar dan dadanya terasa sesak.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Cha?" tanya Erika panik. Apalagi setelah mendengar suara sesenggukan Marissa dari seberang telepon.
Marissa membuang napas berat kemudian kembali berucap. "Ya, Erika, ternyata aku hanya anak angkat dari Tuan Marcello dan Nyonya Melinda. Aku benar-benar malu, aku bahkan melilih kabur dari lelaki itu dan sekarang aku tidak tahu harus kemana," ucap Marissa.
"Oh, Tuhan!" pekik Erika sambil membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ehm, Erika ... ponselku tertinggal disalah satu mobil milik Tuan Marcello dan aku tidak sempat mengambilnya. Nanti jika Tuan Marcello menghubungimu, tolong jangan kasih tau aku dimana," lanjutnya.
"Iya, iya, Cha! Baiklah. Tapi, ... sebenarnya kamu mau kemana?"
"Entahlah, nanti aku kabari lagi. Sudah dulu, ya. Bye!"
Setelah selesai bicara dengan sahabatnya, Marissa segera menyerahkan ponsel itu kembali kepada Fattan.
"Terima kasih, Pak," ucap Marissa.
"Sama-sama," sahut Fattan sembari menyambut ponsel itu.
Sementara itu di kediaman Marcello.
Marcello duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ternyata lelaki itu tengah menjelajahi akun sosmed milik Marisa dan ia menemukan banyak sekali foto Marissa dengan berbagai gaya. Tersungging sebuah senyuman di bibirnya ketika memandangi foto Marissa saat berada di pantai dulu. Dimana ia dan Gadis itu bertemu untuk pertama kalinya.
Tiba-tiba salah seorang Pelayan mengetuk pintu ruangannya.
Tok ... tok ... tok ...!!!
"Ya, masuklah."
Pintu pun terbuka dan tampaklah seorang Pelayan wanita masuk sambil menundukkan kepalanya.
"Tuan, makan siang sudah siap," ucapnya
"Baiklah," sahut Marcello
"Saya pemisi, Tuan."
__ADS_1
Pelayan itupun keluar dari ruangan itu kemudian kembali ke dapur.
Setelah Pelayan itu pergi, Marcello bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya, keluar dari ruangan itu seraya meletakkan kembali ponselnya kedalam saku celana yang sedang ia kenakan.
Setibanya diruang makan, ia segera duduk di kursi kesayangannya. Tidak berselang lama, Sarrah pun tiba diruang itu. Wanita itu menghampiri Marcello kemudian mencium pipinya.
"Bagaimana jarimu, apa sudah baikan?" tanya Marcello.
"Ya, sudah mulai berkurang bengkaknya," sahut Sarrah.
"Baguslah."
"Sayang," rengek Sarrah sambil menunggu Pelayan meletakkankan makan siangnya keatas piring.
"Ehmmm ...," gumam lelaki itu.
"Belikan aku cincin yang baru, ya! Yang lebih bagus daripada kemarin," lanjut Sarrah sambil memasang wajah menggemaskan.
"Ya," sahut Marcello, singkat dan jelas.
Seorang Pelayan tiba diruangan itu dengan wajah pucat dan nampak ketakutan. Ia menghampiri meja makan dengan kepala tertunduk.
"Tu-tuan," sapanya terbata-bata.
Marcello segera menoleh kepada Pelayan itu dan menatapnya lekat. "Ada apa, Pelayan?!" tanya Marcello heran.
"I-itu, Nona Marissa ..." jawab Pelayan terbata-bata karena takut Marcello marah kepadanya.
"Icha? Kenapa Icha?!" tanya Marcello.
Baru saja lelaki itu meraih sendok dan garpu, untuk mencicipi makan siangnya. Namun, saat Pelayan itu menyebutkan nama Marissa dengan wajah panik, membuat Marcello kembali meletakkan sendok dan garpu tersebut keatas meja. Rasa lapar yang mendera perutnya sejak tadi seakan sirna.
"I-itu, Tuan ... Nona Marissa tidak ada dikamarnya. Saya juga sudah mencari keseluruh ruangan kamarnya, tetapi Nona Marissa tidak ada," ucap Pelayan itu terbata-bata.
"Apa?!" pekik Marcello.
__ADS_1
...***...