
Tiga hari sebelum hari pernikahan.
Seluruh pekerja di Mansion sedang disibukkan dengan berbagai pekerjaan untuk menyambut hari istimewa sang pemilik Mansion.
Disaat semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka, Marissa malah sibuk dengan dirinya sendiri. Menjauhi berbagai macam aroma yang membuatnya sakit kepala.
"Kamu kenapa sih, Cha? Dari tadi ngomel-ngomel gak jelas seperti itu?"
"Bau, Dad! Kepala Icha pusing!" gerutunya sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju taman belakang mansion.
Sudah dua hari belakangan ini, penciuman Marissa begitu peka. Bahkan aroma parfum yang digunakan oleh Joe pun, dapat ia cium dari jarak jauh. Marcello sendiri bingung, ia bahkan tidak mencium aroma apapun yang mengganggu indera penciumannya sejauh ini. Namun, wanita itu terus saja mengeluh dan menggerutu bahwa kepalanya pusing akibat bau-bau'an aneh yang menusuk di hidungnya.
Bi Ani segera menghampiri mereka ketika ia melihat ada yang salah pada putrinya itu.
"Marissa pusing lagi?" tanya Bi Ani yang mencoba mensejajarkan langkahnya bersama Marcello.
"Ya, aku sendiri tidak tahu kenapa. Lihat dia, kerjaannya hanya ngomel-ngomel tidak jelas sejak kemarin. Apa perlu aku panggilkan Dokter, ya?" tanya Marcello.
"Tapi sepertinya dia baik-baik saja, Tuan. Sebenarnya saya curiga bahwa Marissa sedang--" ucapan Bi Ani terjeda. Ia tidak berani melanjutkan ucapannya. Ia takut apa yang ia pikirkan ternyata salah dan hanya membuat Marcello kecewa pada akhirnya.
"Marissa kenapa, Dian?"
"Tidak, bukan apa-apa, Tuan. Saya hanya asal bicara," sahut Bi Ani.
Akhirnya mereka tiba di taman belakang Mansion. Marissa segera berlari menuju sebuah kursi taman dan duduk disana sambil memperhatikan berbagai macam tanaman yang tumbuh disekitarnya.
"Dian, tinggal tiga hari lagi, pernikahanku dan Marissa akan segera dilaksanakan. Jadi, kapan kamu mengakui kebenarannya kepada anakmu, Marissa? Apa kamu ingin terus seperti ini? Yakinlah, Dian. Marissa pasti bisa menerima dirimu apa adanya, selama kamu jelaskan alasanmu melakukan hal itu kepadanya," ucap Marcello dengan suara yang sangat pelan.
Bi Ani kembali tertunduk. Ini sudah yang kesekian kalinya Marcello meminta dirinya untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada Marissa.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan Marcello. Mungkin nanti malam saya akan menceritakan semuanya kepada Marissa dan saya harap gadis itu dapat memaafkan semua kesalahan saya dan menerima kenyataan bahwa saya adalah Ibu kandungnya."
"Yakinlah, Dian. Marissa adalah gadis yang baik. Dia pasti bisa memaafkan semua kesalahanmu dan menerima dirimu sebagai Ibu kandungnya," sahut Marcello sembari menepuk pelan pundak Bi Ani.
"Ya, semoga saja."
Marissa menatap kedua orang itu dari kejauhan. Ia merasa curiga, akhir-akhir ini kedua orang itu terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Apalagi sekarang Tuan Marcello sudah mulai berani menyentuh pundak Bi Ani.
"Kalian membicarakan masalah apa, sih? Bolehkan aku tahu?" ketusnya.
Marcello mulai mencium aroma-aroma kecemburuan dari ucapan istrinya itu. Ia tersenyum kemudian menjatuhkan dirinya disamping Marissa yang sedang memasang wajah malas.
"Bukan apa-apa. Kami hanya membicarakan tentang dirimu, itu saja," jawabnya enteng.
Marissa menautkan kedua alisnya sambil menatap Marcello. "Membicarakan tentang aku? Tapi, apa?" tanyanya yang semakin penasaran.
Marissa terkekeh pelan, "Memangnya aku sedang sakit," jawabnya.
"Nah, 'kan. Itulah yang sedang aku bicarakan bersama Bi Ani."
Malam pun tiba.
Bi Ani dengan tubuh gemetar menunggu di ruangan pribadi Marcello. Ia sudah berjanji akan mengakui semuanya kepada Marissa malam ini. Ia meremass kedua tangannya secara bergantian sambil mondar-mandir di ruangan tersebut.
Joe yang sejak tadi memperhatikan wanita itu, ikut merasa pusing karena melihat Bi Ani yang begitu gelisah.
"Saya gugup, Tuan Joe. Doakanlah semoga Marissa dapat memaafkan semua kesalahan saya, ya!" ucapnya, dengan tatapan sendu menatap Joe.
"Baiklah, saya doakan semoga Nona Marissa dapat memaafkan semua kesalahan Anda," jawabnya, masih dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar utama.
"Sudah selesai?" tanya Marcello, karena sejak tadi Marissa begitu betah berada di dalam kamar mandi.
"Sebentar lagi," teriaknya.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan didalam sana, Cha? Jangan buat aku khawatir?!" balas Marcello.
Marissa tidak menjawab, ia terus saja menciumi aroma sabun mandinya yang beraroma buah lemon segar.
"Hhhh, kenapa wangi sekali! Rasanya ingin ku telan saja!" gerutunya.
Tidak berselang lama, Marissa keluar dari kamar mandi dengan wajah semringah menatap Marcello. Marcello semakin bingung. Ia bergegas memasuki kamar mandi dan memeriksa sekeliling ruangan itu.
"Sebenarnya apa yang ia lakukan?" gumam Marcello.
"Ayo, Dad! Katanya mau membicarakan sesuatu yang penting? Kenapa Daddy malah masuk kedalam kamar mandi?" ucapnya.
"Ya, ya, baiklah."
Marcello segera menghampiri Marissa dan mengajak wanita itu ke ruang pribadinya.
"Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh Bi Ani, Dad? Sepertinya penting sekali," ucap Marissa.
"Biarlah Bi Ani yang mengatakannya langsung padamu, tapi Daddy harap kamu tidak akan marah padanya," sahut Marcello.
Marissa semakin penasaran. Namun, ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi kepada lelaki itu.
...***...
__ADS_1