
"Dian, kamu kemana saja selama ini? Aku terus mencari keberadaanmu. Aku bahkan mengerahkan beberapa anak buahku hingga ke kampung halamanmu, tetapi hasilnya tetap nihil," tanya Riyadh sembari mengungkung tubuh Dian yang terus mencoba menghindar darinya.
"Menjauh dari Anda, itu saja!" ketus Dian.
"Tapi, kenapa? Apa kamu masih membenciku karena kejadian di malam naas itu? Aku sudah meminta maaf hingga ribuan kali padamu, Dian. Dan aku pun bersedia mempertanggung jawabkan perbuatanku."
Dian terdiam sambil menatap wajah lelaki yang kini berusia 45 tahun tersebut. Walaupun usianya sudah diatas kepala empat, tetapi ketampanan lelaki itu masih melekat di wajahnya.
"Haruskah aku jujur padamu, Tuan Riyadh Abraham?! Bahwa Istrimu lah yang berusaha melenyapkan aku dan bayiku pada malam itu?" batin Dian.
"Dian?!"
"Lepaskan saya, Tuan Riyadh Abraham!" bentak Dian.
Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya Dian berhasil lepas dari kungkungan Tuan Riyadh. Ia bergegas keluar dari ruangan itu dan berharap Tuan Riyadh tidak akan mengejarnya. Tanpa sepengetahuan Riyadh dan Dian, Joe berhasil mengintip dan menguping pembicaraan kedua orang itu.
Sementara itu di tengah perayaan pesta.
Kepala Marissa terasa semakin berat dan pandangannya semakin buram. Ia sudah mencoba mengerjap-ngerjapkan mata agar penglihatannya kembali seperti semula. Namun, makin ia mencoba bertahan, kepalanya terasa semakin berat. Hingga akhirnya,
"Dad ...!" Marissa sempat meraih tangan Marcello sebelum ia jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
Brughkk ...
"Icha!!!" pekik Marcello
Lelaki itu panik setelah menyaksikan Istri kecilnya jatuh pingsan. Bukan hanya Marcello, tetapi semua orang yang sedang menikmati pesta. Tepat disaat itu, Bi Ani baru saja tiba disana. Ia berteriak histeris ketika menyaksikan anak perempuannya ambruk ditengah pesta.
"Marissa!!!"
Tanpa Dian sadari, Riyadh memperhatikan dirinya dari kejauhan. Ia bingung, mengapa Dian begitu panik ketika melihat Marissa jatuh pingsan. Tiba-tiba saja kecurigaan itu semakin menghantui pikiran Riyadh.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba saja aku berpikiran seperti itu? Aku harus menyelidikinya!" gumam Riyadh.
Dian berlari menghampiri Marcello yang kini membopong tubuh Marissa dan membawanya menuju kamar mereka.
"Marissa kenapa, Tuan Marcello?" tanya Dian panik sembari mengikuti langkah cepat Marcello dari belakang.
"Entahlah, tiba-tiba saja dia jatuh!"
Seorang Bodyguard mengikuti Marcello dari belakang. Ia sudah menawarkan bantuan kepada Marcello. Namun, ditolak dengan tegas oleh lelaki itu. Ia tidak ingin siapapun menyentuh tubuh Marissa, termasuk Bodyguardnya.
"Kamu, cepat panggil Dokter!" titahnya kepada Bodyguard.
"Baik, Tuan."
Setibanya didepan kamar mereka, Dian segera membukakan pintu ruangan itu dan membiarkan Marcello masuk. Lelaki itu meletakkan tubuh Marissa yang tidak berdaya keatas tempat tidur secara perlahan.
"Dian, tolong jaga Marissa sebentar," ucap Marcello setelah selesai merapikan posisi tubuh Marissa.
Marcello bergegas keluar dari kamar. Ia berniat mencari keberadaan Joe dan beruntung, ia bertemu dengan lelaki itu tak jauh dari kamarnya.
"Joe, sebaiknya kamu urus diluar dan biarkan para tamu undangan melanjutkan pestanya. Kemungkinan aku tidak akan kembali kesana, sebelum aku dapat memastikan bahwa istriku baik-baik saja," ucap Marcello dengan wajah panik.
"Baik, Tuan."
Semantara itu didalam kamar, Dian menarik kursi yang ada didepan meja rias milik Marissa dan duduk tepat disamping tubuh anak perempuannya itu.
"Marissa, kamu kenapa, Nak?" gumamnya sembari mengelus lembut wajah Marissa.
Ceklek!
Pintu kamar kembali terbuka dan tampaklah Marcello dengan wajah panik memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Bagaimana, apa Icha sudah sadar?" tanyanya
"Masih belum," lirih Dian.
Marcello bergegas menghampiri Marissa dan duduk di tepian tempat tidur, disamping tubuh Istrinya.
"Aku sudah curiga sejak tadi pagi karena wajahnya nampak berbeda dari biasanya. Wajah Marissa pucat dan sepertinya dia memang sedang sakit," ucap Marcello sembari memperhatikan mata Marissa yang masih tertutup rapat.
Tidak berselang lama, seorang Dokter yang dipanggil oleh Bodyguard pun tiba. Marcello segera menyambut kedatangan sang Dokter kemudian memintanya agar secepatnya memeriksakan keadaan istrinya.
"Ah, syukurlah! Akhirnya Anda datang juga. Sekarang periksalah keadaan istri saya, Dok. Saya takut terjadi sesuatu kepadanya."
"Baiklah, Tuan Marcello."
Perlahan Dokter itu menghampiri tubuh Marissa yang masih terbaring diatas tempat tidur. Ia mulai meraih peralatan medisnya dan memeriksa keadaan Marissa, mulai dari detak jantung, tekanan darah dan sebagainya.
Hingga akhirnya Dokter pun selesai melakukan tugasnya. Wajahnya terlihat bimbang dan bibir Dokter cantik itu masih tertutup rapat. Marcello yang sudah tidak sabaran, segera melemparkan pertanyaan beruntun kepada Dokter tersebut.
"Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak sedang mengidap penyakit berat, 'kan?"
Dian pun dihantui rasa penasaran, sama seperti Marcello. Ia menatap Dokter dan menunggu jawaban darinya.
Dokter cantik itu tersenyum hangat kemudian membalas tatapan Marcello dan Dian secara bergantian.
"Sebenarnya keadaan Nyonya Marissa baik-baik saja. Tapi--"
"Baik-baik saja? Bagaimana bisa baik-baik saja, dia itu baru saja jatuh pingsan loh, Dok? Lihat wajahnya, wajahnya memucat." Serangan panik itu kembali menguasai Marcello. Ia bahkan tidak sadar bahwa sudah memotong pembicaraan Dokter tersebut.
"Tapi ... sepertinya Nyonya Marissa sedang hamil, Tuan!" tegas Dokter, ia kesal karena tiba-tiba saja ucapannya disela oleh lelaki itu padahal ia belum habis berkata-kata.
"Apa! Hamil?" pekik keduanya.
__ADS_1
...***...