Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 112


__ADS_3

Sebelum menemui anak buahnya, Riyadh berencana ingin menemui Zaid dan mengajaknya untuk ikut bersamanya. Setelah selesai berbenah, Riyadh pun bergegas menuju lobby, dimana sopirnya sudah menunggu.


Sopir pribadi Tuan Richard tersenyum hangat ketika Riyadh menghampirinya. Ia bergegas membukakan pintu mobil dan mempersilakan lelaki itu untuk masuk.


"Silakan, Tuan."


"Terima kasih," jawab Riyadh.


Setelah Riyadh masuk dan duduk disana dengan tenang, lelaki itupun segera melajukan mobilnya menuju kediaman mewah Riyadh.


Riyadh memperhatikan jalanan yang padat dengan lalu lalang kendaraan. Walaupun matanya fokus ke jalan, tetapi pikirannya sedang menerawang kemana-mana. Selain permasalahan rumah tangganya yang semakin ruwet, sekarang anaknya pun dalam bahaya. Walaupun ia tahu bahwa anak buahnya akan bertindak lebih cepat, sebelum lelaki itu berani menyentuh Zaid lagi.


Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di halaman kediaman Riyadh. Dengan langkah tergesa-gesa, Riyadh memasuki bangunan itu. Orang pertama yang ingin temui adalah Zaid, putra kesayangannya.


Biasanya sehabis pulang kerja, Riyadh selalu menuju tempat favoritnya diseluruh ruangan yang ada di bangunan mewah tersebut, yakni kamarnya. Namun, untuk kali ini tidak. Ia lebih memilih menuju kamar Zaid, dari pada kamarnya yang nyaman dan tenang.


Setibanya di depan kamar Zaid, Riyadh segera mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok ... tok ... tok ....


"Zaid, ini Papa. Bolehkah Papa masuk?" tanya Riyadh.


Zaid yang tadinya enggan membuka pintu kamarnya, setelah mengetahui bahwa orang yang sedang berdiri di balik pintunya adalah sang Ayah, Zaid pun bergegas membukakan pintu tersebut.


Perlahan pintu terbuka dan Riyadh begitu terkejut ketika mendapati wajah tampan anaknya yang penuh luka lebam.


"Zaid, wajahmu--"


"Masuklah, Pah. Sebaiknya kita bicarakan didalam saja," sela Zaid sembari mempersilakan sang Ayah untuk masuk kedalam kamarnya. 

__ADS_1


Riyadh pun segera masuk dan duduk di sofa yang ada didalam kamar Zaid.


"Apakah ini ulah lelaki itu?" tanya Riyadh dengan wajah geram.


Zaid tersenyum kecut kemudian menjatuhkan dirinya disamping Riyadh.


"Ternyata Papa benar. Mama sudah berselingkuh di belakang Papa," ucapnya sambil mengacak kepalanya kasar.


Zaid menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan kepala menghadap langit-langit kamarnya.


"Apa yang sudah ia lakukan padamu, Zaid?" tanya Riyadh panik.


"Papa tidak usah khawatir, Zaid bisa jaga diri. Lagipula kami perkelahian kami seimbang," jawab Zaid sambil terkekeh pelan.


Riyadh hanya bisa menghela napas berat sembari memperhatikan wajah Zaid. "Apa yang dikatakan oleh lelaki itu kepadamu?"


"Dia mengakui semuanya dan itu benar-benar membuatku malu," lirih Zaid.


"Jangan terlalu kamu pikirkan masalah itu, Zaid. Yang penting sekarang kamu sudah tahu siapa yang salah dan siapa yang benar."


"Aku salut padamu, Pah. Padahal Papa sudah mengetahui perselingkuhan yang Mama lakukan sejak lama, tetapi Papa masih bisa bertahan di sisinya."


Riyadh melirik kearah Zaid sambil tersenyum tipis. "Itu semua Papa lakukan hanya untukmu, Zaid. Saat itu kamu masih berusia satu tahun dan sangat membutuhkan kasih sayang dari kami berdua. Itulah alasan yang membuat aku mempertahankan rumah tangga ini," jawab Riyadh.


Netra Zaid terlihat berkaca-kaca setelah mendengar penuturan Riyadh. Ia begitu terharu mendengarnya. Demi dirinya, Riyadh rela menepis rasa sakit dan kecewa di hatinya.


"Terima kasih, Pah."


Zaid memeluk tubuh sang Ayah dan segera dibalas oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Sama-sama, Zaid."


Ruangan itu sempat hening sejenak, hingga Riyadh kembali membuka suaranya.


"Oh ya, Zaid. Orang-orang suruhan Mamamu sudah berhasil di temukan, apa kamu bersedia menemani Papa menemui mereka?" tanya Riyadh.


Zaid nampak terkejut, ia tidak menyangka bahwa kedua orang tersebut akan secepat ini di temukan. Zaid melemparkan senyuman untuk Riyadh kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ya, Zaid bersedia menemani Papa. Zaid juga penasaran dengan apa yang akan mereka katakan. Apakah mereka akan berkata jujur, atau malah sebaliknya," ucap Zaid.


"Papa harap mereka berkata jujur dan tidak akan membuat masalah semakin rumit dengan berkata bohong," sahut Riyadh.


"Ya, semoga saja."


Riyadh bangkit dari tempat duduknya, kemudian bersiap pergi dari kamar Zaid.


"Sebaiknya Papa bersiap-siap karena mereka sudah menunggu kedatangan Papa," ucap Riyadh sambil melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya, Pah. Zaid pun ingin bersiap, Zaid sudah tidak sabar ingin menemui orang-orang itu," jawabnya.


Riyadh segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Melakukan ritual mandi, berpakaian dan merapikan rambutnya. Setelah semuanya siap, ia pun segera turun dari kamar kemudian menemui Zaid yang ternyata sudah menunggu di ruang utama.


"Sudah lama menunggu, Zaid?" tanya Riyadh.


"Baru saja, Pah."


Sebaiknya kita cepat," ajak Riyadh sembari merengkuh pundak Zaid dan mereka pun berjalan bersama menuju halaman depan. Dimana mobil mewah milik Riyadh sudah siap membawa mereka menuju tempat berkumpulnya para anak buahnya.


...***...

__ADS_1


Maaf, mungkin ceritanya agak melenceng karena Author fokus pada cerita permasalahan Riyadh dan keluarganya. Tapi tidak lama lagi bakal selesai, kok dan kita bisa fokus lagi ke bumil yang lagi bahagia 😘😘😘


__ADS_2