Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 285


__ADS_3

"Maria, kamu mau kemana?" tanya Marissa ketika Maria melewatinya dengan langkah terburu-buru.


"Ke tempat Om Dylan, Mom. Ada yang ingin aku bicarakan," sahut Maria yang berlalu sambil menenteng kunci motor maticnya.


"Maria! Ingat, kalian baru bertunangan. Kalian masih belum sah!" teriak Marissa karena gadis itu sudah berada jauh darinya.


"Ya, Mom! Maria selalu ingat itu," jawab gadis itu seraya menaiki motor matic kesayangannya.


"Ish, Mommy. Mikirnya selalu begitu! Memangnya aku dan Om Dylan pasangan mesum apa? Jangankan melakukan hal itu, ciuman saja kami belum pernah!" gerutu Maria sembari memasang helm bermotif Hello Kitty tersebut ke atas kepalanya.


Setelah memasang helm, Maria pun segera melaju bersama scooter maticnya menuju kediaman Dylan. Setibanya di tempat itu, kedatangan Maria kembali disambut oleh para penjaga keamanan.


"Silakan masuk, Nona?" Penjaga membukakan pintu gerbang untuk Maria kemudian membiarkan gadis itu memasuki halaman bersama motor kesayangannya itu.


Setelah memarkirkan benda tersebut, Maria pun bergegas memasuki bangunan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Salah seorang pelayan menghampiri Maria kemudian menyapa gadis itu.


"Pagi, Nona Maria. Maafkan saya lancang, tetapi saya ingin memberitahu Anda bahwa Tuan Dylan baru saja berangkat ke tempat kerjanya," ucap Pelayan itu seraya mengikuti langkah kaki Maria.


"Ya, Bi. Aku sudah tahu itu. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Maria tanpa menghentikan langkah kakinya menuju kamar wanita itu.


"Ehm ya, Nona. Sama-sama," sahut Pelayan itu sembari menghentikan langkahnya.


Maria terus melangkah hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan pintu kamar Kakak perempuannya Dylan. Maria menarik napas dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan sebelum ia mendorong pintu tersebut.


Ketika pintu terbuka, Maria melihat wanita itu sedang duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidurnya. Seperti biasa, matanya menatap kosong ke arah jendela kamar. Maria mencoba menghampiri wanita itu lagi sambil bergumam kecil.

__ADS_1


"Semoga saja Kakak ini masih bisa menerima kehadiranku sama seperti kemarin," gumam Maria.


"Kak," panggil Maria ketika ia sudah berdiri tepat di samping wanita itu.


Perlahan ia menoleh dan menatap Maria dengan tatapan datar. "Siapa kamu?" tanya wanita itu dengan suara yang begitu pelan.


"Aduh, ternyata dia lupa lagi sama aku," batin Maria sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kak, aku Maria. Tuangan Adikmu, Dylan."


Wanita itu memperhatikan Maria dengan seksama kemudian mencoba mengingat siapa gadis itu. Ia menyentuh wajah Maria dengan lembut sambil tersenyum hangat.


"Kamu sangat cantik."


Maria meraih tangannya kemudian mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita itu.


Wanita itu terperanjat. Dengan cepat ia menarik tangannya dari wajah Maria. Tatapan wanita itu nampak berubah, terlihat jelas kalau wanita itu nampak tidak suka mendengar nama kedua orang tua Maria.


"Marcello? Marissa?!" pekik wanita itu sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.


Maria yang ketakutan segera bangkit dari tempat tidur tersebut kemudian menjaga jarak dari wanita itu. Wajah Maria memucat, ia begitu menyesal sudah mengatakan hal itu kepadanya.


Wanita itu menjerit histeris sambil terus memegangi kepalanya. "Aakkhh!" Jeritannya bahkan terdengar oleh para perawat dan pelayan yang sengaja berjaga di depan kamar tersebut.


Mereka bergegas membuka pintu dan mencoba menenangkan wanita itu. Bukannya tenang, ia semakin beringas setelah melihat banyak orang yang mencoba mendekat padanya.

__ADS_1


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya salah satu pelayan kepada Maria yang masih shok melihat reaksi Kakak perempuan Dylan.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Maria dengan gemetar.


"Inilah yang dikhawatirkan oleh Tuan Dylan jika Nona menjenguk Kakaknya. Dia memang seperti ini, Nona. Kadang-kadang ia tidak bisa menahan emosinya kemudian melampiaskannya kepada semua orang yang ada di sekelilingnya," tutur pelayan itu.


Maria terdiam, tidak mungkin ia menceritakan kepada mereka bahwa wanita itu mendadak emosi karena dirinya. Akibat dirinya yang tidak bisa menahan rasa penasaran terhadap masa lalu wanita itu.


"Lepaskan aku!" pekik wanita itu sambil menghempaskan tangan para perawat yang memegangi tangannya.


Wanita itu duduk di tepian tempat tidur dan kembali memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Bayangan-bayangan masa lalu yang terjadi pada dirinya terlintas dengan cepat. Sedikit demi sedikit ia mulai ingat kejadian-kejadian yang pernah terjadi pada dirinya.


"Ya Tuhan, kepalaku!" pekiknya.


Tiba-tiba salah seorang perawat menyuntikkan obat penenang kepadanya. Ia terlihat sangat marah ketika perawat itu menyuntiknya, tetapi ia tidak bisa melawan karena kepalanya benar-benar sakit saat itu.


Tidak butuh waktu lama, obat penenang itupun mulai bereaksi. Tubuh wanita itu mulai lemas dan dalam hitungan menit ia jatuh dan memejamkan matanya.


Dylan yang baru saja tiba di kediamannya segera berlari menuju ruangan itu. Dimana Maria dan beberapa orang lainnya berada.


"Maria! Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Dylan panik sembari memeriksa keadaan tubuh gadis itu dengan seksama.


"Aku baik-baik saja," sahut Maria yang kemudian memeluk tubuh besar lelaki itu.


"Lain kali, jangan pernah dekati Kakakku lagi, Maria. Kecuali saat bersamaku, aku tidak ingin dia menyakitimu."

__ADS_1


... ***...


__ADS_2