
"Daddy, bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Marvel kepada Marcello yang ingin kembali ke kamar utama, setelah Dylan dan Mac kembali ke kediaman mereka.
"Tentu saja, Marvel. Ada apa?"
Marcello duduk di sofa dengan gaya santainya sambil memperhatikan wajah Marvel yang nampak sangat serius.
"Dad, ini tentang perjodohanku." Marvel bingung bagaimana cara mengutarakan keinginannya kepada sang Daddy.
"Kenapa? Apa kamu sudah penasaran siapa calon istrimu?" tanya Marcello.
"Ehm, sebenarnya bukan tentang itu, Dad. Ini tentang gadis lain, gadis yang ingin aku lamar," sahut Marvel.
Marcello membulatkan matanya setelah mendengar ucapan Marvel. Terlebih Marvel begitu serius ketika mengucapkannya.
"Sebentar!"
Marcello bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan itu. Marvel nampak kebingungan karena sang Daddy meninggalkan dirinya begitu saja padahal ia belum selesai mengutarakan niatnya.
Tidak berselang lama, Marcello kembali sambil menuntun Marissa dan mengajak wanita itu untuk duduk bersamanya.
"Ada apa sih, Dad?" tanya Marissa kebingungan.
"Ada kejutan kecil dari putra kita, Cha. Benar 'kan Marvel?" jawab Marcello.
"Benarkah? Kejutan apa itu, Marvel?" Wajah Marissa nampak semringah. Ia menatap Marvel seraya melemparkan senyuman hangatnya.
Marvel terdiam sejenak dan mencoba memantapkan hati untuk mengutarakan keinginannya kepada Daddy dan Mommynya.
"Mom, Dad, aku ingin melamar seorang gadis dan aku butuh dukungan sekaligus restu dari kalian berdua," ucap Marvel.
"Ini serius, Vel?" pekik Marissa dengan mata membulat. "siapa gadis itu? Apakah kami mengenalnya?"
Marvel menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, kalian mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya,"
__ADS_1
"Benarkah, siapa dia?" tanya Marissa yang begitu penasaran dengan sosok gadis yang sudah membuat hati Marvel luluh.
"Aku akan menjemputnya, bisakah kalian menunggu disini sebentar saja?" pinta Marvel.
"Hah?" Marissa menautkan kedua alisnya sambil bertatap mata bersama Tuan Marcello yang sepertinya juga kebingungan.
"Hanya sebentar saja!"
"Memangnya dimana rumah gadis itu hingga ia meminta kita menunggu disini?" gumam Marissa.
"Entahlah, tapi semoga saja gadis itu adalah gadis yang baik."
Marvel pergi dari ruangan itu kemudian menuju dapur. Ia tahu bahwa saat itu Shakila masih berada disana sambil membantu para pelayan. Benar saja, gadis itu tengah asik berbincang dengan para pelayan sambil merapikan peralatan makan.
Perlahan Marvel menghampiri Shakila kemudian meraih tangan gadis itu. "Ikutlah denganku, Shakila. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Marvel.
"Ah, iya sebentar, Tuan." Shakila mengelap tangannya sebelum Marvel membawanya.
"Eh, Nona Shakila itu cocok ya sama Tuan Marvel," ucap salah satu pelayan kepada pelayan lainnya.
"Eeh, iya. Menurutku juga begitu. Kalau sama Tuan Melvin kurang cocok karena Tuan Melvin itu terlihat lebih agresif, Arrgghhh!" sahut yang lainnya.
"Hhh, kamu bisa saja!" Dan para pelayan itupun tertawa bersama di ruangan itu sambil mengerjakan tugas-tugas mereka.
"Kita mau kemana, Tuan Muda?"
"Menemui Mommy dan Daddy," sahut Marvel tanpa melepaskan tangan Shakila dari genggamannya.
"E-em, tapi untuk apa, Tuan?" tanya Shakila lagi.
Marvel tidak menjawab pertanyaan Shakila dan terus melangkahkan kakinya hingga mereka pun tiba di ruangan tersebut.
Marissa dan Marcello kembali membulatkan sepasang mata mereka saat menyaksikan Marvel kembali ke ruangan itu bersama Shakila.
__ADS_1
"Shakila?!" pekik Marissa.
Marissa mencengkeram lengan Marcello kemudian menggoyang-goyangkannya. "Jangan-jangan firasatku benar, Dad! Anak sulung kita menyukai Shakila!" ucapnya dengan setengah berbisik.
Marissa sering sekali memergoki Marvel memperhatikan Shakila dari kejauhan dan dari tatapan mata Marvel ke Shakila, Marissa tahu bahwa ada perasaan lain yang dirasakan oleh anak pertamanya itu.
"Kita dengarkan saja penjelasannya," sahut Marcello.
"Duduklah, Shakila."
Shakila pun duduk di sofa, di samping Marvel dengan wajah bingung.
Sejenak, ruangan itu mendadak hening. Semuanya saling lirik satu sama lain dengan pikiran mereka masing-masing.
"Mom, Dad ..." Marvel mulai membuka suara. "inilah gadis itu, gadis yang ingin Marvel lamar untuk menjadi pendamping hidup Marvel kelak," lanjutnya.
Mata Shakila membesar dan mulutnya pun ikut ternganga setelah mendengar pernyataan Marvel yang begitu mengejutkan. "Ta-tapi, Tuan--"
Belum habis Shakila berkata-kata, Marvel meraih tangannya kemudian menggenggamnya dengan erat dan membuat Shakila akhirnya terdiam.
"Benarkan apa kataku, Dad!" pekik Marissa sembari memeluk tubuh Marcello yang masih nampak kebingungan.
"Jadi ... gadis itu adalah Shakila?" tanya Marcello mencoba memastikan bahwa Marvel tidak sedang bercanda padanya.
"Ya, Dad. Gadis itu adalah Shakila." jawab Marvel mantap.
Tenggorokan Shakila seakan tercekat. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan untuk menelan salivanya pun terasa seret.
"Bagaimana denganmu, Shakila? Apa kamu bersedia jika Marvel melamarmu?" tanya Marcello dengan tatapan serius menatap wajah Shakila yang memucat.
"A-aku ...."
...***...
__ADS_1