
"Kita mau kemana, Om?" tanya Maria sambil meletakkan dagunya ke pundak kekar Dylan.
"Kemana saja, asal kamu senang dan tidak bete lagi."
"Tapi, aku masih mengenakan seragam sekolah, Om? Bagaimana ini?"
"Baiklah, kamu benar. Kalau begitu, sebaiknya kita jalan ke Mall saja. Bagaimana?"
"Mall? Ya, tentu saja aku setuju!"
"Wah, aroma-aromanya dompetku bakal bolong ini," gumam Dylan sambil menautkan kedua alisnya.
"Sekali-sekali lah, Om. Om baru gajian juga, 'kan?"
"Dasar! Belum resmi jadi kekasihku saja, dia sudah mulai berani membolongi dompetku, apalagi kalau sudah jadi kekasihku?!" gerutu Dylan.
Dylan melajukan motor milik Maria menuju salah satu Mall terbesar di kota mereka dan setibanya disana, Dylan kembali menuntun gadis itu memasuki Mall tersebut.
"Om, kita kesana, yuk!"
Maria menunjuk kumpulan pakaian yang berjejer di dalam Mall tersebut. Gadis itu menarik tangan Dylan kemudian mengajaknya ke tempat itu.
"Ayo, Om! Cepat."
"Iya, sabar."
Setibanya di tempat itu, Maria segera melepaskan tangan Dylan dan mulai mengobrak-abrik tempat itu. Dylan hanya bisa mengikuti Maria sambil memperhatikannya kelakuan gadis itu.
Maria menemukan dress selutut berwarna pink yang menurutnya sangat cantik. Ia meraih dress tersebut kemudian memperlihatkannya kepada Dylan.
"Lihat, Om. Cantik, ya?"
"Kamu mau?"
Maria menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil tersenyum lebar menatap Dylan.
"Ambillah, mumpung aku lagi baik hari ini," ucap Dylan.
"Wah, terima kasih, Om!"
__ADS_1
Dengan wajah semringah, Maria membawa dress tersebut ke ruang ganti dan Dylan pun mengikutinya dari belakang.
"Benar-benar aneh, seorang sopir dengan gaji pas-pasan malah mentraktir seorang gadis, anak dari seseorang pengusaha sukses seantero negeri," gumam Dylan sambil tersenyum tipis.
"Tenang saja, aku tidak minta tiap hari kok, Om," jawab Maria sambil terkekeh pelan.
"Memangnya berapa gaji seorang sopir hingga bisa mentraktir kamu belanja setiap hari, Nona?"
Maria tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya. Setibanya di ruang ganti, Maria menahan tubuh besar Dylan yang mengikutinya dari belakang dan mencoba masuk ke ruangan itu.
"Eh, Om tunggu disini saja! Tidak boleh ikutan masuk."
Maria mendorong tubuh besar itu dengan sekuat tenaga. Napas Maria bahkan sampai tersengal-sengal saat mencoba mendorong tubuh besar Dylan agar menjauh darinya.
"Seharusnya aku ikut donk, aku kan ingin lihat apakah dress itu cocok di tubuhmu yang kecil itu," protes Dylan dengan mata membulat menatap Maria.
"Ih, gak boleh, Om! Apa Om ingin berurusan dengan Daddy Marcello?" kesal Maria sambil menekuk wajahnya.
"Aku 'kan cuma ingin lihat. Lagipula kenapa aku harus takut berurusan dengan Daddymu. Nanti-nanti juga aku pasti akan berurusan dengannya," sahut Dylan sambil tersenyum tipis.
"Ah, sudahlah."
"Apakah nasibku akan berakhir pada bocah ingusan ini? Ya, Tuhan," gumam Dylan sambil menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, Maria keluar dari ruangan itu sambil tersenyum lebar.
"Bagaimana, Om Udin? Aku terlihat cantik, 'kan?"
Maria melenggak-lenggok di hadapan Dylan dan membuat lelaki dewasa itu terpana di buatnya. Dylan menatap Maria yang terlihat begitu cantik dengan dress berwarna pink tersebut tanpa berkedip sedikitpun.
"Kamu cantik sekali, Nona Maria."
"Beneran, Om?"
"Ya."
Setelah membayar dress tersebut, Maria dan Dylan kembali menjelajahi Mall tersebut. Hingga langkah mereka berhenti pada sebuah toko yang menjual pernak-pernik serta berbagai aksesoris. Maria memilih gelang couple kemudian membawanya kepada Dylan.
"Lihat gelang ini, bagus 'kan, Om! Ada Hello Kitty-nya juga," seru Maria sambil tersenyum lebar menatap Dylan.
__ADS_1
Dylan nampak cemas. Entah mengapa ia memiliki firasat buruk tentang ini.
"Jangan bilang kamu ingin aku juga memakai gelang ini, ya!" protes Dylan.
Maria meraih tangan kekar Dylan tanpa mempedulikan ekspresi lelaki itu. Dylan sempat menarik tangannya kembali, tetapi Maria menahannya kemudian memasangkan gelang tersebut ke tangan Dylan.
"Om, tenang saja. Punya Om tidak ada Hello Kitty-nya, kok. Hanya punya Maria yang ada Hello Kitty-nya. Lagipula aku sudah membayarnya dengan menggunakan uang jajanku," ucap Maria sambil tersenyum menatap Dylan.
Dylan pun luluh, kemudian menatap gelang yang kini melingkar di pergelangan tangannya. Dylan sedikit lega, walaupun terlihat sangat kekanak-kanakan. Setidaknya, tidak ada Kucing Jepang yang melekat di gelang tersebut.
"Aku juga punya hadiah sebagai ucapan terima kasihku pada Om karena sudah menemaniku hari ini."
Maria menyerahkan sebuah paper bag yang tertutup rapat kepada Dylan.
"Apa ini?" tanya Dylan heran sembari meraih paper bag tersebut dari tangan Maria.
"Bukanya di rumah aja ya, Om."
"Baiklah, terima kasih."
Setelah puas menjelajahi Mall tersebut, akhirnya merekapun kembali ke kediaman masing-masing.
Menjelang malam.
Sehabis mandi, Dylan meraih paper bag pemberian Maria yang ia letakkan di atas nakas, di samping tempat tidurnya. Dylan duduk di tepian tempat tidur kemudian membuka paper bag tersebut.
"Semoga bukan Hello Kitty!"
Dylan membulatkan matanya setelah melihat isi paper bag tersebut.
"Ya, Tuhan! Walaupun bukan Hello Kitty, tapi ini apa bedanya?!" pekik Dylan sambil menenteng piyama tidur bermotif Doraemon. Bahkan ada sebuah catatan di dalam paper bag tersebut.
"Di pake ya, Om. Karena aku juga memakai piyama yang sama malam ini. Cuma bedanya, kalau Om Udin dapet motif kucing jantan, Maria kucing betinanya."
Pesan itu membuat Dylan menggaruk kepalanya. Apalagi melihat emoticon yang terselip di samping pesan tersebut.
"Ya, Tuhan!" gumam Dylan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
...***...
__ADS_1