Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 85


__ADS_3

Marissa dan Marcello tiba di depan panti asuhan, dimana Marcello dan Melinda dulu mengadopsinya. Marissa sempat ragu melangkahkan kakinya memasuki panti asuhan tersebut, tetapi Marcello terus mencoba meyakinkannya.


"Aku gugup," lirih Marissa.


"Percayalah padaku, kamu akan baik-baik saja."


Marcello kembali menuntun Marissa memasuki ruangan itu dan menemui salah satu pengurus panti yang sudah sejak lama mengabdi di Panti Asuhan tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nona?"


"Kenalkan, Bu. Saya Marcello dan ini Marissa."


Wanita pengurus panti asuhan itupun menyambut uluran tangan Marcello dan Marissa sambil tersenyum hangat.


"Bu, sebenarnya kedatangan kami kesini untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang tua kandung Marissa. Sebab dalam waktu dekat, Marissa akan segera melangsungkan pernikahan dan dia butuh orang tua kandungnya, terutama Ayahnya. 19 tahun yang lalu, saya bersama mendiang istri saya, mengadopsi seorang bayi perempuan dari tempat ini. Dan saya masih ingat, saat itu Anda lah yang menangani semuanya. Sekarang bayi itu sudah tumbuh besar dan sekarang dia sedang duduk di hadapan Anda," tutur Marcello.


Marcello sengaja tidak menceritakan hubungannya bersama Marissa. Ia tidak ingin wanita itu menganggapnya aneh karena sudah menikahi anak angkatnya sendiri.


Wanita itu nampak berpikir sambil menatap wajah cantik Marissa dengan mata berkaca-kaca. Ia meraih tangan Marissa kemudian tersenyum.


"Ya, saya ingat, Tuan. Bayi mungil yang sempat saya rawat beberapa bulan setelah kami temukan disamping panti asuhan," jawab wanita itu.


"Kamu cantik sekali, Nak Marissa." Ucapan wanita itu terjeda. "waktu begitu cepat berlalu, padahal rasanya baru semalam Ibu menggendongmu. Ibu selalu teringat padamu, Nak, karena Ibu juga sempat merawatmu walaupun hanya beberapa bulan," sambungnya sambil menggenggam tangan Marissa dengan erat.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Ibu mengingatnya. Jadi, bolehkah kami tahu siapa orang tua kandung dari Marissa? Kami ingin segera menemuinya," ucap Marcello dengan penuh semangat.


Ibu pengurus panti tersebut menghembuskan napas panjang. "Maafkan saya, Tuan Marcello. Saya dan seluruh staff di Panti ini sama sekali tidak tahu asal usul Marissa."


Wanita paruh baya itu mulai mengingat-ingat kejadian 19 tahun silam, dimana ia menemukan seorang bayi mungil didalam sebuah kotak air mineral tanpa identitas maupun pesan. Hanya seorang bayi perempuan cantik yang masih lengkap dengan ari-arinya.


"Malam itu saya terbangun dari tidur saya karena mendengar suara tangisan bayi. Dan apa yang saya dengar bukanlah halusinasi. Saya benar-benar menemukan seorang bayi perempuan cantik yang masih merah menangis karena kehausan dan kedinginan. Saya meraihnya kemudian membawanya masuk. Seluruh penghuni panti heboh dan berita penemuan bayi itupun dengan cepat menyebar. Hingga akhirnya kalian datang untuk mengadopsinya. Jujur, saat itu saya berat melepaskannya. Saya juga ingin merawatnya, tetapi karena masih banyak anak-anak penghuni panti yang harus saya rawat, maka saya pun menyetujuinya."


"Sebentar, Bu. Apakah tidak ada CCTV atau apapun itu, yang bisa mengetahui siapa yang sudah meletakkan bayi itu disana?" tanya Marcello.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Dulu, CCTV hanya ada satu dan letaknya di depan panti. Dan kebetulan bayi itu diletakkan di tempat yang jauh dari jangkauan kamera CCTV, hingga kami tidak dapat menemukan siapa yang sudah membuang bayi mungil itu," jawab Bu pengurus panti dengan wajah murung.


Marissa tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan setelah mendengar cerita tentang masa kecilnya yang begitu menyedihkan. Marcello meraih tubuh Marissa kemudian memeluknya dengan erat.


"Kamu tenang saja, Cha. Daddy janji akan mengerahkan segala cara agar bisa mengetahui siapa orang tua kandungmu."   ucapnya.


"Joe, aku butuh bantuanmu. Kerahkan seluruh anak buahmu untuk mencari tahu keberadaan kedua orang tua Marissa. Dan berikan mereka bonus yang besar jika mereka berhasil mengungkap siapa yang sudah membuang Marissa kecil pada malam itu," titah Marcello.


"Baik, Tuan."


Sementara itu di dalam kamar.


Marissa masih terdiam sambil memikirkan nasibnya yang begitu malang. Ia tidak sendiri disana, ia bersama Bi Ani didalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Bi Ani mengelus punggung Marissa yang duduk di sampingnya sambil mencoba menenangkan gadis itu.


"Sebenarnya kamu kenapa, Nak?" tanya Bi Ani.


"Tadi Marissa ke Panti Asuhan, dimana Tuan Marcello dan Nyonya Melinda mengadopsi Marissa, Bi--"


"Untuk apa?" sela Bi Ani sambil menatap wajah Marissa dengan tatapan serius.


"Mencari tahu siapa orang tua kandung Marissa, Bi. Untuk apa lagi?" kesal Marissa karena Bi Ani tiba-tiba saja menyela ucapannya.


"Lalu?"


"Semuanya sia-sia, karena tak ada satupun diantara mereka yang tahu tentang asal usul Marissa," sahutnya, putus asa.


"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan jika kamu berhasil menemukan kedua orang tua kandungmu, Nak?" tanya Bi Ani sambil menatap wajah sendu Marissa.


"Entahlah, yang pasti Marissa ingin bertanya apa alasan mereka membuang Marissa. Apakah Marissa tidak pantas untuk mendapatkan kasih sayang mereka? Jika itu benar, lalu kenapa mereka membiarkan Marissa hidup? Kenapa mereka tidak menyingkirkan Marissa sejak dari dalam kandungan?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Bi Ani segera memeluk tubuh Marissa sambil menitikkan air matanya. "Mereka pasti punya alasan kuat melakukan itu, Nak,"


...***...


Buat Reader yang bertanya "Ceritanya udah tamat ya, Thor?"

__ADS_1


Jawabnya, "Belum."


Kenapa, karena kemarin Author sempat kesel sama SISTEM, bukan Reader. Author klik tanda END. Trus pas Mood Author baik lagi, mau balikin ke "On Going" ternyata sampe sekarang belum di ACC 😅😅😅 mungkin sekarang giliran SISTEM yang merajuk sama Author 🙏🙏🙏


__ADS_2