
"Dad?!"
Wajah Marissa memerah menatap Marcello, menunggu penjelasan dari laki-laki itu.
"Sebenarnya itu,"
"Apa?! Kalian berhubungan lagi di belakangku, sama seperti yang kalian lakukan di belakang Mamaku, begitu?!" sela Marissa dengan emosi berapi-api.
"Bukan seperti itu, Cha. Coba dengarkan Daddy--"
Belum habis Marcello berkata-kata, Marissa merebut kunci mobil dari tangan Joe kemudian berlari menuju tempat parkir, dimana Joe memarkirkan mobilnya.
"Cha, tunggu!" teriak Marcello.
Bella begitu penasaran dengan hubungan Marcello dengan Marissa, apalagi setelah mendengar ucapan gadis itu barusan.
"Apa yang dimaksud Marissa? Kenapa dia bisa bicara seperti itu?" tanya Bella dengan wajah heran menatap Marcello.
"Ceritanya panjang."
Setelah mengucapkan hal itu, Marcello segera menyusul gadis itu dengan langkah cepat. Ia takut Marissa melakukan hal aneh dan melukai dirinya sendiri.
Bella semakin bingung dibuatnya. Apalagi melihat kecemasan yang terpancar dari raut wajah Marcello. Ia menatap Joe yang masih berdiri di sampingnya dan meminta penjelasan kepada lelaki itu.
"Status Nona Marissa sekarang adalah Nyonya Marcello Alexander."
Jawaban Joe membuat mata Bella terbelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. "Kamu serius!?"
Bukannya menjawab pertanyaan Bella, Joe malah pergi meninggalkan wanita itu dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Ia bergegas menyusul Marcello ke tempat parkir.
Setibanya di tempat itu, ternyata mereka terlambat. Marissa sudah pergi bersama mobil yang tadi dikemudikan oleh Joe. Marcello sangat panik. Ia terus mengumpat kasar.
__ADS_1
Joe segera meraih ponselnya kemudian menghubungi salah satu Bodyguard yang masih berada di hotel. Ia meminta bantuan lelaki itu untuk menjemput mereka.
"Bagaimana ini, Joe! Aku takut terjadi sesuatu padanya." Marcello bahkan tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya.
Joe membuang napas berat kemudian berucap, "Saya sudah menghubungi salah satu Bodyguard, Tuan. Dan mereka akan segera menyusul kesini."
"Tapi kapan, Joe?! Keburu Marissa pergi jauh dan melakukan hal bodoh lainnya!" hardiknya.
Akhirnya Bella tiba di tempat parkir. Ia memperhatikan kepanikan Marcello saat itu.
"Apa kamu benar-benar mencintai gadis itu, Marcello?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari bibir Bella. Selama ia dekat dengan lelaki itu, tak pernah sekalipun ia melihat Marcello bersikap seperti itu, bahkan saat masih bersama Melinda.
"Lebih dari apapun, Bella. Aku bahkan rela menukar nyawaku untuknya," jawabnya dengan wajah serius menatap Bella.
Bella tersenyum kecut setelah mendengar jawaban lelaki itu. Itu artinya tak ada kesempatan untuk wanita manapun yang ingin mendekat kepada Marcello.
"Aku turut senang mendengarnya, Marcello. Aku doakan semoga kalian bahagia untuk selamanya," lirih Bella.
Sementara itu.
"Awas saja kamu, Tuan Marcello. Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu jika benar kamu sudah bermain di belakangku," gumamnya.
Dari kejauhan, Marissa sudah dapat melihat atap rumahnya. Ia mulai menurunkan kecepatan mobilnya, tetapi tepat disaat itu seekor ayam tiba-tiba meloncat di depan mobilnya dan membuat Marissa terkejut setengah mati.
"Eh, ayam, ayam!"
Saking terkejutnya, gadis itu tidak dapat mengendalikan mobilnya dan,
Brugghkkk!!!
"Aw!!" rintih Marissa sambil memijit pelipisnya.
__ADS_1
Mobilnya menabrak sebuah pohon besar dan membuat depan mobil rusak parah. Beruntung Marissa tidak apa-apa. Hanya luka ringan di pelipisnya akibat terkena serpihan kaca mobil yang ikut pecah karena tabrakan itu.
"Sialan, ini pasti gara-gara wanita itu! Memang ya, sejak dulu dia hanya membawa sial untuk keluargaku, dan sekarang akupun sial setelah bertemu dengannya!" umpatnya sambil membuka pintu mobil.
Para warga di sekitar rumahnya sudah mengerumuni tempat itu. Mereka penasaran apa yang sudah terjadi. Apalagi setelah mengetahui bahwa orang yang mengemudikan mobil tersebut adalah Marissa. Ada sebagian dari mereka yang masih mengenalinya.
"Ya Tuhan, Marissa? Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya salah seorang ibu-ibu yang tinggal tepat bersebelahan dengan rumahnya.
Marissa tersenyum kecut, "Marissa baik-baik saja, Bu."
"Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya warga lainnya.
"Ini karena ayam sialan itu!" kesal Marissa sembari menunjuk kearah ayam yang sedang mengikis-ngikis tanah seolah tidak terjadi apapun.
"Eh, api-api!" teriak warga lainnya ketika melihat percikan api keluar dari mobil Marissa.
Semua orang menjauh dari tempat itu termasuk Marissa. Dengan wajah pucat, Marissa menatap mobil itu.
"Hah, benar-benar sial! Mana itu mobil rentalan Tuan Marcello lagi! Alamat ganti rugi si Daddy," gumam nya.
Tidak butuh waktu lama, asap pun mengepul dan api mulai membakar sebagian mobilnya. Beruntung warga dan pemadam kebakaran yang berada tak jauh dari kediamannya segera beraksi dan memadamkan api tersebut hingga tidak terjadi hal yang lebih mengerikan lagi.
Marissa melenggang dengan langkah gontai memasuki halaman rumahnya. Seorang wanita paruh baya bergegas menghampiri Marissa setelah menyadari kehadiran gadis itu.
"Nona Marissa, ini kuncinya, Non."
Wanita paruh baya yang kini menggantikan tugas Bi Ani menjaga kediaman Melinda, segera menyerahkan kunci rumah tersebut kepada Marissa dan ia pun segera menyambutnya.
"Terima kasih, Bi."
Marissa masuk kedalam rumahnya dan duduk di salah sofa favorit Melinda ketika wanita itu masih hidup.
__ADS_1
"Mah, aku merindukanmu," lirihnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
...***...