Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 94


__ADS_3

"Icha sayang!!!" teriak Erika yang baru saja tiba dan langsung menghampiri pasangan pengantin tersebut.


"Erika," tegur Fattan sambil menahan malu karena istrinya itu susah mengontrol sikap jika sudah bertemu dengan sahabatnya itu.


"Para tamu undangan Tuan Marcello bukanlah orang biasa, Sayang. Jadi tahan sedikit sikapmu yang suka meledak-ledak itu," bisik Fattan disamping telinga Erika.


Erika tidak menjawab ucapan suaminya, ia hanya menekuk wajahnya sambil menatap lelaki itu.


"Wah, Erika sayang! Terima kasih sudah datang!" ucap Marissa sambil merentangkan kedua tangan, menyambut kedatangan sahabatnya itu.


"Ya iyalah, Icha sayang. Masa aku gak bisa datang di hari pernikahan sahabatku sendiri, sih? Sedangkan kamu sendiri bela-belain datang ke tempatku, padahal jarak kita lumayan jauh," jawab Erika sembari membalas pelukan Marissa kemudian menyerahkan sebuah kado untuk sahabatnya itu.


Mata Marissa membulat saat menatap kado tersebut. "Apa ini? Jangan bilang kamu kasih aku lingerie juga, ya," tanya Marissa.


"Bukan, tapi ini lebih dahsyat!" jawabnya.


"Apaan?" Marissa semakin penasaran.


"Ramuan tradisional dari Mak mertua biar kuat semalaman!" celetuk Erika yang kemudian tergelak setelahnya.


"Hhhh! Kamu ini."


"Sayang," tegur Fattan lagi. Lelaki itu meraih lengan Erika kemudian memeluknya.


"Iya, iya, maafkan aku."


"Sudahlah, Fattan. Mereka memang seperti itu," sela Marcello sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan lelaki itu.


"Selamat sekali lagi ya, Tuan Marcello."


"Terima kasih banyak," sahutnya.


Setelah berbincang singkat, mereka pun mulai berfoto ria disana.


Sementara itu.

__ADS_1


Bi Ani terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya yang anggun, berwarna silver. Senada dengan warna gaun pengantin yang sedang dikenakan oleh Marissa. Wanita cantik berusia 38 tahun sedang duduk disalah satu tempat duduk untuk para tamu undangan, menikmati jus buah kesukaannya.


Disaat ia bangkit dan membawa gelas minuman itu bersamanya, tanpa sengaja ia menabrak tubuh besar salah seorang tamu undangan Tuan Marcello. Gelas jus buah yang ada di tangannya tumpah dan mengenai setelan jas lelaki itu.


Brugkh!


"Ah, maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Bi Ani panik.


Ia meraih tissue yang ada diatas meja dan ingin membersihkan noda di setelan jas lelaki tersebut.


"Ah, tidak apa-apa, kok. Ini masih bisa dibersihkan," sahut lelaki itu sembari memperhatikan wajah cantik Bi Ani dengan seksama.


Perlahan Bi Ani mengangkat kepalanya dan menengadah menatap lelaki itu. Matanya membulat sempurna setelah menyadari siapa lelaki yang sedang berdiri di hadapannya.


"Tuan Abraham?!"


"Dian?!"


Pekik mereka bersamaan.


"Dian, ini benar kamu, 'kan?!" tanya lelaki itu sambil memegang tangan Bu Ani dengan erat agar wanita itu tidak dapat menghindar darinya.


"Lepaskan saya, Tuan! Semua orang melihat kearah kita," tegas Bi Ani.


Lelaki itu melihat ke sekelilingnya dan apa yang dikatakan oleh Bi Ani benar. Tuan Abraham dan Bi Ani menjadi tontonan oleh orang-orang di samping mereka.


"Kemarilah, ikuti aku!"


Tuan Abraham menarik paksa tangan Bi Ani dan menuntunnya menuju tempat yang jauh dari keramaian pesta. Marcello sempat memperhatikan kedua orang itu dari tempatnya berdiri.


"Dian ... dan Riyadh? Sedang apa mereka? Apakah mereka saling mengenal?" gumamnya.


"Ada apa, Dad?" tanya Marissa.


"Bukan apa-apa," sahut Marcello sambil tersenyum hangat kepada sang istri.

__ADS_1


Marcello melirik Joe yang berdiri tak jauh darinya. Ia memberi isyarat agar Asistennya itu mendekat. Joe begitu hapal dengan isyarat dari Marcello dan segera menghampiri Big Bossnya tersebut.


"Ada apa, Tuan?" tanya Joe.


"Coba kamu selidiki apa yang sedang dilakukan oleh Dian dan Riyadh di ruangan kosong itu!" Marcello menunjuk sebuah ruangan, dimana Riyadh membawa Dian bersamanya.


"Coba dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Aku curiga, jangan-jangan yang disebut oleh Dian sebagai Tuan Abraham itu adalah Riyadh, sahabatku."


"Baik, Tuan."


Joe bergegas menuju tempat yang dimaksud oleh Marcello dan mulai mengitip apa yang dilakukan oleh kedua orang itu.


"Apa, sih?!" tanya Marissa yang semakin penasaran.


"Bukan apa-apa, Sayang. Aku cuma kehausan dan meminta Joe untuk mengambilkan minuman untukku," kilahnya.


Sementara itu.


"Zaid, dimana Papamu? Kenapa sampai sekarang ia belum juga kelihatan batang hidungnya? Bukankah ia bilang hanya ingin mengambil ponselnya yang ketinggalan di mobil?" gumam Ismika kepada anak semata wayangnya, Zaid Hanif Abraham, lelaki tampan berusia 21 tahun.


Ketika Ibunya mengajak bicara, Zaid malah asik memperhatikan Marissa dari tempat duduknya. Mata elang lelaki itu bahkan tidak berkedip sama sekali ketika menatap mempelai wanita yang masih menyambut para tamu undangan.


"Zaid?!" tegur sang Ibu yang kesal karena ucapannya tidak di gubris oleh pemuda itu.


"Ehm, palingan juga lagi ngobrol sama salah satu rekan bisnisnya," jawabnya acuh tak acuh.


Ismika menoleh kepada Zaid. ia mencari tahu apa yang sedang diperhatikan oleh anak lelakinya dan akhirnya Ia pun tersenyum setelah mengetahui siapa yang sedang diperhatikan oleh pemuda itu.


"Sudah lupakan saja! Dia sudah jadi milik Tuan Marcello," goda Ismika sambil menepuk pundak Zaid.


"Yah, sayang sekali! Padahal Tuan Marcello itu sudah tua. Lebih cocok menjadi ayahnya daripada menjadi suaminya," gerutu Zaid sambil tersenyum kecut.


...***...


Nah, hayooo ... udah terkuak semuanya, 'kan! 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2