Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 196


__ADS_3

"Bagaimana Sofia, Om?" Marissa ketika Joe memasuki ruangan Shakila dengan wajah semringah. 


"Ia sudah melahirkan dan seperti yang dikatakan oleh Dokter, kami mendapatkan sepasang bayi kembar."


"Syukurlah kalau begitu. Aku pun ikut senang mendengarnya," ucap Marissa.


Sebelum Marissa membawa Shakila kembali ke mansion, Marissa berniat mengajak gadis mungil itu menemui Sofia yang masih dalam perawatan pasca melahirkan.


Perlahan Marissa membuka pintu ruangan dimana Sofia masih terbaring lemah. Sofia tersenyum hangat menyambut kedatangan Marissa saat itu.


"Nona," sapanya.


"Selamat ya, Sofia. Aku turut bahagia."


Marissa menghampiri tempat tidur Sofia bersama Shakila yang berada dipelukannya.


"Mommy!" seru Shakilla sambil mengulurkan tangannya kepada Sofia.


Sofia meraih tangan mungil Shakila dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin sekali menyambut gadis mungil itu, tetapi karena kondisinya yang masih sangat lemah, Sofia pun terpaksa menolaknya.


"Maafkan Mommy, Shakila. Mommy tidak bisa menggendong Kila, tapi Mommy janji jika nanti Mommy sudah sehat lagi, Mommy bakal gendong Kila, ya," bujuk Sofia.


Wajah Shakila terlihat sedih ketika Sofia menolaknya.


"Sofia, aku sudah minta izin sama Om Joe bahwa aku ingin membawa Shakila bersamaku untuk sementara waktu. Sementara kalian--,"

__ADS_1


"Ya, Nona. Mas Joe sudah bicara padaku dan aku sangat berterima kasih karena Nona sudah bersedia membantu kami merawat Shakila untuk sementara. Aku berjanji, Nona. Nanti, setelah keadaanku sudah mulai membaik, aku akan menjemput Shakila kembali," jawab Sofia sembari menggenggam tangan Marissa.


Marissa tersenyum puas karena Sofia juga mengizinkannya untuk merawat Shakila sementara waktu.


"Oh ya, Sofia. Aku ingin pulang dulu, Daddy sudah menungguku di mobil. Kamu tahu 'kan bagaimana Daddy?"


"Ya, Nona. Tentu saja," jawab Sofia.


Sebelum Marissa pergi bersama Shakila, Sofia sempat memberikan ciuman hangatnya ke puncak kepala gadis mungil itu.


"Bye, Shakila."


"Bye, Mommy!" ucap Marissa sembari melambaikan tangan mungil Shakila ke arah Sofia.


Setelah Marissa dan Shakila pergi dari ruangan itu, Sofia pun kembali melanjutkan istirahatnya.


Marcello menyambut kedatangan Marissa dan Shakila dengan wajah semringah. Begitupula kedua anak kembarnya, mereka terlihat bahagia ketika Shakila masuk ke dalam mobil tersebut.


"Nona, saya titip Shakila." Wajah Joe nampak sedih saat mengucapkan hal itu kepada Marissa.


"Ya, Om. Tentu saja," sahut Marissa.


"Kamu tidak perlu khawatir, Joe. Shakila sudah seperti putri kami. Kami pastikan Shakila akan baik-baik saja bersama kami. Sebaiknya kamu fokus saja sama Sofia dan kedua bayimu," ucap Marcello.


"Terima kasih banyak, Tuan."

__ADS_1


Mobil yang membawa Marcello dan keluarga kecilnya pun melesat pergi meninggalkan Rumah Sakit tersebut dan memecah jalan raya menuju mansion megah mereka.


Di perjalana menuju mansion.


Marvel terus menyunggingkan sebuah senyuman manis kepada Shakila. Sedangkan Melvin tidak hentinya menciumi pipi mungil Shakila.


"No, no, no!" ucap Shakila sambil mengoyangkan jari mungilnya kepada Melvin.


"Nah 'kan! Kak Melvin sih bandel. Sudah dibilang kalau mau cium Dede Kila itu jangan serakah, marah 'kan Dede kila-nya," ucap Marissa kepada putra gesitnya, Melvin.


Melvin hanya cengengesan sambil menatap Marissa dan Marcello secara bergantian.


"Eh, Daddy. Aku heran sama sikap Marvel dan Melvin. Mereka 'kan kembar, kenapa bisa beda gitu sikapnya? Sifat mereka itu bagai bumi dan langit, bertolak belakang satu sama lain," tutur Marissa sembari membenarkan posisi tubuh Shakila yang sedang duduk di pangkuannya.


"Ya, beda lah. Itu artinya mereka punya karakter masing-masing. Wajah mereka 'kan sama, bahkan sulit untuk dibedakan. Kalau sifatnya juga sama, lalu bagaimana caranya membedakan mereka?" tutur Marcello sambil terkekeh pelan.


"Kalo menurutku ya, Melvin itu sifatnya persis seperti Daddy. Sedangkan Marvel itu menurun dari sifatku," ucap Marissa yakin.


Marcello mencebikkan bibirnya sambil menatap Marissa. "Kenapa kamu bilang begitu?"


"Coba lihat Melvin, dia itu suka sekali nyosor-nyosor kayak angsa kalau lihat bocah cantik, persis seperti Daddy, 'kan! Gak Shakila, gak Alifa, semuanya disosor. Nah, beda sama Marvel, dia itu terlihat tenang dan adem, persis seperti diriku."


"Cih, mana ada! Kamu, tenang?!" Marcello terkekeh pelan setelah mendengar pengakuan lucu Marissa.


Marissa menekuk wajahnya sambil memperhatikan Marcello yang masih tertawa, menertawakan dirinya.

__ADS_1


"Apa kamu lupa siapa yang menggantung di balkon kamar dengan menggunakan seprei? Pagi-pagi sudah membuat onar satu mansion, itu yang kamu sebut tenang?!" Marcello kembali tertawa lepas tanpa mempedulikan wajah kesal Marissa saat itu.


__ADS_2