Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 188


__ADS_3

Apa yang dikhawatirkan ternyata benar. Kondisi Sofia semakin lemah saja. Ia bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.


"Kepalaku pusing sekali, Mas. Obat yang dikasih oleh Dokter ternyata tidak berpengaruh sama sekali," keluh Sofia sambil memijit kepalanya dengan mata terpejam.


Joe menghampiri Sofia kemudian mencoba memberikan pijatan di kepala istri kecilnya. "Sini, biar aku pijat. Siapa tahu rasa sakitnya bisa berkurang."


"Terima kasih, Mas. Oh ya, bagaimana Shakila? Apa dia baik-baik saja?" tanya Sofia dengan mata yang masih tertutup rapat.


Joe melirik tempat tidur bayi Shakila dan ternyata bayi perempuan itu masih tertidur dengan nyenyaknya.


"Dia bayi yang pintar, Sofia. Mungkin dia mengerti bagaimana keadaanmu sekarang," sahut Joe.


Beberapa jam kemudian.


Di saat Joe dan Sofia mulai larut di alam mimpinya, tiba-tiba Shakila terbangun dan menangis. Bayi mungil itu kehausan karena sudah beberapa jam belum menyentuh botol susunya.


Joe tersentak kaget mendengar tangisan Shakila kemudian segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri tempat tidur bayi mungil tersebut.


"Hhussshhh ...."


Perlahan Joe mengangkat tubuh mungil Shakila kemudian mencoba menenangkannya. Alih-alih tenang, tangis Shakila malah semakin kencang saja. Sofia pun sampai terbangun dari tidurnya.


"Ehm, Sofia. Bagaimana cara membuat susu untuknya? Sepertinya Shakila sudah kehausan," tanya Joe sembari memperhatikan bayi Shakila yang masih menangis histeris dalam pelukannya.


Sofia pun menjelaskan bagaimana cara membuat susu yang pas untuk Shakila. sedangkan Joe mendengarkan dengan seksama kemudian segera membuatkan susu tersebut sesuai dengan petunjuk Sofia.


Setelah selesai membuat susu, Joe segera memberikan susu tersebut kepada Shakila. Dengan lahap, bayi Shakila menyedot botol susunya.


"Kasihan sekali kamu, Nak. Sepertinya kamu benar-benar kehausan," gumam Joe.


Setelah botol susu itu kosong, bayi Shakila kembali menangis histeris. Joe kembali kebingungan dibuatnya. Mungkin malam ini adalah malam yang penuh perjuangan bagi Joe. Ia harus menjaga dan menyiapkan semua kebutuhan bayi mungil tersebut sendirian.

__ADS_1


"Apa lagi, ya? Kenapa kamu menangis lagi, Nak?" tanya Joe sambil menautkan kedua alisnya.


"Coba deh cek popoknya, Mas. Mungkin popoknya sudah penuh," ucap Sofia, masih dengan mata yang terpejam.


"Benarkah?"


Joe mulai memeriksa popok bayi Shakila dan ternyata benar, bayi mungil itu merasa tidak nyaman kerena dia sedang poop.


"Oh, Tuhan!" pekik Joe yang seumur-umur belum pernah berhadapan dengan yang namanya poop bayi.


Sofia sempat terkekeh pelan setelah mendengar suara pekikan suaminya saat itu.


"Hanya untuk malam ini saja, Mas. Besok malam sudah ada Babysitter baru yang akan merawat Shakila."


"Diapakan ini, Sofia? Aku bingung," tanya Joe sembari menggaruk kepalanya.


"Gunakan tissu basah, Daddy Joe."


Dengan sangat hati-hati, Joe pun mulai membersihkannya. Akhirnya bayi Shakila kembali tertidur nyenyak setelah merasa nyaman dan perutnya pun kenyang.


Keesokan harinya.


"Apa yang terjadi padamu, Joe?" tanya Marcello sambil terkekeh pelan melihat wajah lelah Joe.


"Tadi malam saya begadang, Tuan," jawab Joe seraya membukakan pintu mobil untuk Marcello.


"Haha! Akhirnya kamu merasakan apa yang aku rasakan, bukan? Bagaimana rasanya merawat bayi, nikmat 'kan Joe?!" goda Marcello sambil tergelak.


"Ya, Tuan. Benar-benar nikmat," jawab Joe.


"Heh! Sebaiknya suruh Bodyguard yang menyetir. Aku tidak ingin perjalanan kita kenapa-napa," ucap Marcello karena sepertinya Joe benar-benar kelelahan.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Sementara itu di kamar Sofia.


"Bagaimana keadaanmu, Sofia? Apa kamu sudah sarapan?" tanya Marissa sembari menghampiri Sofia yang masih tergolek atas tempat tidur.


"Aku belum bisa makan apa-apa, Nona. Setiap kali makanan masuk ke dalam perutku, sekejab kemudian pasti bakal keluar lagi," sahut Sofia.


Marissa tersenyum kemudian mengelus lengan Sofia dengan lembut.


"Hmm, mungkin seperti itulah yang dirasakan oleh Daddy dulu. Ia juga sama seperti dirimu. Hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur sambil merasakan rasa pening di kepalanya." Marissa teringat akan Marcello yang mengalami morning sickness menggantikan dirinya.


"Oh ya, Sofia. Sementara Babysitter yang akan merawat Shakila belum tiba, bolehkah aku membawa bayi mungil itu bersamaku?"


Sofia membuka matanya kemudian tersenyum kepada Marissa.


"Dengan senang hati, Nona. Maaf karena sudah merepotkan, Nona Marissa," sahut Sofia dengan mata berkaca-kaca.


"Aku malah senang, Sofia. Karena aku memang menyukai anak-anak tapi sayang sampai saat ini Marvel dan Melvin belum juga dikasih Adik. Padahal setiap malam aku selalu di gempur sama Daddy Marcello. Apa Daddy sudah tidak tokcer lagi, ya? Soalnya 'kan usianya sudah tua juga," ucap Marissa sambil tergelak.


"Ah, Nona bisa saja. Tua'an mana sama Mas Joe?"


"Suami kita itu sama-sama tua, Sofia. Seharusnya mereka bersyukur karena mendapatkan daun muda seperti kita," lanjut Marissa.


"Nasib, punya suami tua," balas Sofia yang ikut terkekeh sambil memijit kepalanya yang masih terasa sakit.


"Tapi tua-tua begitu mereka masih menggemaskan. Tidak kalah sama brondong, ya 'kan?!"


"Mungkin saja, Nona. Soalnya aku belum tahu rasanya brondong itu seperti apa. Kalo kedondong baru aku tahu," sahut Sofia.


"Ish, kamu."

__ADS_1


...***...


__ADS_2