
Srekkk ... sreekkk ... (Suara orang yang sedang berusaha membuka pintu rumah Bu Nilam)
[ berhubung Author gak tau bunyinya kek gimana, jadi ya udah tulis aja kek begitu 😂]
"Loh, beneran 'kan itu! Ada seseorang yang ingin mencoba masuk," gumamnya.
Perlahan Marissa bangkit kemudian ia melangkah keluar dari kamar Bu Nilam dengan mengendap-endap. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu untuk berjaga-jaga hingga matanya tertuju pada sapu yang terletak disalah satu pojokan rumah.
"Ah, itu dia!"
Setelah mengambil sapu tersebut, Marissa mengangkat sapu itu dengan posisi siap memukul. Ia berdiri disamping pintu dan siap memukul seseorang yang mencoba masuk kedalam rumah Bu Nilam.
"Awas saja kamu, ya! Kalau tidak babak belur, jangan sebut namaku Marissa!" gumamnya.
Bu Nilam terbangun dari tidurnya karena mendengar suara pintu kamar yang terbuka ketika Marissa keluar dari kamar tersebut.
"Loh, Marissa mana?"
Bu Nilam segera bangkit kemudian meraih sweater yang tergantung tak jauh dari tempat tidur untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin. Setelah selesai mengenakan sweater tersebut, Bu Nilam melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan mencari keberadaan gadis itu.
Ia menemukan gadis itu sedang berada didepan pintu utama dengan posisi siap memukul. Bu Nilam sempat tersenyum melihat tingkah konyol gadis itu.
"Sshtt, ada apa?" tanya Bu Nilam dengan suara yang pelan.
"Eh, Ibu! Bikin Marissa kaget aja. Sepertinya ada yang mencoba masuk, Bu. Tapi Ibu tenang saja, ada Marissa disini. Ibu jauh-jauh, ya! Biar Marissa pukul tu orang sampai babak belur," sahutnya setengah berbisik dengan wajah yang sangat serius.
Baru saja Bu Nilam membuka mulutnya untuk menjawab ucapan Marissa, ternyata pintu rumahnya benar-benar terbuka.
Ceklekk ...
Pintu pun terbuka dan nampak seorang laki-laki yang mencoba masuk kedalam rumah tersebut. Namun, baru saja lelaki itu muncul, ia sudah mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Marissa.
"Ciyatttt!!! Rasakan ini kamu, Maling!!!"
__ADS_1
Bug ... bug ... bug ...
"Aw, aw, aw!!!" pekik seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Fattan.
Setelah menyadari bahwa yang ia pukul adalah Pak Dosen tampan, Marissa segera melemparkan sapunya ke sembarang arah.
"Ya, Tuhan! Maafkan aku, Pak!!!" pekik Marissa sembari menghampiri lelaki itu.
"Astaga, kamu mengerikan sekali, Marissa!" ucap Fattan sambil mengelus lengannya yang sakit akibat menahan pukulan bertubi-tubi dari Marissa.
"Aduh, Pak! Ampuni aku, aku benar-benar tidak tahu. Aku kira maling yang ingin mencoba memasuki rumah ini," sahut Marissa dengan wajah pucat.
Fattan terkekeh mendengar ucapan gadis itu. Ia menatap wajah pucat Marissa kemudian mengacak puncak kepala gadis itu dengan lembut.
"Ya, sudah tidak apa. Lagipula aku suka gayamu, Marissa. Kamu cocok menjadi Bodyguard untuk Ibuku," ucapnya sambil tergelak.
"Icha sayang, kejutan!!!"
Marissa mengenali suara seseorang yang menyebut namanya dengan sebutan 'Icha' dan ia sangat merindukan gadis tersebut. Marissa menoleh dan segera memeluk sosok gadis yang bediri tepat dibelakang Fattan.
"Aku juga sangat merindukanmu, Icha sayang. Makanya aku rela ikut kesini hanya untuk berjumpa denganmu," sahut Erika.
Bu Nilam menatap anak laki-lakinya dengan mata membulat. Ia bingung, siapa yang akan menjadi calon menantunya diantara dua gadis tersebut.
"Jadi, calon mantu Ibu yang mana, Fattan?!" tanya Bu Nilam.
Sontak saja, ketiga orang tersebut menggelengkan kepala mereka dengan cepat.
"Bukan, Bu. Kenapa Ibu bisa berkata seperti itu?" ucap Fattan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Fattan benar-benar malu mendengar ucapan Ibunya. Sedangkan Marissa dan Erika hanya terdiam sambil menatap Bu Nilam dengan wajah heran.
"Dua-duanya juga boleh, sih!" sahut Bu Nilam sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ah, Ibu." Wajah Fattan semakin memerah menahan malu.
"Marissa, ajak temannya duduk, gih! Dia pasti lelah. Perjalanan dari kota kesini 'kan sangat melelahkan," ucap Bu Nilam.
"Iya, Bu," sahut Marissa. "Mari, Erika. Kita duduk dulu," ajak Marissa.
Marissa mengajak Erika duduk di kursi yang ada diruangan itu. Sedangkan Bu Nilam kembali ke kamarnya.
"Kalian ngobrol aja, ya. Aku mau mandi dulu," ucap Fattan sambil berlalu menuju kamar mandi.
Dan kini tinggal Marissa dan Erika yang masih berada didalam ruangan itu. Erika memperhatikan penampilan Marissa yang terlihat jauh berbeda dari Marissa yang ia kenal sebelumnya.
"Cha, kamu make daster?" tanyanya sambil terkekeh.
Marissa tahu Erika sedang mengejeknya. Ia menekuk wajahnya sambil menatap gadis itu dengan wajah malas.
"Aku tidak punya pilihan lagi, Erika. Kamu senang 'kan melihat penampilanku yang seperti ini?" sahutnya.
"Sejujurnya, iya!!!" Erika tergelak tanpa mempedulikan jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 23.00.
"Dasar!!!" gerutu Marissa sambil membuang muka.
Tanpa sepengetahuan mereka, seorang lelaki berpakaian serba hitam sedang memperhatikan kediaman Bu Nilam dari dalam mobilnya sambil menyeringai.
Lelaki itu kembali melajukan mobilnya dan meninggalkan kediaman Bu Nilam setelah ia puas mengintai mereka dari kejauhan.
"Akhirnya aku menemukan gadis itu!" gumam lelaki itu sambil mencari sesuatu dari dalam saku jacket tebalnya.
Ia meraih ponsel miliknya kemudian mencoba menghubungi seseorang. Namun, karena di Desa itu belum ada sinyal, ia pun harus kembali berjuang keluar dari Desa tersebut untuk mencari sinyal agar bisa menghubungi seseorang yang jauh disana.
. . .
"Tuan, aku sudah menemukan keberadaannya."
__ADS_1
"Bagus, pantau terus tapi jangan sampai kamu ketahuan!" sahut seseorang dari seberang telepon dengan sangat antusias.
...***...