Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 89


__ADS_3

"Sebenarnya--" Bi Ani mulai mengingat-ingat kejadian kelam, 19 tahun yang lalu, dimana ia membuang Marissa di samping panti asuhan.


Flash Back On


Malam itu Dian Maharani (Ani), gadis cantik berusia 18 tahun, sedang kebingungan didalam kontrakan sempitnya. Wajahnya memucat akibat menahan rasa sakit yang amat sangat di perutnya yang membesar.


"Ya Tuhan, aku tidak kuat lagi!" rintihnya sambil berpegangan pada dinding kamarnya.


Cairan keruh bercampur darah itu terus keluar diantara kedua kakinya. Ia ingin meminta tolong pada tetangga-tetangganya, tetapi ia malu. Warga disekitar kontrakannya pun tidak ada yang menyadari bahwa dirinya sedang hamil. Ia bahkan tidak memiliki uang untuk meminta pertolongan kepada Bidan.


Dian (Ani) pasrah akan nasibnya dan juga bayi yang akan segera keluar dari rahimnya. Dengan tergopoh-gopoh, Dian menuju kamar mandi kemudian duduk bersandar di dindingnya.


Rasa sakit itu kembali menyerangnya. Rasa sakit yang amat sangat, yang tidak pernah terbayangkan olehnya selama ini. Bahkan keringat dingin terus mengucur di pelipisnya.


"Aku bisa! Aku pasti bisa!!!" gumam Dian sambil mengejan.


Setelah satu jam Dian bergelut dengan rasa sakitnya, akhirnya seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan, lahir dengan selamat tanpa kurang apapun.


Dian yang sudah lemas, perlahan meraih bayi mungil tersebut kemudian menggendongnya. Ia menatap bayi cantik, berhidung mancung dan dengan rambut tebal itu sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali, Nak. Hidung dan bentuk matamu persis seperti Ayahmu," gumam Dian sembari mengelus lembut pipi mungil bayi cantik itu.


Suara tangisnya sempat terdengar tapi hanya sebentar. Setelah itu ia pun mulai anteng. Dengan menggunakan tenaga yang tersisa, Dian membersihkan bayi mungil itu dan juga dirinya.


Ia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan memiliki seorang bayi di usianya yang masih sangat muda dan dalam status yang masih 'belum menikah'.


"Apa yang harus aku lakukan dengan bayi ini? Aku tidak mungkin merawatnya. Apa yang akan dikatakan oleh paman dan bibiku di kampung?" gumamnya.


Tiba-tiba saja terlintas dipikirkannya ide gila yang tidak pernah terpikir sama sekali olehnya. "Apa aku harus membuang bayi ini? Tapi kemana aku harus membuangnya? Aku ingin bayi ini aman dan dirawat oleh orang yang menyayanginya," gumam Dian.


Dian berpikir keras, hingga akhirnya ia mendapatkan ide untuk membuang bayi mungil itu ke samping Panti Asuhan, yang jaraknya lumayan jauh dari kontrakannya. Wanita muda itu mulai mempersiapkan dirinya kemudian segera membawa bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya itu pergi dari kontrakan.


Dian meraih sebuah kotak air mineral yang ia temukan dipinggir jalan kemudian meletakkan bayi mungil itu sambil terisak.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu terpaksa melakukannya," gumamnya.


Sambil memperhatikan sekelilingnya, Dian mulai berjalan menghampiri Panti Asuhan dan meletakkan kotak berisi bayi mungil itu disana. Setelah selesai melakukan tugasnya, Dian segera berlari dan bersembunyi dibalik rumah salah satu warga dan mengintip bayi itu dari kejauhan.


Detik berganti menit dan menit pun akhirnya berganti jam. Dian yang tadinya mulai putus asa karena tidak ada yang memungut bayinya, berniat ingin mengambil kembali bayi itu. Tetapi, baru saja ia melangkahkan kakinya, bayi mungil itu menagis histeris karena mulai kedinginan dan kehausan.

__ADS_1


Dian mengurungkan niatnya dan tetap mengintip dari balik rumah warga. Hingga akhirnya, seorang wanita keluar dari panti asuhan tersebut dan menghampiri kotak berisi bayi mungilnya. Wanita itu kebingungan, ia memperhatikan sekelilingnya, tetapi karena tak ada satupun orang disana. Tanpa pikir panjang, wanita itupun segera membawa bayi mungil tersebut masuk kedalam panti.


"Semoga kamu bahagia, Nak."


Flash Back Off


Marcello mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak menyangka bahwa selama ini Dian (Ani) adalah ibu kandung dari Marissa. Begitupula Joe, lelaki dingin dan kejam itupun terlihat shok setelah mendengar cerita Dian (Ani) 19 tahun yang silam.


"Oh, Tuhan!" gumam Marcello sambil membuang napas kasar.


"Hampir setiap hari saya mengunjungi panti asuhan tersebut walaupun hanya dari kejauhan. Paling tidak, saya bisa melihat putri saya ketika mereka sedang mengajaknya berjemur atau sekedar membawanya jalan-jalan di halaman panti asuhan."


Dian meraih tissue yang ada diatas meja kerja Marcello kemudian menyeka air matanya yang masih saja mengalir tanpa henti dengan tissue tersebut.


"Hingga suatu hari Tuan Marcello dan Nyonya Melinda berkunjung ke Panti Asuhan untuk mengadopsi bayi saya. Saat itu saya ketakutan, saya takut tidak dapat bertemu dengan Putri saya lagi. Saya mencoba mendekati Nyonya Melinda dan menawarkan jasa sebagai Babysitter. Dan saat itu saya merasa sangat beruntung karena Nyonya Melinda adalah wanita yang baik, ia bersedia menerima saya dan memperkerjakan saya sebagai Babysitter yang akan membantunya mengurus Marissa kecil," lanjut Dian sambil mengusap air matanya.


"Jadi, siapa sebenarnya Ayah kandung Marissa?" tanya Marcello.


Dian terdiam. Terlalu sulit untuknya mengungkapkan siapa Ayah kandung Marissa yang sebenarnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2