
Didalam mobil,
Marissa masih menekuk wajahnya sambil memperhatikan Joe yang sedang mengendarai mobilnya.
Bugkh!!! Marissa menendang jok depan, tempat dimana Joe duduk sambil mengemudikan mobilnya.
"Om, kalian memata-matai aku, 'kan? Katakan saja sejujurnya, tidak usah mengelak," kesal Marissa.
Joe menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya, tetapi Marissa sama sekali tidak mengetahuinya. Lelaki itu diam tanpa berkeinginan menjawab pertanyaan dari Gadis itu.
"Om Joe!!!" geram Marissa sambil mendorong-dorong pundak Joe yang masih tidak mempedulikan dirinya.
"Ish, kesal!!! Kalian sama saja, tidak Boss, tidak Asistennya, sama-sama menyebalkan!" gerutu Marissa sambil menendang jok itu sekali lagi dengan lebih keras.
Bugkh!!!
"Aw!" pekik Marissa sambil mengelus kakinya yang sakit.
Joe hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Gadis itu.
"Jangan tertawakan aku!" kesal Marissa karena melihat bahu Joe yang turun naik.
Setelah beberapa menit, mobil itupun berhenti tepat didepan gerbang kampus Marissa. Ia bergegas masuk ke kampusnya tanpa permisi kepada Asisten Daddy-nya itu.
Ketika Marissa berjalan menuju ruangannya, tak sengaja ia bertabrakan dengan Fattan.
"Aw!" pekik Marissa ketika ia ditabrak oleh lelaki bertubuh besar itu. Ia jatuh ke lantai dengan posisi tubuh bagian belakang mendarat terlebih dahulu.
"Maafkan aku, Marissa. Aku tidak sengaja!" ucap Fattan sembari membantu Marissa bangkit dari tempat ia terjatuh.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantu saya," sahut Marissa sambil mengelus bokongnya yang sakit.
Fattan memberikan senyuman yang sangat manis untuk Marissa kemudian Gadis itupun membalasnya.
"Aku permisi dulu, ya! Selamat pagi." Fattan pun melanjutkan langkahnya. Namun, baru beberapa langkah, Marissa kembali memanggil lelaki itu.
"Pak! Bisakah kita bicara sebentar saja?" tanya Marissa.
Fattan pun berbalik dan kembali menghampiri Marissa. "Ya, ada apa?" tanya Fattan.
"Ehm, nanti malam Daddy saya mengadakan acara pertunangan. Maukah Bapak menemani saya di acara itu? Saya sendirian dan tidak punya teman, sedangkan sahabat saya tidak bisa berhadir karena ada keperluan mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan." tutur Marissa kepada Fattan.
Ya, Erika baru saja menghubungi Marissa dan mengatakan bahwa dia tidak bisa berhadir di Pesta Pertunangan Daddy EL. Sebab ada sesuatu hal yang tidak dapat ditinggalkan oleh Gadis itu. Mau tidak mau, Marissa pun mengiyakan keinginan sahabatnya itu.
Fattan nampak menimbang-nimbang, pertemuan terakhirnya bersama Tuan Marcello, membuat Fattan agak bergidik ngeri. Belum lagi para Bodyguard yang berdiri dibelakang Pria itu. Mereka siap mengeksekusi siapapun yang mereka anggap musuh.
"Ehm, terima kasih, Pak! Aku terharu sekali mendengarnya!" sahut Marissa.
. . .
Malam harinya, di Mansion Marcello.
Pesta pertunangan itupun dimulai. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah rekan bisnis Marcello dan teman-teman sosialita Wanita Penyihir itu.
Bagi seorang Marcello, pesta pertunangannya kali ini adalah pesta yang sangat sederhana, tetapi tidak bagi Marissa. Bagi Marissa acara pertunangan yang dilaksanakan oleh Marcello adalah acara paling meriah yang pernah ia lihat dan ia kunjungi.
Sebagai Putri dari seorang Marcello Alexander, Marissa pun di rias secantik mungkin dan pakaian yang ia kenakan saat ini adalah pakaian yang paling mahal dan paling mewah yang pernah dikenakan oleh Gadis itu.
Malam ini Sarrah tampil begitu cantik dan elegan. Serasi dengan penampilan Marcello yang terlihat lebih keren dari hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
"Dimana Marissa? Sejak tadi aku tidak melihatnya?" bisik Marcello kepada Joe.
"Tadi saya lihat Nona Marissa berdiri di gerbang depan. Mungkin dia sedang menunggu kedatangan temannya," sahut Joe.
"Pantau terus Gadis itu, Joe. Aku tidak ingin dia melakukan hal yang aneh," sambung Marcello.
Sementara itu didepan gerbang utama Mansion Marcello.
Marissa berdiri disana bersama para Penjaga Keamanan. Tak seorangpun berani melihat ke arahnya, walaupun penampilan Marissa saat itu terlihat sangat cantik dan nyaris sempurna.
Itu semua karena Joe sudah membuat perjanjian kepada seluruh Pekerja di Mansion, khususnya untuk Pekerja laki-laki. Mereka tidak diperbolehkan melihat kecantikan Marissa, apalagi sampai memperhatikan kemolekan tubuhnya. Tuan Marcello tidak ingin siapapun melirik apalagi memperhatikan Gadis kesayangannya itu.
Dan siapapun yang berani melanggar peraturan yang telah ia buat, maka bersiap-siaplah untuk dipecat tanpa pesangon sedikitpun. Tentu saja mereka ketakutan setelah mendengar hukuman yang akan mereka dapatkan.
Tidak berselang lama, sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan gerbang. Para keamanan memeriksa seseorang yang sedang duduk dibalik kemudi.
"Mana undangannya?" tanya salah seorang penjaga keamanan.
"Ehm, saya ..."
"Dia bersama saya, Pak!" sela Marissa sambil berlari kecil menuju mobil itu.
Marissa masuk kemudian duduk disamping lelaki yang sedang mengenakan kemeja berwarna biru malam yang dipadukan dengan celana berwarna hitam. Lelaki itu melemparkan sebuah senyuman hangat ketika menatap Marissa yang kini duduk disampingnya.
"Terima kasih, Pak!" ucap Marissa sembari melambaikan tangannya kepada para penjaga keamanan.
Para penjaga keamanan itu tidak kuasa melarang Fattan memasuki Mansion tersebut karena keberadaan Marissa disampingnya.
...***...
__ADS_1