
"Bagaimana hasilnya, Dokter?" tanya Joe yang sudah tidak sabar ingin tahu hasil dari test DNA tersebut.
"Hasilnya 99% cocok, Tuan Joe. Nona Shakila dan Nona Aira kemungkinan besar memang saudar kembar."
Shakila dan Aira pun saling berpelukan satu sama lain. Mereka menangis haru karena setelah dua puluh tahun lamanya, mereka baru tahu bahwa ternyata mereka memiliki saudara kembar.
Joe memeluk kedua gadis itu sambil tersenyum puas. "Sekarang semuanya sudah jelas. Kalian memang saudara kembar dan sekarang tugas Daddy tinggal satu, mencari tahu siapa orang tua kandung kalian."
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Om," sahut Aira.
"Sama-sama."
Setelah semuanya selesai, Joe dan kedua gadis kembar itupun kembali ke mobil.
"Oh ya, Aira. Hari ini Mommy Icha ingin mengadakan acara ulang tahun kejutan untuk Maria. Kamu ikut, ya!" ajak Shakila.
"Ya, ide yang bagus," sela Joe sembari membuka pintu mobilnya.
"Benarkah? Aku sih mau aja, tapi memangnya aku di undang?" ucap Aira.
"Kalau soal itu, kamu tenang saja," sahut Shakila.
Sementara itu di mansion.
"Bagaimana persiapan pesta kejutannya, apakah semuanya sudah siap?" tanya Marcello kepada Marissa yang terlihat sangat sibuk mengatur acara kejutan untuk Putri kesayangannya.
"Sedikit lagi, Dad, dan semuanya akan beres. Tinggal menunggu kedatangan gadismu itu," jawab Marissa.
"Baguslah kalau begitu." Marcello meneruskan langkahnya dan meninggalkan Marissa dengan kesibukannya.
Sementara Marissa masih sibuk mempersiapkan acara kejutan untuk Maria. Di kediaman Dylan, acara ulang tahun sederhana ala pasangan Kitty dan Emon baru saja selesai.
"Terima kasih atas pestanya, Emonku. Aku sudah kehabisan kata-kata dan tidak tahu harus berkata apa lagi selain ucapan terima kasih," ucap Maria, wajah gadis itu belepotan dengan krim kue ulang tahunnya.
"Sama-sama. Terima kasih juga karena sudah memberi warna berbeda dalam hidupku, My Kitty. Aku mencintaimu," sahut Dylan sembari merengkuh tubuh Maria ke dalam pelukannya.
"Om,"
__ADS_1
"Ya?"
Maria mendongakkan kepalanya menatap wajah Dylan yang sedang memeluknya dengan erat.
"Bolehkah aku bertanya tentang Kakakmu sekali lagi?"
Dylan melerai pelukannya kemudian menatap gadis itu dengan seksama. "Tanyakanlah,"
"Tadi aku sempat mengajaknya bicara. Dia bilang lelaki jahat itu sudah mengambil mereka darinya. Mereka itu siapa, Om? Dan lelaki itu, apakah kamu mengenalinya?"
"Dia berkata seperti itu padamu?" tanya Dylan serius.
"Ya."
Dylan menghembuskan napas berat dan terlihat jelas di raut wajahnya bahwa lelaki itu sedang bingung.
"Itulah yang selama ini jadi pertanyaan, Maria. Aku bahkan tidak tahu siapa lelaki yang sudah berbuat jahat padanya. Dan aku juga tidak tahu siapa yang ia maksud dengan 'mereka'. Kadang-kadang ucapan Kakakku itu tidak bisa dipercaya. Tapi, aku kenal dengan seorang laki-laki yang pernah berhubungan dengan Kakakku, lelaki kaya yang juga pernah menyia-nyiakan dirinya. Namun, aku belum yakin 100 persen bahwa lelaki itu yang melakukannya, tapi entahlah. Aku tidak ingin menuduh siapapun sebelum semuanya benar-benar terbongkar."
"Boleh aku tahu siapa lelaki itu? Siapa tahu aku kenal dan bisa membantumu membongkar semuanya," ucap Maria dengan wajah serius menatap Dylan.
"Berapa?"
"Satu miliar. Sama seperti hutangku kepadamu," jawab Dylan sambil terkekeh pelan.
"Serius!" Maria membulatkan matanya dengan sempurna. "itu uang semua, Om? Aku bahkan belum pernah melihat uang sebanyak itu," tutur Maria.
"Sebentar lagi kamu akan melihatnya dan akan menjadi milikmu."
Setelah puas berbincang-bincang, Dylan pun bersiap mengantarkan Maria kembali ke mansionnya.
"Bagaimana dengan motorku?"
"Biarkan saja, besok aku yang akan menjemputmu dengan ScooterKitty-mu."
"Janji, ya!"
"Ya!"
__ADS_1
Dylan membukakan pintu mobil untuk Maria dan kemudian merekapun segera berangkat menuju kediaman gadis itu. Di perjalanan, ponsel Maria terus berdering. Sang Mommy terus saja mempertanyakan tentang keberadaannya.
"Ih, Mommy. Kan Maria sudah bilang, Maria lagi di jalan dan sebentar lagi Maria nyampe, kok."
"Baiklah kalau begitu, Mommy cemas, Maria! Karena kamu belum juga kembali," sahut Marissa dari seberang telepon.
Setelah memutuskan panggilannya, Marissa pun segera memerintahkan semua orang yang ingin menyambut kedatangan Maria untuk bersembunyi terlebih dahulu.
"Eh, cepat! Semuanya sembunyi dulu, si Kitty sudah hampir sampai!" pekik Marissa dengan wajah panik.
Semua orangpun mulai mencari persembunyian mereka masing-masing. Tidak ketinggalan, Melvin dan Aira yang sedang berdebat memperebutkan tempat persembunyian untuk mereka.
"Aku disini, kamu cari saja persembunyian yang lain. Inikan mansion kamu, kamu pasti tahulah dimana tempat yang aman untuk bersembunyi," kesal Aira karena Melvin ikut berdesak-desakan dengannya bersembunyi dibalik horden.
"Tapi aku maunya disini, bagaimana? Ini kan mansionku," sahut Melvin sambil tersenyum puas karena gadis itu terjebak bersamanya.
"Hhh!" Aira memutarkan bola matanya, apalagi Melvin sudah mulai iseng menciumi puncak kepalanya.
Berbeda dengan pasangan kembar lainnya. Shakila nampak nyaman berada di samping Marvel. Pasangan itu tidak bicara sepatah katapun. Namun, genggaman tangan mereka mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
Tidak berapa lama, Maria pun tiba bersama Dylan. Pasangan itu nampak bingung karena tidak biasanya mansion terlihat sangat sepi.
"Hallo, Mom?" panggil Maria dengan setengah berteriak.
Tiba-tiba saja, semua orang yang keluar dari persembunyian mereka dan berteriak secara serempak.
"Selamat ulang tahun, Nona Kitty!"
Maria terkejut bukan main, apalagi di ruangan itu semuanya berkumpul. Bahkan Aira pun ada disana untuk ikut merayakan pesta ulang tahunnya.
"Terima kasih, semuanya!" pekik Maria sembari menghambur ke pelukan Marissa dan Marcello secara bergantian.
"Maria kira kalian sudah melupakan hari ulang tahunku, Mom, Dad," ucap Maria dengan mata berkaca-kaca.
"Mana mungkin Gadis Daddy, kamu itu spesial bagi kami!" sahut Marcello.
...***...
__ADS_1