
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" teriak Marcello sambil bertolak pinggang, menatap sang Istri yang masih berdiri di lantai atas.
"Bagaimana, apanya, Dad?"
"Aku mau berangkat kerja ini! Apa kamu akan terus seperti itu dan tidak ingin memberikan aku ciuman seperti biasanya?" tanya Marcello dengan wajah masam.
Joe menggaruk tengkuknya. "Ya Tuhan, Tuan Marcello ... sehari tanpa ciuman dari Nona Marissa tidak akan membuatmu mati, 'kan," batin Joe.
Marissa nampak berpikir sejenak sambil memperhatikan wajah masam Marcello yang menunggu ciuman hangat darinya.
"Ok, ok! Baiklah," ucap Marissa sembari melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, setapak demi setapak hingga akhirnya ia tiba di lantai dasar.
Marissa kembali menutup hidungnya kemudian perlahan menghampiri Marcello. Ia mendekatkan pipinya kepada Marcello agar lelaki itu menciumnya. Namun, Marcello masih kesal dan menyangka bahwa itu semua hanya sandiwara Marissa saja. Ia menarik tangan Marissa yang menutupi hidungnya kemudian melabuhkan ciuman hangatnya di bibir seksi wanita itu.
Emmuach!!!
Tiba-tiba saja ekspresi wajah Marissa berubah. Wajahnya pucat pasi dan ...
Hueeekkk!!!
Marissa hampir saja mengeluarkan isi perutnya. Untung ia masih bisa menahannya dan segera berlari menuju ruang terdekat yang ada westafelnya. Hingga akhirnya, Marissa benar-benar menguras habis isi perutnya hingga ia lemah tak berdaya.
"Cha, kamu kenapa? Maafkan aku, aku tidak tahu bahwa kamu serius," lirih Marcello sembari mengelus punggung Marissa.
"Menjauhlah, Dad. Perutku semakin mual mencium aroma tubuh Daddy," ucap Marissa sembari mendorong pelan tubuh Marcello agar menjauh darinya.
"Tapi kenapa, Cha?"
Marcello mulai putus asa dan bingung harus bagaimana mengahadapi sikap aneh istrinya hari ini.
__ADS_1
"Menjauhlah, Dad. Ku mohon," lirih Marissa.
Marcello memundurkan tubuhnya sambil terus menatap Marissa yang terlihat lemah dan tak berdaya di depan westafel.
"Hari ini aku tidak masuk kerja, Joe. Sepertinya Marissa dalam masalah serius dan aku tidak tahu kenapa. Apa sebaiknya aku mandi lagi, ya?"
Marcello saja sebagai suami Marissa kebingungan, apalagi Joe yang bukan siapa-siapanya.
"Mungkin sebaiknya seperti itu, Tuan."
"Jadi menurutmu sebaiknya aku mandi lagi?"
"Ya, siapa tahu dengan begitu Nona Marissa akan menjadi lebih baik."
"Baiklah, Kalau begitu."
Marcello masih tidak tega meninggalkan Marissa. Ia memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Setelah merasa lebih baik, Marissa pun segera kembali ke kamar utama.
"Entahlah, tiba-tiba saja Nona Marissa bersikap aneh pagi ini," sahut Joe sembari meraih Shakila yang berdiri di samping kaki Sofia bersama kedua adik kembarnya, Lea dan Leo.
"Bersikap aneh seperti apa?" tanya Sofia kebingungan.
"Ya, dia bilang Tuan Marcello itu baunya tidak enak." Joe terkekeh pelan sambil mencium pipi Shakila yang sedang berada di gendongannya.
"Masa, sih?" Sofia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya."
Sementara itu di kamar utama.
__ADS_1
Marissa beristirahat di atas tempat tidur sambil memijit-mijit pelipisnya. Kepala wanita itu masih terasa berputar-putar dan perutnya pun semakin tidak nyaman. Apalagi setelah tadi ia menguras habis isi perutnya.
Sedangkan Marcello masih berada di kamar mandi sambil merendam tubuhnya di Bath Up dengan berbagai macam-macam wewangian. Setelan jas mahal yang ia kenakan tadi pagi pun sudah ia serahkan kepada pelayan untuk di cuci kembali.
"Sebenarnya ada apa dengan Marissa? Apa aku memang benar-benar bau?"
Marcello kembali mengendus ketiak serta bagian tubuh yang lainnya dan masih seperti tadi, ia tidak mencium aroma aneh pada tubuhnya. Malah sebaliknya, tubuhnya begitu wangi.
"Kalau setelah ini Marissa masih bilang aku bau, itu artinya aku harus memanggil Dokter untuk memeriksa indera penciumannya."
Marissa memperhatikan jam yang tergantung di dinding kamar mewahnya dengan seksama. Sekarang ia sadar bahwa suami tercintanya sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
"Loh, jangan-jangan Daddy pingsan lagi," gumam Marissa sembari mencoba bangkit dari tempat tidurnya.
Perlahan Marissa berjalan menuju kamar mandi kemudian memasuki ruangan itu.
"Daddy, kamu baik-baik saja?"
"Marissa?! Sedang apa kamu disini?" tanya Marcello cemas.
Marissa masih menjaga jarak aman sambil memperhatikan Marcello yang berada di dalam Bath Up.
"Maafkan aku, Dad. Sebenarnya aku tidak bermaksud menjauhi Daddy. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak tahan dekat-dekat sama Daddy," lirih Marissa.
"Sebaiknya aku panggil Dokter. Aku rasa indera penciumanmu sedang ada masalah, Cha. Aku takut nantinya malah semakin parah," tutur Marcello.
"Ah, Daddy! Jangan menakuti Icha seperti itu. Icha 'kan jadi takut," ucap Marissa dengan wajah cemas.
"Aku tidak menakutimu, Cha. Aku juga takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu."
__ADS_1
...***...