Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 281


__ADS_3

"Kak, sebenarnya Kakak itu kenapa? Apa Kakak ingin berbagi cerita denganku?" tanya Maria.


Wanita itu terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia memengang kepalanya, wajahnya bahkan terlihat cemas dan ketakutan.


"Lelaki itu berjanji akan bertanggung jawab dan menikahiku, tapi kenyataannya dia malah mengusirku dan mengambil mereka dariku! Aku benci lelaki itu, aku benci!"


"Siapa laki-laki itu? dan mereka siapa?"


Maria begitu penasaran dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu hingga ia mengalami depresi berat seperti sekarang.


Wanita itu tidak menjawab, ia menutup matanya dengan kedua tangan kemudian terisak. Maria tidak tega bertanya lebih jauh lagi. Ia memeluk tubuhnya dan mencoba menenangkan wanita itu.


"Husss ... tidak apa-apa, Kak. Tidak apa-apa."


Sementara itu di halaman depan.


"Dimana gadis itu?" tanya Dylan kepada salah satu pelayannya.


"Masih bersama Nyonya, Tuan. Di dalam kamarnya," jawab Pelayan itu sambil tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Dylan yang begitu cepat menelusuri setiap ruangan yang ia lewati.


"Bagaimana kejutan itu?"


"Sudah hampir selesai, Tuan."


"Baguslah, persiapkan saja semuanya."


"Baik, Tuan."


Dylan mengangkat tangannya sambil berlalu dan Pelayan itupun berhenti mengikuti Dylan kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setibanya di ruangan itu, Dylan sempat menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Ia mencoba mendengarkan suara dari dalam ruangan tersebut. Namun, ruangan itu nampak hening. Tak ada suara kegaduhan disana.


Perlahan Dylan membuka pintu tersebut dan mencoba mengintip. Ia melihat sosok Maria yang sedang menyisir dan merapikan rambut Kakak perempuan Dylan yang terlihat berantakan. Ada suatu hal yang membuat Dylan tak percaya, Kakak perempuannya itu nampak tenang dan begitu nyaman saat berada di samping Maria.


"Maria," sapa Dylan sembari menghampiri kedua wanita itu.

__ADS_1


Sontak saja kehadiran Dylan di tempat itu membuat mereka sedikit terkejut. Maria memperhatikan sebuah jam dinding yang menggantung di dalam kamar tersebut sambil menautkan kedua alisnya.


"Wah, Om pulang cepat, ya? Pasti sudah tidak sabar ingin ketemu Maria, kan?" tanya Maria sambil terkekeh pelan.


"Siapa bilang?" sahut Dylan yang kemudian duduk di samping Kakaknya dan memeluk tubuh wanita itu.


Wanita itupun tersenyum hangat sambil membelai kepala Dylan yang sedang berada di pundaknya.


"Lah, trus?"


"Aku mendapat kabar bahwa kamu berkunjung kesini tanpa sepengetahuanku. Aku kan jadi parno sendiri, takutnya setelah aku pulang, tau-tau rumahku jadi istananya kucing jepang yang fenomenal itu. Kan gak lucu," jawab Dylan.


Maria tertawa lepas di ruangan itu dan membuat Kakak perempuan Dylan ikut tertawa karena melihat ekspresi Maria yang terlihat lucu.


"Oh, astaga! Kamu jahat banget," ucap Maria di sela gelak tawanya.


Dylan menghembuskan napas lega karena Maria baik-baik saja, begitupula dengan Kakak perempuannya. Ia mengedarkan pandangan dan tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kue ulang tahun Maria yang terletak di atas nakas.


Kue ulang tahun yang tinggal separuh karena separuhnya sudah dimakan oleh Maria dan Kakak perempuan Dylan serta dibagi-bagikan kepada pelayan dan juga perawat yang berjaga di kamar tersebut.


Ia menganggukkan kepalanya. "Ya, baiklah."


Dylan melabuhkan ciuman di kening wanita itu kemudian bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Maria.


"Memangnya kamu mau mengajakku kemana?" tanya Maria.


"Ikutlah denganku," ucapnya sembari meraih tangan Maria kemudian menuntun gadis itu berjalan keluar dari ruangan itu.


Dylan membawa Maria menelusuri ruangan demi ruangan dan membuat Maria kebingungan.


"Sebenarnya kita mau kemana, sih?" tanya Maria lagi.


"Sebentar lagi kita sampai. Tunggu sebentar,"


Dylan melepaskan genggaman tangannya kemudian berdiri di belakang Maria dan menutup mata gadis itu dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apaan, sih?"


"Ikut saja," ucap Dylan sembari menuntun gadis itu menuju sebuah ruangan yang berbeda sendiri di antara ruangan lainnya. Sebuah kamar berwarna pink, yang baru saja selesai dikerjakan.


"Sekarang bukalah matamu," ucap Dylan.


Perlahan gadis itu membuka matanya. "Tempat apa ini?" tanya Maria sambil membulatkan matanya.


"Bukalah, pintunya tidak dikunci."


Maria meraih gagang pintu kemudian membuka pintu ruangan tersebut. Ketika pintu terbuka, Maria menjerit histeris. Bagaimana tidak, di dalam ruangan itu penuh dengan kucing fenomenal kesayangannya. Mulai dari pernak-pernik, boneka, wallpaper bahkan terdapat sebuah tempat tidur yang bermotif sama.


"Oh ya, Tuhan! Cantik sekali!" pekiknya sambil terus memperhatikan sekeliling ruangan.


Disaat Maria masih terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya, beberapa orang pelayan tiba dengan membawa sebuah kue ulang tahun berukuran besar. Dimana di atasnya ada boneka Hello Kitty dan Doraemon yang sedang beciuman.


"Selamat ulang tahun, Nona Maria!" ucap semua pelayan.


Ada yang lebih lucu, semua pelayan mengenakan pakaian yang sama. Pakaian seragam mereka berwarna pink dengan motif yang sama dengan ruangan serta kue yang mereka bawa.


"Aakhhhh!" jerit Maria sambil menitikkan air matanya karena terharu.


"Aku kira kau lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku," lirih Maria.


Dylan memeluk tubuh Maria sambil tersenyum hangat. "Rencananya hari ini aku ingin menjemputmu setelah pulang dari kantor karena para pelayan masih mempersiapkan hal ini untukmu. Tetapi ternyata aku salah, malah kamu yang datang kesini," ucap Dylan.


"Aku kan tidak tahu."


"Karena sekarang temanya kucing fenomenal dari jepang maka ...." Dylan meraih dua buah setel pakaian berwarna biru dan pink.


"Kenakan ini dan aku yang ini. Aku ingin kita menggila karena hari ini adalah hari spesialnya Kitty kesayanganku," ucap Dylan sembari menyerahkan setelan berwarna pink kepada Maria.


Para pelayan yang sedang berdiri di belakang mereka hanya bisa terkekeh melihat majikannya yang sekarang ikut-ikutan menjadi aneh setelah bertemu dengan gadis itu.


Setelah mengganti pakaian mereka, Dylan dan Maria pun memulai pesta ulang tahun sederhana ala mereka bersama para pelayan yang ikut menggila bersama pasangan itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2