Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 200


__ADS_3

"Sekarang bagaimana menurutmu? Apa aku masih bau?"


Marcello menatap Marissa dengan wajah harap-harap cemas. Lelaki itu berharap Marissa berhenti mengatakan bahwa dirinya bau karena jika Marissa terus-terusan mengatakan bahwa dirinya bau, itu artinya Marcello tidak bisa mendekati istri kesayangannya itu lagi.


Marissa mencoba mengendus Marcello dari jarak yang masih dianggapnya aman dan tidak akan membuat Marissa pusing dengan aroma tubuh lelaki itu.


"Sebentar," ucap Marissa.


Perlahan-lahan ia mendekat ke arah Marcelo dan setelah berada cukup dekat, ekspresi wajahnya kembali berubah dan kembali berlari kecil menuju tempat tidur.


"Masih, Dad."


Marissa kembali menutup hidungnya dengan kedua tangan sambil memperhatikan wajah kesal Marcello. Lelaki itu sangat kesal karena lagi-lagi ia dikatakan bau oleh Marissa.


"Cukup! Sekarang aku tahu bukan tubuhku yang sedang bermasalah, tetapi indera penciumanmu, Cha."


"Tidak mungkin, Dad!" kilah Marissa. "hidungku baik-baik saja."


Tanpa mempedulikan ucapan wanita itu, Marcello segera pergi dari kamar utama dan mencari kebenaran Joe. Padahal saat itu Marcello hanya menggunakan handuk kecil untuk menutupi 'King Cobra'nya.


"Joe, tolong hubungi Dokter. Aku yakin sekali penciuman Marissa memang sedang dalam masalah. Sini, coba kamu cium aroma tubuhku sekali lagi."


Marcello mendekati Joe dan membiarkan lelaki itu mencoba mengendus aroma tubuhnya sekali lagi. Ekspresi wajah Joe masih sama seperti sebelumnya. Tetap tenang dan tidak ada hal aneh yang terlihat disana.


"Bagaimana?"


Joe menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada bau yang aneh, Tuan. Malah sebaliknya, tubuh anda sangat wangi."


"Kamu serius dengan ucapanmu 'kan, Joe? Kamu tidak berbohong padaku hanya karena takut padaku, 'kan?" Marcello menatap Joe dengan tatapan penuh selidik.


"Saya tidak bohong, Tuan."


"Ya, sudah kalau begitu. Sekarang panggil saja Dokter langganan kita dan ceritakan keluhanku kepada Dokter itu," ucap Marcello sembari melenggang pergi meninggalkan Joe, menuju kamar utama.

__ADS_1


Seperti perintah Marcello, Joe pun segera menghubungi Dokter langganan mereka dan menceritakan tentang perilaku aneh Marissa sejak tadi pagi.


Setelah mendengarkan penuturan Joe dari seberang telepon, Dokter itupun tersenyum simpul.


"Baiklah, saya akan segera kesana."


"Sebaiknya cepat, Dok. Sebelum Tuan Marcello semakin frustrasi memikirkan masalah ini." Joe memutuskan panggilannya kemudian kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya.


Setelah Joe menutup panggilannya, Dokter itu terkekeh pelan sambil mempersiapkan alat-alat yang akan ia gunakan untuk memeriksakan kondisi Marissa nanti.


"Ya, Tuhan ... kasihan sekali para lelaki tampan di mansion itu. Mereka itu tampan, tetapi sayang bodohnya tidak ketulungan dan beruntung aku sudah bisa membaca situasi seperti ini."


Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Dokter cantik itupun segera berangkat menuju mansion.


Sementara itu di kamar utama.


Marissa masih saja duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur sambil tertatap mata dengan Marcello yang kini duduk di sebuah sofa. Sofa yang terletak tepat di depan tempat tidur mewahnya.


Pasangan itu bertatap mata tanpa bicara sepatah katapun. Bibir mereka terkunci rapat dan apa yang ada dalam pikiran mereka pun sama. Bagaimana caranya agar mereka bisa bersama lagi seperti sebelumnya tanpa harus menyiksa Marissa.


"Tuan Marcello, Dokter sudah tiba."


"Masuklah, Joe. pintunya tidak di kunci, sahut Marcello tanpa bergerak sedikitpun dari tempat duduknya.


Setelah mendapatkan perintah dari Marcello, perlahan Joe membuka kamar tersebut kemudian mempersilakan Dokter cantik itu masuk ke dalam ruangan paling megah yang ada di mansion tersebut.


"Dokter, Joe sudah menceritakan semuanya, 'kan?" tanya Marcello.


"Benar, Tuan." Dokter itu menyunggingkan sebuah senyuman kepada Marcello.


"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya periksa istriku dengan baik, aku tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya."


"Tentu saja, Tuan."

__ADS_1


Dokter menghampiri Marissa kemudian mulai memeriksanya. Setelah melakukan pemeriksaan kesehatan Marissa, Dokter cantik itupun mulai bertanya-tanya pada Marissa seputar masa haidnya.


Marissa nampak kebingungan karena menurutnya pertanyaan Dokter dan masalah yang sedang ia hadapi sama sekali tidak saling berhubungan, tetapi Marissa tetap menjawab setiap pertanyaan Dokter tersebut dengan jujur.


"Dok, sepertinya yang sedang ada masalah itu hidung saya, tapi kenapa Dokter malah menanyakan masalah tamu bulanan saya?"


Dokter itu nampak tenang dan senyuman manis itu terus saja menghiasi wajahnya saat melakukan pemeriksaan terhadap Marissa.


"Sebaiknya kita periksa dulu, yuk."


Dokter memperlihatkan sebuah benda kecil kepada Marissa dan Marissa sangat mengenali benda apa itu.


"Loh, kok? Tapi, Dok ... seminggu yang lalu aku baru saja melakukan tes itu dan hasilnya negatif."


"Sekarang kita coba lagi, Nona. Apa Nona tidak ingin tahu bagaimana hasilnya?"


Marissa begitu antusias ketika mendengar jawaban dari sang Dokter. Ia segera bangkit kemudian mengikuti Dokter tersebut.


Selang beberapa saat, Dokter cantik itupun selesai melakukan tugasnya dan ia sudah tahu apa yang menyebabkan indera penciuman Marissa bermasalah. Dokter menghampiri Marcello dengan wajah berseri-seri.


"Bagaimana istri saya, Dok?"


"Sepertinya kali ini Anda harus lebih banyak bersabar, Tuan Marcello."


Marcello nampak panik mendengar jawaban dari Dokter. "Apa maksudmu, Dok? Apakah hidung Marissa sedang sakit? Apa sakitnya parah?"


"Bukan, Tuan. Bukan hidung Nona Marissa yang sedang bermasalah, tetapi mahluk kecil yang sedang tumbuh di rahimnya lah, yang membuat indera penciuman Nona Marissa menjadi terganggu."


"Apa?!" pekik Marcello dengan mata membulat.


"Benarkah itu, Dok? Jadi Marissa-ku ...."


"Ya, Istri Anda positif hamil, Tuan."

__ADS_1


...***...


Maafkan Author kemarin gak up, ya 🙏🙏🙏 Kemarin ada acara keluarga dan tidak sempat ngetik sedikitpun.


__ADS_2