
Riyadh turut masuk ke dalam Bath Up bersama Dian. Lelaki itu duduk di belakang Dian dan tangannya pun mulai bergentayangan ke seluruh tubuh polos Dian.
Dian sempat bergidik karena selama ini ia tidak pernah disentuh oleh laki-laki. Sedangkan di kejadian waktu lalu, Riyadh tidak memperlakukan dirinya dengan baik. Kejadian itu terjadi begitu cepat dan menyakitkan, hanya itu yang Dian tahu.
"Bukankah kita kesini untuk membersihkan tubuh kita, Sayang?" protes Dian karena tangan Riyadh terus saja bergentayangan hingga kedua bulatan kenyalnya pun tidak luput dari kuasa tangan nakal lelaki itu.
"Ya, niatku juga begitu. Tapi sepertinya tubuhmu terus menggoda tanganku untuk menyentuhnya. Bahkan Anaconda-ku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sarangnya. Coba kau rasakan ini," sahut Riyadh.
Apa yang dikatakan oleh lelaki itu memang benar. Sejak tadi Dian merasakan dibelakangnya ada sebuah benda keras, besar dan panjang, yang terus bergerak-gerak.
"Kalau begitu, sebaiknya kita cepat-cepat mandinya. Aku tidak ingin malam pertamaku berakhir di kamar mandi. Aku ingin menghabiskan malam pertamaku di tempat tidur yang empuk dan nyaman," balas Dian sambil mengulum senyum.
"Ok, baiklah. Kamu benar, sebaiknya kita cepat-cepat mandinya karena Anaconda-ku ingin segera mengeluarkan bisanya yang sudah lama tersimpan."
Pasangan itupun mempercepat mandi mereka, karena sudah tidak sabar ingin melaksanakan malam pertamanya. Hanya dalam beberapa menit, mandi kilat ala pasangan itu selesai. Riyadh yang sudah tidak sabar, segera membawa Dian kembali ke tempat tidur dan meletakkannya di sana.
"Persiapkan lapanganmu, Dian Maharani-ku! Anaconda-ku sudah siap untuk meluncur ke sana." Riyadh mengerlingkan matanya kepada Dian.
Dian terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. Ia tidak menyangka bahwa dibalik sikapnya yang cool, ternyata Riyadh memliki sikap yang kocak.
"Lapanganku sudah siap, Riyadh sayang. Bahkan seminggu sebelum pernikahan kita, aku sudah mempersiapkannya dengan berbagai ramuan untuk menyambut kedatangan Anaconda-mu yang super besar itu," balas Dian sembari meraih tubuh Riyadh dan membawanya ke tempat tidur.
__ADS_1
"Wah, aku merasa beruntung sekali!" seru Riyadh. "Kalau begitu kita mulai saja, ya."
Dian pun mengangguk dan mempersilakan lelaki itu memulai pemanasan. Riyadh menyerang bibir yang sudah lama ingin ia cicipi itu dengan cepat. Walaupun Dian agak kaku, dia tetap berusaha membalas kecupan demi kecupan yang di berikan oleh suaminya.
Setelah puas bermain di bibir tipis milik Dian, Riyadh mulai menjelajahi leher jenjang wanita itu. Beberapa kali Dian mendesahh ketika Riyadh meninggalkan jejak kepemilikannya. Perlahan tapi pasti, kini lelaki itu bermain di kedua bulatan kenyal milik Dian.
Tubuh Dian yang sama sekali tidak pernah tersentuh, menegang di saat Riyadh memainkan lidahnya di puncak bulatan milik Dian.
"Ehmmm ..."
Desahhan demi desahhan yang keluar dari bibir Dian membuat Riyadh semakin bersemangat menaklukkan wanita itu. Dian mengacak rambut Riyadh dengan erat dan menenggelamkan wajah lelaki itu lebih dalam lagi ke dadanya.
"Akhhh ..."
"Sepertinya sarang Anaconda-ku sudah siap, aku mulai sekarang, ya," bisik Riyadh di samping telinga Dian sambil menggigit daun telinga wanita itu dengan pelan.
"Yah," sahut Dian pasrah.
Perlahan Riyadh menaiki tubuh Dian dan mulai mengarahkan Anaconda yang sudah 'ileran' menuju sarangnya. Sarang Dian sudah berdenyut-denyut menanti sang Anaconda memasuki wilayahnya.
Sambil tersenyum hangat, Riyadh memasukkan Anacondanya ke dalam sarang. Dian membulatkan matanya ketika benda besar dan panjang itu akhirnya masuk dengan sempurna ke dalam miliknya.
__ADS_1
Dengan penuh semangat, Riyadh menaik-turunkan pinggulnya dengan cepat. Apalagi Dian juga begitu menikmati permainan Ananconda-nya.
"Kamu menyukainya?" desahh Riyadh di samping telinga Dian.
"Yah, lebih cepat, Sayang!" sahut Dian sambil memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Riyadh senang bukan kepalang mendengar jawaban Dian. Ia semakin bersemangat memompa tubuhnya hingga keringat menghiasi seluruh tubuhnya. Padahal AC di ruangan itu masih dalam keadaan ON.
Hampir satu jam mereka bermain di atas tempat tidur mewah itu, hingga akhirnya sang Anaconda siap memuntahkan bisanya (memang Anaconda ada bisa-nya ya?).
"Aku sudah hampir selesai, Sayang! Cepatlah, kita selesaikan bersama-sama!"
"Ya, aku juga," sahut Dian.
Riyadh mengerang di atas tubuh Dian saat Anaconda memuntahkan bisa-nya. Sedangkan Dian mencengkeram punggung suaminya dengan erat hingga kulit punggung Riyadh memerah.
Kedua pasangan itu saling bertatap mata sambil tersenyum puas. Akhirnya mereka berhasil melewati malam pertama mereka, walaupun bukan malam pertama seperti pengantin baru lainnya.
"Sudah selesai?" tanya Riyadh dengan napas terengah-engah.
"Ya, sudah." Dian pun sama, napasnya masih cepat, seperti orang yang baru saja berlari marathon.
__ADS_1
...***...
Jangan minta yang lebih hot lagi ya, readers 😆😆😆 takutnya gak di lolosin sama admin, bakal mumet nanti revisinya.