
"Dimana bayi kita?" tanya Dian kepada Riyadh.
"Di kediaman Marcello, jadi ada tiga bayi yang meramaikan mansionnya sekarang," jawab Riyadh sambil terkekeh pelan.
"Mau nambah lagi?" tanya Dian sambil tersenyum kecut kepada lelaki itu.
Riyadh menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wajahnya sendu saat membalas tatapan Dian.
"Tidak lagi, Sayang. Sudah cukup, mungkin ini adalah yang terakhir. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa lagi. Aku tidak sanggup jika harus menghadapi kejadian seperti ini untuk kedua kalinya," tutur Riyadh dengan mata berkaca-kaca.
"Lagipula kita sudah punya tiga anak, Sayang. Aku rasa itu sudah cukup meramaikan kehidupan kita. Ditambah dengan dua orang cucu laki-laki yang juga akan membuat hidup kita semakin berwarna," sahut Dian.
"Kamu benar, Sayang." Riyadh mengusap kepala Dian dengan lembut.
"Oh ya, kata Dokter aku tidak boleh lama-lama disini. Kamu butuh banyak beristirahat agar kesehatanmu cepat pulih. Sebaiknya aku keluar dulu dan selamat beristirahat," ucap Riyadh.
Riyadh bangkit dari tempat duduknya sambil tersenyum hangat kepada Dian kemudian melepaskan genggaman tangannya dan bersiap keluar dari ruangan itu.
"Ehm, Sayang. Tolong panggilkan Marissa. Aku ingin bicara padanya sebentar saja," ucap Dian sebelum Riyadh benar-benar keluar dari ruangannya.
"Ya, tentu saja."
Ketika Riyadh keluar dari ruangan itu, ia sudah disambang dengan berbagai macam pertanyaan oleh Marissa.
"Ayah, bagaimana keadaan Ibu? Apa Ibu baik-baik saja?!"
"Masuklah, Cha. Ibumu ingin bicara padamu. Tapi, ingat! Jangan lama. Ibumu butuh banyak beristirahat," sahut Riyadh sembari mengacak pelan puncak kepala anak perempuannya itu.
"Siap, Ayah!" Marissa mencium pipi Riyadh kemudian segera memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Seandainya kamu bukan Ayahnya mungkin aku akan menghajarmu sekarang juga," ucap Marcello ketika Riyadh duduk di sampingnya.
Riyadh tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. "Heh, kamu cemburu padaku? Dia itu anak perempuanku, Marcello."
"Ya, aku tahu. Hanya saja aku merasa risih ketika melihat Marissa menciummu seperti itu," jawab Marcello sambil menekuk wajahnya.
"Ya, Tuhan!" pekik Riyadh sambil menepuk jidatnya.
Di ruangan Dian.
Perlahan Marissa menghampiri tempat tidur Dian dan wanita itu sudah menyambut kedatangannya dengan sebuah senyuman hangat sama seperti biasanya.
"Marissa, anakku."
Dian mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Marissa. Marissa duduk di samping tempat tidur pasien sambil menatap lekat wajah pucat sang Ibu.
"Ibu baik-baik saja, 'kan?" tanya Marissa cemas.
"Bu, jangan buat kami khawatir lagi, ya? Kami masih membutuhkan Ibu, apalagi Dede, Bu." Mata Marissa kembali berkaca-kaca saat mengucapkan hal itu.
"Ya, beruntung Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Ibu, Cha. Ibu masih diberikan kesempatan untuk bernapas hari ini dan melihat senyuman kalian," jawab Dian sembari mengelus pipi Marissa dengan lembut.
Perlahan Dian memejamkan matanya. Pengaruh obat yang di berikan oleh Dokter membuat ia merasa ngantuk. Namun, Marissa salah mengartikannya. Marissa panik ketika Dian memejamkan matanya. Ia mengoyang-goyang tubuh Dian dengan wajah panik sambil memanggilnya.
"Bu, Ibu! Ibu kenapa?" pekik Marissa dengan mata berkaca-kaca.
"Cha, Ibu ngantuk. Mungkin ini efek dari obat yang diberikan oleh Dokter tadi," sahutnya dengan mata yang masih terpejam.
"Oh, begitu ya? Icha pikir Ibu--"
__ADS_1
Marissa menghentikan ucapannya kemudian perlahan ia melabuhkan ciuman ke kening Dian.
"Icha keluar dulu ya, Bu. Selamat beristirahat," ucap Marissa.
"Hmmm," gumam Dian yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.
Sementara itu di mansion.
Bangunan megah itu nampak ramai dengan suara tangisan bayi. Setelah bayi mungil Riyadh menangis histeris, kedua baby-M pun turut menangis karena terkejut mendengar suara tangisan bayi Riyadh yang begitu nyaring.
Kedua Babysitter yang menangani Baby-M kewalahan, begitupula Sofia yang menyanggupi merawat bayi Riyadh untuk sementara.
"Astaga, ternyata punya banyak bayi rasanya seperti ini, ya?!" gumam Sofia dengan wajah panik.
"Nanti Nona Sofia punya kembar juga, ya. Biar makin rame tempat ini," sahut salah satu Babysitter sambil terkekeh pelan.
"Sepertinya aku mengurungkan niatku memiliki bayi kembar. Cukup satu kalo keadaannya seperti ini, bisa-bisa rambut di kepalaku rontok semua, "tutur Sofia sembari menenangkan bayi mungil Riyadh yang masih menangis.
"Tapi rame, Nona. Yang satu nangis, satunya ikutan nangis. Nih, kayak baby-M."
Sofia meletakkan bayi Riyadh yang masih belum di beri nama tersebut ke atas tempat tidur kemudian memeriksa popoknya.
"Ehm, pantas saja. Ternyata kamu poop toh, Sayang? Pantesan saja sejak kamu tadi tidak mau diam," tutur Sofia.
Sofia segera menggantikan popok bayi mungil tersebut dengan popok baru dan setelah itu, bayi tampan itupun mulai tenang kemudian kembali memejamkan matanya.
"Hitung-hitung latihan. Nanti kalau sudah punya bayi sendiri, aku sudah tidak canggung lagi, benar 'kan?" ucap Sofia.
"Benar, Nona," jawab kedua Babysitter.
__ADS_1
...***...