
"Bagaimana, Dok?" tanya Joe, setelah Dokter yang memeriksa keadaan Bu Sri keluar dari ruangan tersebut.
Wajah Dokter itu terlihat sendu. Bahkan sebelum Dokter menjawab pun, Sofia sudah tahu jawabannya. Dokter itu menggelengkan kepalanya perlahan sambil berucap.
"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha semampu kami, tetapi takdir berkata lain," jawab sang Dokter.
Tangis Sofia pun kembali pecah. Lagi-lagi Joe menjadi sandaran untuk gadis itu mengeluarkan rasa sedihnya yang begitu mendalam.
"Ikhlaskan Ibumu, Sofia."
"Ibu ...."
Jas mahal yang dikenakan oleh Joe sudah belepotan dengan airmata Sofia sejak kemarin. Ia bahkan rela tidak pulang hanya untuk menemani gadis itu.
Acara pemakaman Bu Sri dilaksanakan hari itu juga. Di area pemakaman umum yang letaknya tak jauh dari kediaman Sofia. Bu Sri memang pernah membicarakan masalah itu jauh sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya. Ia ingin dimakamkan di tempat itu, di samping makam Ayah dan Ibunya.
Disepanjang acara pemakaman, Sofia hanya bisa menangis. Marissa pun tidak ingin menjauh dari gadis itu. Ia terus berada di samping Sofia sembari menenangkannya. Sedangkan Joe sibuk mengurus segala sesuatunya.
"Sofia, berhentilah menangis. Ikhlaskan Ibumu dan biarkan ia kembali dengan tenang. Jika kamu terus seperti ini, Ibumu akan ikut sedih, Sofia."
Dengan wajah sedih, Marissa memandangi Sofia yang masih terisak. Ia tahu bagaimana perasaan Sofia sekarang karena ia juga pernah mengalaminya, di saat Melinda meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
"Sekarang aku sudah tidak memiliki siapapun lagi, Nona. Aku sebatang kara," lirih Sofia sambil menyeka air matanya.
"Hush! Jangan bicara seperti itu, Sofia. Sekarang kami adalah bagian dari dirimu, aku, Tuan Marcello, Om Joe dan semua orang di mansion ini. Jadi, jangan pernah katakan bahwa kamu sebatang kara," ucap Marissa sambil menyeka air mata Sofia.
"Terima kasih, Nona," lirih Sofia seraya memeluk tubuh Marissa dengan erat.
__ADS_1
. . .
Acara pemakaman pun selesai dan mereka segera kembali ke mansion. Setibanya di tempat itu, Sofia segera menuju kamar mandi khusus untuk para pelayan wanita. Ia ingin membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket karena terakhir kali ia melakukan ritual mandinya saat berada di Rumah Sakit.
Begitupula Assisten dingin itu. Ia melakukan ritual mandinya dengan berendam di bath up kesayangannya. Joe merasa sangat lelah karena dua hari terakhir, ia sangat sibuk mengurus Sofia dan juga Bu Sri. Mulai dari urusan Rumah Sakit hingga acara pemakaman untuk Bu Sri tadi siang.
Di saat kedua orang itu tengah menikmati ritual mandi mereka di dua tempat yang berbeda, tiba-tiba saja aliran listrik padam dan yang lebih parahnya lagi, Generator Set di mansion tersebut juga ikutan 'Ngambek'.
Bangunan megah itu gelap gulita. Semua orang panik, termasuk Sofia. Sofia menyasar dinding kamar mandi sambil terus bergumam ria.
"Ya Tuhan, apa-apaan ini! Mana handukku?!" gumamnya.
Akhirnya Sofia menemukan handuk miliknya, yang ia gantung di dinding kamar mandi.
"Aha, ini dia!"
"Kenapa listriknya padam? Apa karena Tuan Joe lupa membayarkan tagihan listrik di mansion mewah ini? Ada-ada saja!" gerutu Sofia.
Tiba-tiba saja Sofia melihat bayangan putih yang berdiri tepat di hadapannya. Karena suasana ruangan yang gelap gulita, Sofia menganggap bayangan itu sebagai sosok mahluk halus yang menampakkan wujudnya di kegelapan.
Tiba-tiba saja Sofia menjerit ketakutan sambil berlari tanpa tahu arah.
"Setaaannn!!!" teriak Sofia.
Ternyata bayangan tersebut adalah seorang pelayan yang juga baru saja selesai melakukan ritual mandinya, sama seperti Sofia. Mendengar Sofia menjerit sambil meneriakan kata 'Setan', pelayan itupun turut menjerit.
"Hah, setan? Setan!!!" teriaknya.
__ADS_1
Sementara itu.
Joe menggerutu karena listrik di bangunan megah itu tidak juga menyala. Ia bangkit dari bath up kesayangannya kemudian meraih handuk yang ia letakkan tidak jauh dari bath up.
"Apa lagi ini? Bukankah Generator set itu baru saja di service, jadi tidak mungkin benda itu tidak berfungsi. Atau-- penjaganya sedang tertidur?" gerutu Joe sambil melilitkan handuk kecil tersebut ke pinggang, untuk menutupi area pribadinya.
Dengan meraba-raba, Joe melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Tepat di saat itu Sofia yang sedang berlari ketakutan, menabrak tubuh Joe.
"Setaaannn!!!"
Brughkkk!!!
Joe mengenali pemilik suara itu dan ia tahu Sofia lah yang sedang jatuh ke dalam pelukannya.
"Sofia?!"
"Tu-Tuan Joe?! Ada setan!" seru Sofia sambil mempererat pelukannya kepada pria itu.
Joe membalas pelukan Sofia dan ia baru sadar bahwa gadis itu hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh polosnya.
Bukan hanya para pelayan yang dibuat pusing oleh listrik yang tidak menyala, sang pemilik mansion apalagi. Pasangan 'Nyeleneh' itu melangkahkan kaki mereka sambil bergandengan.
"Sekarang kita berada dimana, Dad?!" tanya Marissa panik.
"Mana aku tahu, yang penting melangkah saja," sahut Marcello yang juga sama paniknya.
"Aku pastikan penjaga Generator Set itu tidak akan bekerja lagi disini!" gerutu Marcello.
__ADS_1
...***...