
"Kamu lihat, Riyadh. Anakku tampan, setampan diriku, 'kan?" ucap Marcello sembari memperlihatkan bayi mungilnya kepada Riyadh.
"Mungkin matamu sudah rabun. Apa kamu tidak lihat, wajah mereka itu lebih mirip denganku ketimbang denganmu," sahut Riyadh tidak mau kalah.
"Hahh! Maaf saja, aku tidak terima itu!" kesal Marcello.
"Kalian itu kenapa 'sih? Mereka tampan dan wajah mereka mirip Marissa, titik!" timpal Dian yang juga ikut kesal mendengar perdebatan yang tiada ujungnya di antara kedua sahabat itu.
"Hahaha! Apa itu artinya kedua bayi-bayiku terlihat cantik seperti Mommy-nya?"
"Habisnya aku kesal, sejak tadi kalian terus saja memperdebatkan masalah itu. Kasihan Marissa, dia yang mengandung selama sembilan bulan tidak di kasih mirip sama bayi-bayinya, benar-benar tidak adil." Dian mendengus kesal sembari mengusap puncak kepala bayi mungil yang kini berada dalam pelukannya.
Sofia dan Joe hanya bisa tersenyum melihat perdebatan mereka. Joe mencium kening Sofia sembari berbisik di samping telinga istri kecilnya itu.
"Aku yakin, tidak lama lagi giliran kita, Sayang." Joe mengusap lembut perut Sofia.
"Amin, semoga saja."
Sofia berjalan menghampiri Mercello. "Tuan, bolehkah saya menggendongnya?" pinta Sofia sembari mengulurkan tangannya kepada Marcello.
"Ah ya, tentu saja," sahut Marcello sembari menyerahkan bayi mungilnya kepada Sofia.
Sofia meraih bayi tersebut kemudian menciumi pipi serta memeluk tubuh mungilnya dengan penuh kasih sayang. Ia membawa bayi mungil itu kepada Joe dan memperlihatkannya.
"Lihatlah dia, Sayang. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin memiliki bayi seperti ini," ucap Sofia dengan mata berkaca-kaca menatap Joe.
"Ya, aku juga," balas Joe.
Sementara itu, Marcello menghampiri Marissa yang masih tergolek lemah di atas tempat tidur pasien. Marcello duduk di samping tempat tidur tersebut sambil menggenggam tangan Marissa.
"Terima kasih banyak, Icha-ku sayang. Aku tidak tahu harus mengucapkan apalagi selain kata itu," ucap Marcello yang kemudian menciumi punggung tangan Marissa.
__ADS_1
"Sama-sama, Dad." Marissa terdiam sejenak sambil terus menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. "sepertinya aku harus berhenti memanggilmu dengan sebutan 'Daddy', karena sudah ada dua bayi mungil yang akan menggantikan aku memanggilmu dengan sebutan itu ya, 'kan?"
"Terus, kamu akan memanggilku apa?" tanya Marcello sembari membalas senyuman Marissa.
"Entahlah, menurutmu?"
"Panggil aku senyaman-mu. Selama kamu tidak memanggilku dengan sebutan Opa," sahut Marcello sambil tergelak.
. . .
Setelah beberapa hari di rawat di Rumah Sakit, akhirnya Marissa pun di diperbolehkan untuk pulang.
Joe membukakan pintu mobil untuk Marissa dan Marcello. Setelah pasangan itu masuk, ia pun segera melajukan mobil tersebut menuju mansion.
"Bagaimana si kembar? Apa mereka rewel?" tanya Marissa kepada Marcello.
"Kata Babysitter mereka sempat rewel di hari pertama mereka tinggal di mansion. Mungkin mereka masih beradaptasi dengan suasana di sana. Tapi sekarang, mereka sudah anteng. Mereka hanya menangis ketika ada masalah saja seperti sakit perut atau setelah poop," ucap Marcello.
"Ya, tentu saja mereka pinter, mereka 'kan anak-anakku!" ucap Marcello dengan bangganya.
Setibanya di mansion, ternyata kedatangan mereka di sambut oleh para penghuni mansion dan di kepalai oleh Dian dan Riyadh.
"Selamat datang Mommy dan Daddy!" seru Dian yang berdiri di depan mansion bersama kedua bayi kembarnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Marissa melangkahkan kakinya dengan dituntun oleh Marcello menghampiri Dian dan Riyadh yang sedang menggendong si kecil.
"Wah, terima kasih atas sambutannya. Aku jadi terharu," ucap Marissa sembari mencium salah satu bayinya yang sedang berada di pelukan Dian.
"Sama-sama, Mommy!" balas Dian sambil menirukan suara anak kecil.
"Sekarang kamu sudah tidak cemburu lagi 'kan pada calon dede bayimu, Cha. Karena sekarang kamu sudah menjadi Mommy dari dua orang bayi mungil dan tampan. Jika kamu masih cemburu juga berarti kamu memang--"
__ADS_1
"Memang apa?" tanya Marissa sambil menatap Marcello dengan wajah datar.
"Bukan apa-apa, tidak jadi."
Dian dan Riyadh terkekeh mendengar percakapan antara menantu dan anak perempuan mereka tersebut.
Tiba-tiba ponsel milik Marissa berdering. Erika mencoba menghubunginya dari seberang telepon.
"Erika sayang!"
"Selamat ya, Cha, atas kelahiran bayi-bayi mungilmu. Maaf, aku tidak bisa menjengukmu karena Dokter mengharuskan aku istirahat total."
"Istirahat total? Kenapa, Erika? Kamu sakit apa?" tanya Marissa panik.
Erika terkekeh pelan. "Bukan sakit, Cha. Aku lagi isi," jawab Erika dari seberang telepon.
"Aaakkh!!!" jerit Marissa karena saking bahagianya. "Serius? Selamat ya, Erika sayang! Aku sangat senang mendengarnya."
"Kenapa sih, Cha?!" tanya Marcello penasaran.
"Erika, dia hamil!" seru Marissa.
"Benarkah?"
"Ya, makanya Erika tidak bisa menjengukku karena Dokter mengharuskan dia untuk beristirahat total," tutur Marissa.
Sofia dan Joe yang memang juga berada disana, saling bertatap mata setelah mendengar berita baik dari Erika.
"Mungkin memang belum giliran kita, Sayang," bisik Joe di samping telinga Sofia.
...***...
__ADS_1