
Hari ini Tuan Riyadh berkunjung ke mansion Marcello. Pernikahan nya yang kini tinggal menghitung hari, membuat ia kelimpungan. Marcello dan Marissa berdiri di depan pintu menunggu Riyadh menghampiri mereka.
"Hai, Marcello apa kabar?"
"Begitulah," jawab Marcello.
Kini tatapan Riyadh tertuju pada anak gadisnya yang sedang berdiri tepat di samping Marcello. Wajah Marissa masih terlihat sendu, tetapi ia sudah bisa melemparkan senyumnya kepada orang-orang.
"Marissa,"
Marissa menghambur ke pelukan Riyadh. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga Marcello tentunya, bahwa dia tidak akan menangis lagi.
"Yang sabar ya, Nak. Ayah yakin Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Ingatlah, akan ada pelangi setelah hujan."
"Ya, Ayah. Terima kasih," jawab Marissa sembari melerai pelukannya.
Marcello menuntun Riyadh menuju ruang utama. Dimana Dian sudah mempersiapkan minum dan beberapa cemilan spesial untuk calon suaminya.
Marcello mempersilakan Riyadh duduk kemudian mereka pun mulai berbincang hangat diruangan itu. Hingga akhirnya, Dian membuka suaranya.
"Riyadh, soal pernikahan kita--"
Ucapan Dian tertahan, ia melirik Marissa yang kini duduk disamping Marcello.
"Kenapa, Dian?" tanya Riyadh cemas. Ia takut wanita itu berubah pikiran dan membatalkan pernikahan mereka.
"Aku ingin pernikahan kita dilaksanakan secara sederhana saja. Saat ini Marissa sedang bersedih, tidak mungkin kita mengadakan pesta meriah, sedangkan anak perempuan kita--"
"Tidak!" sela Marissa. "jangan dengarkan Ibu, Ayah. Laksanakanlah pernikahan kalian sama seperti rencana kalian sebelumnya," lanjut Marissa dengan wajah panik.
__ADS_1
Riyadh sedikit tenang setelah mendengar penuturan Dian. Ternyata wanita itu hanya menginginkan pernikahan sederhana, bukan membatalkan pernikahan mereka. Riyadh mulai berpikir dan ia setuju dengan pendapat Dian soal pernikahan mereka.
"Apa yang dikatakan oleh Ibumu benar, Marissa sayang. Sebaiknya pernikahan kami dilaksanakan secara sederhana saja, yang penting sah."
"Tidak, tidak! Jangan, Ayah. Marissa tidak setuju. Kenapa kalian terlalu mengkhawatirkan Marissa? Marissa baik-baik saja," jawab Marissa sambil menggelengkan kepalanya.
"Benarkan, Dad?" lanjutnya.
Marcello hanya bisa menganggukkan kepala dan ia setuju dengan ucapan istrinya.
Riyadh dan Dian pun akhirnya tidak bisa berkutik lagi. Mereka akan menikah sesuai rencana mereka sebelumnya.
Beberapa hari kemudian.
Akhirnya hari pernikahan Riyadh dan Dian pun tiba. Dian sudah berangkat pagi-pagi sekali ke tempat diselenggarakannya acara. Hotel berbintang terbesar di kota kelahiran Marcello.
Sedangkan Marissa dan Marcello tengah bersiap-siap di dalam kamar mereka. Marissa bahkan sengaja menyewa seorang Mua terkenal untuk merias wajahnya. Ia tidak ingin kalah cantik dari sang pengantin.
"Bagaimana penampilanku, Sayang? Aku tampan, 'kan?!" ucap Marcello sambil mengedipkan matanya kepada Marissa yang masih duduk di meja riasnya.
Saat itu Mua yang ia sewa masih memainkan berbagai alat tempurnya di wajah cantik Marissa. Sedangkan Marcello sedang dibantu oleh anak buah si MUA mengenakan tuxedo mahalnya.
"Tentu saja, Dad. Tapi berhati-hatilah, takutnya orang-orang salah sangka. Nanti mereka mengira bahwa Daddy-lah pengantin laki-lakinya dan kemudian disandingkan sama Ibu," sahut Marissa sambil terkekeh pelan.
Bahkan MUA itupun turut mengulum senyum mendengar ucapan Marissa.
"Hhhh, dasar!"
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Marcello dan Marissa sudah selesai berdandan. Marissa terlihat begitu cantik dengan dress panjang berwarna silver yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Sehingga lekuk-lekuk tubuh bohay-nya terlihat dengan sangat jelas. Walaupun sekarang perutnya sudah mulai membesar, tetapi tidak mengurangi nilai plus dari penampilannya saat itu.
Marcello menuntun Marissa menuju halaman depan Mansion dan kebetulan saat itu Sofia sedang membersihkan salah satu ruangan yang mereka lewati.
"Ya, Tuhan! Mereka benar-benar pasangan yang 'WOW'," seru Sofia.
Sofia menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar terpesona melihat pasangan itu. Matanya membulat sempurna dan mulutnya bahkan terbuka lebar saat itu. Sofia tidak tahu bahwa Joe sedang berjalan di belakang pasangan itu dan sekarang ia tepat berada di samping Sofia.
"Tutup mulutmu, apa kamu ingin lalat-lalat nakal memasuki mulutmu itu?!" ucap Joe sambil berlalu.
Sofia tersentak kaget dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah mendengar ucapan Joe.
"Mana ada lalat di tempat ini?" gumam Sofia.
. . .
"Silakan masuk, Tuan dan Nona," ucap Joe kepada Marcello dan Marissa yang sudah bersiap di depan mobil mereka.
"Terima kasih, Om Joe."
"Sama-sama, Nona."
Setelah 20 menit perjalanan, mereka pun tiba di Hotel, dimana acara pernikahan Ayah dan Ibu Marissa akan dilaksanakan. Zaid sudah menanti kedatangan pasangan itu dan segera menuntun mereka.
"Itu dia Ayah dan Ibu, dan sebentar lagi acara pernikahannya segera di mulai," ucap Zaid.
"Marissa melambaikan tangannya kepada sang Ibu yang kini terlihat sangat cantik dan di samping wanita itu, nampak seorang laki-laki yang begitu gagah dengan setelan jas berwarna senada dengan kebaya pengantin yang sedang dikenakan oleh Dian.
"Lihatlah Ayah dan Ibuku, mereka terlihat tampan dan cantik sekali, 'kan?" ucap Marissa kepada suaminya.
__ADS_1
"Ya, tapi kita pun tidak kalah keren dari mereka," sahut Marcello.
...***...