Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 92


__ADS_3

Setibanya di ruang pribadi Marcello, Marissa segera duduk di salah satu sofa yang ada diruangan itu. Begitupula Marcello, ia menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Marissa. Ia ingin berjaga-jaga dan tidak ingin sesuatu terjadi pada wanita itu.


Marissa memperhatikan wajah cemas Bi Ani dan wajah dingin Joe secara bergantian.


"Sebenarnya ada apa sih, ini? Kalian benar-benar membuatku kebingungan," tanyanya dengan alis saling bertaut.


"Ehm, Marissa ... sebenarnya ada yang ingin Bibi bicarakan padamu dan ini soal Ibu kandungmu, Nak," ucap Bi Ani dengan wajah cemas menatap Marissa.


Tersungging sebuah senyuman manis di wajah Marissa. "Benarkah? Jadi, Bibi tau siapa Ibu kandungku?" tanya Marissa dengan sangat antusias.


"Ya, Nak." Bi Ani begitu gugup dan takut. Ia takut Marissa tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia adalah Ibu kandung dari gadis itu.


"Kamu dengar itu, Dad! Bi Ani tahu siapa Ibu kandungku," ucap Marissa sambil tersenyum puas menatap Marcello yang duduk di sampingnya.


"Ya, Cha." Marcello merengkuh tubuh Marissa sambil mengusap lembut pundaknya.


"Katakanlah, Bi Ani! Katakanlah, sebenarnya siapa Ibu kandung Marissa."


Bi Ani menghembuskan napas berat kemudian berucap. "Sebenarnya Ibu kandung Marissa adalah ... Bibi,"


Ekspresi wajah Marissa seketika berubah. Senyuman yang tadinya terus tersungging di wajah cantiknya, tiba-tiba saja sirna.


"Bi-Bibi? Ka-kalian ini sedang bercanda, ya?! Kalian semua mempermainkan Marissa, iya?"

__ADS_1


Marissa panik, ia menatap wajah-wajah semua orang di ruangan itu secara bergantian, termasuk Marcello yang kini mencoba menenangkannya.


"Tidak, Cha. Kami tidak mempermainkanmu. Apa yang dikatakan oleh Bi Ani itu adalah yang sebenarnya. Dia lah Ibu kandungmu selama ini," tutur Marcello.


"Ti-tidak mungkin?!"


"Ya, Nak. Itu benar. Maafkan Ibu, karena selama ini Ibu tidak jujur padamu," lirih Bi Ani dengan wajah pucat pasi.


Marissa begitu shok setelah mendengar penuturan Bi Ani, wanita yang selama ini memang sudah seperti Ibunya. Wanita yang selalu ada untuknya, sejak ia bayi bahkan hingga sekarang.


"Ja-jadi itu benar? Bi Ani adalah Ibu kandungku? Ta-tapi kenapa Bibi tidak pernah berkata jujur padaku? Dan apa alasan Bibi hingga membiarkan aku dirawat oleh orang lain?" tanya Marissa dengan terbata-bata.


"Ceritanya panjang, Nak."


"Ceritakanlah, Bi. Biar semuanya jelas," sambung Marcello sembari memeluk tubuh Marissa yang kini bergetar hebat.


"Dulu aku hanya seorang gadis kampung yang tinggal bersama Paman dan Bibiku. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dan hanya merekalah yang aku punya. Karena kondisi ekonomi kami yang semakin hari semakin memburuk, aku memutuskan untuk merantau ke negeri orang dan bekerja sebagai seorang Babysitter di keluarga Abraham. Hingga suatu hari, hal yang tidak pernah aku bayangkan terjadi padaku--"


Tubuh Bi Ani bergetar hebat, ia kembali terisak saat mengingat masa lalunya yang begitu kelam. Marissa menatap Marcello dengan mata berkaca-kaca. Walaupun sejujurnya ia kesal dengan wanita itu, tetapi rasa sayangnya jauh lebih besar.


Marissa bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Bi Ani. Ia menuntun wanita itu ke sofa dan mendudukkannya disana bersama dirinya.


"Duduklah, Bu."

__ADS_1


Marcello tersenyum bangga, ternyata bayangannya selama ini salah. Marissa memang sempat shok dan marah, tetapi hanya sebentar. Istri kecilnya itu tetap tidak tega membiarkan Bi Ani terisak seorang diri.


"Jika Ibu tidak bisa menceritakannya sekarang, sebaiknya nanti saja, saat Ibu sudah mulai tenang," ucap Marissa sembari mengelus punggung wanita itu.


"Tidak, Nak. Ibu akan menceritakan semuanya agar kamu tahu dan Ibu pun sedikit lebih tenang," jawabnya sambil menyeka air matanya.


Marissa kembali menoleh kepada Marcello yang masih duduk di sampingnya. Lelaki itu menganggukkan kepala sambil tersenyum hangat menatapnya.


Bi Ani kembali menghembuskan napas panjang dan mencoba mengontrol emosinya, sebelum ia melanjutkan kisah hidupnya.


"Malam itu, Tuan Abraham bertengkar hebat dengan istrinya. Entah apa yang mereka ributkan, akupun tidak tahu. Hingga akhirnya, sang Istri yang sudah tidak sanggup menahan emosinya, memilih pergi dari kediaman mewah mereka. Sedangkan Tuan Abraham, lelaki itu memilih mengurung diri di ruang pribadinya dengan ditemani minum-minuman keras. Setelah menidurkan bayi laki-laki mereka, aku pun ikut tertidur di samping tempat tidur bayi berusia satu tahun itu. Hingga--"


Ruangan itu hening karena ucapan Bi Ani terjeda untuk sesaat.


"Hingga aku merasa ada seseorang sedang membopong tubuhku dan melemparkan aku ke atas tempat tidur. Aku tersentak kaget dan kulihat Tuan Abraham sedang menggerayangi tubuhku--"


Bi Ani kembali terisak. Tubuhnya bergetar didalam pelukan Marissa.


"Malam itu Tuan Abraham menanamkan benih yang tidak seharusnya ke rahimku. Sebenarnya ... Tuan Abraham bukanlah orang yang jahat. Malam itu ia hanya dalam pengaruh minuman keras dan tidak bisa mengontrol dirinya. Dia bersedia bertanggung jawab atas diriku. Ia mencoba berkata jujur kepada sang Istri bahwa dia sudah melakukan hal yang tidak senonoh dan bersedia menikahiku."


...***...


Hayooo, masih mau tau cerita Bi Ani selanjutnya, gak? Tungguin bab berikutnya, ya! 😂😂😂 Oupss! Jangan Bully Author ya ... 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2