Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 198


__ADS_3

"Dede Kila!"


Kedua jagoan Marcello yang baru saja pulang dari sekolahnya, berlarian menghampiri Marissa yang sedang menemani Shakila bermain.


Cup!


Satu ciuman mendarat di pipi gadis mungil yang kini berusia 3 tahun tersebut. Siapa lagi kalau bukan Melvin yang menjadi tersangka utama. Marissa mengelus lembut wajah Melvin sambil terkekeh pelan.


"Kenapa sih, Kak Melvin itu suka sekali nyiumin Dede Kila?" tanya Marissa.


"Dede Kila itu cantik, Mom. Melvin suka," sahutnya.


"Kalau Alifa? Bukankah Melvin juga suka cium Alifa," tanya Marissa lagi.


"Sekarang tidak lagi, Mom. Alifa itu suka nakal. Dia suka cubit Melvin kalo Melvin cium dia," tuturnya polos dengan mata membulat saat menatap Marissa.


Marissa kembali tergelak mendengarnya. "Ya ampun, Melvin. Kamu itu lucu sekali. Alifa bukannya nakal tapi memang dia tidak suka diciumin sama Kak Melvin. Alifa 'kan udah gede," ucap Marissa.


Melvin menekuk wajahnya setelah mendengar ucapan Marissa. "Tapi Melvin masih suka gemes, Mom."


"Ya, sudah. Cepat ganti baju kalian! Nanny kalian sudah nungguin, tuh."


"Yes, Mom!"


Melvin mencium pipi Marissa kemudian segera berlari menuju kamarnya, dimana Babysitter-nya sudah menunggu. Sedangkan Marvel masih berjongkok di hadapan Shakila sambil menatap lekat wajah gadis mungil itu.


"Marvel tidak ikutan sama Melvin?" tanya Marissa heran.


Sebelum bangkit, Marvel sempat mencium pipi Shakila kemudian berlari menyusul Melvin.


"Ya Tuhan, sebenarnya kedua jagoanku ini kenapa, ya? Segitunya sama Shakila," gumam Marissa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Marissa mengangkat tubuh Shakila dan meletakkan gadis mungil itu di pangkuannya. "Kila, Kalau udah gede jangan bikin kedua jagoan Mommy Icha rebutan Kila, ya. Nanti kasihan mereka," ucap Marissa sambil terkekeh pelan.


Tiba-tiba saja Shakila menyentuh perut Marissa sambil tersenyum. "Dede," serunya.

__ADS_1


Marissa menautkan kedua keningnya sambil menatap wajah cantik gadis mungil itu. "Apaan sih, Sayang?"


"Ada Dede-na," ucap Shakila lagi, masih mengelus lembut perut Marissa.


Mata Marissa berkaca-kaca mendengar penuturan Shakila. Walaupun ia tidak mempercayai perkataan bocah mungil itu, tetapi ada rasa bahagia saat ia mendengar penuturan polosnya.


"Terima kasih, Kila. Tapi di perut Mommy Icha belum ada Dedenya," sahut Marissa sembari menepuk pelan perut ratanya.


Shakila memeluk Marissa dengan erat. "Kila sayang Mommy Icha."


"Ya, Mommy Icha juga sayang sama Kila."


Seminggu kemudian.


"Ya ampun, Daddy. Kamu ini pake parfum apa? Baunya menyengat sekali," ucap Marissa sembari menutup hidungnya dan terus mencoba menjauh dari Marcello yang mencoba menghampirinya.


Marcello menciumi aroma tubuhnya sendiri dan menurutnya tidak ada yang salah. Bahkan parfum yang ia gunakan adalah parfum pilihan Marissa sendiri.


"Kamu kenapa, Cha? Perasaan tidak ada yang salah padaku?" ucap Marcello sambil memasang wajah heran.


"Ya Tuhan, kesambet apa lagi istriku ini?" gumam Marcello. "Minggu kemarin nangis-nangis dalam kamar mandi dan sekarang dia malah bilang aku bau lagi."


"Sebentar!"


Karena penasaran, akhirnya Marcello keluar dari kamar utama sambil memanggil para Pelayan.


"Pelayan! Pelayan!" teriaknya.


Para Pelayan pun segera berdatangan menghampiri lelaki itu dengan tergesa-gesa. "Ya, Tuan?" tanya mereka bersamaan.


"Coba kalian berkumpul disini sebentar," ucap Marcello dengan wajah cemas.


Para Pelayan pun segera berkumpul disana dan menunggu titah selanjutnya dari Marcello. Lelaki tampan itu berdiri di hadapan para pelayannya kemudian berucap.


"Coba kalian cium aroma tubuhku, apa aku bau?" ucap Marcello.

__ADS_1


Satu-persatu para Pelayan menghampiri Marcello dan mencoba mencium aroma tubuhnya. Setelah selesai, mereka pun kembali ke posisi mereka masing-masing.


"Bagaimana menurut kalian, apa aroma tubuhku aneh?" tanya Marcello sambil menautkan kedua alisnya menatap deretan para Pelayannya.


Para Pelayan itu serempak menggelengkan kepala mereka. "Tidak, Tuan Marcello," jawab mereka secara bersamaan.


Marissa berada di lantai atas sambil memperhatikan Marcello dan para Pelayannya. Wanita itu bahkan masih menutup hidungnya padahal jarak dia dan Marcello cukup jauh.


"Kamu dengar itu, Cha? Aku tidak bau, itu artinya hidungmu perlu diperiksa," ucap Marcello dengan setengah berteriak menatap Marissa yang berdiri di lantai atas.


"Hhh, hidungku tidak ada masalah. Hidung kalian yang lagi ada masalah kayaknya. Apa jangan-jangan kalian disogok sama Daddy, ya? Biar gak ngaku bahwa tubuh Daddy itu bau," balas Marissa dari lantai atas.


Marcello menepuk pundaknya sambil memasang wajah kesal menatap Marissa. "Ya, Tuhan! Hilangkan lah Jin yang sedang menempel di tubuh isteriku," gumamnya.


"Aku dengar itu, Daddy!"


"Ya ampun, telinganya tajam sekali."


Tepat disaat itu Joe tiba di sana karena bingung melihat para Pelayan yang berkumpul.


"Nah, kebetulan sekali! Joe, kemarilah! Coba kamu cium tubuhku, apa aku bau?" ucapnya sembari menghampiri Joe.


Joe sempat bingung, tetapi saat Marcello meminta Joe untuk mencium aroma tubuhnya, Joe pun menurut saja.


"Apa menurutmu aroma tubuhku tercium aneh?"


Joe menggelengkan kepalanya sama seperti para pelayan. "Tidak, Tuan."


"Nah, benar 'kan? Dan sekarang, apa kamu masih mau bilang kalau Joe juga disogok olehku?"


"Bisa saja, 'kan?"


(Maaf ya, Pemirsah 😄 Author cuma mau bilang bahwa Sofia disini bukannya gak adil. Hanya saja dia kerepotan merawat tiga balita sekaligus. Dia gak ada niat mengabaikan Shakila kok 🙏🙏🙏 Di kehidupan nyata pun kita sebagai emak sering begitu, kakak mesti terabai apalagi saat si kecil sakit atau lagi cerewet, ye kan 😄)


...***...

__ADS_1


__ADS_2