Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 102


__ADS_3

Marissa terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam dinding yang tergantung di dinding kamar sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Ya, ampun! Sudah siang," gumamnya.


Ia menoleh kearah lelaki yang sedang tidur di sampingnya. Wajah tampan itu terlihat tenang. Padahal Marissa yakin, Marcello pusing tujuh keliling menahan sang 'King Cobra' yang ingin masuk sarang tadi malam.


Perlahan, ia menyingkirkan tangan Marcello yang masih melingkar di perutnya. Setelah berhasil menyingkirkan tangan besar itu, ia pun segera menuju kamar mandi dan berniat ingin melakukan ritual mandinya.


Ketika memasuki kamar mandi, Marissa sempat terdiam sambil menatap bayangannya di cermin. Ia tersenyum ketika membayangkan dirinya dengan perut membuncit.


"Aku pasti terlihat lucu saat perut ini mulai membesar, jalan ku pasti seperti ini nantinya," gumam Marissa sembari mencontohkan gaya jalan wanita hamil pada umumnya, di depan cermin.


Marissa terkekeh pelan kemudian mengelus perut ratanya dengan lembut. "Tidak apa, Baby. Biarkan Mommy'mu ini terlihat aneh dan jelek, asalkan kamu sehat dan baik-baik saja disana,"


Tiba-tiba Marissa mengerutkan alisnya sambil berpikir. Ia bingung kenapa ia tidak merasakan mual dan muntah di pagi hari. Padahal menurut orang-orang yang sudah berpengalaman, rata-rata mereka mengalami morning sickness.


"Apa ada yang salah denganku, ya?" gumamnya.


Tiba-tiba saja, pintu kamar mandi dibuka dengan cepat oleh seseorang dari luar dan nampaklah sekelebat bayangan laki-laki yang melewatinya dengan cepat menuju westafel.


"Daddy?!"


Hueekkk ... hueekkk .... (Moga aja onomatope orang muntahnya bener 🙏🙏🙏)


Ternyata Marcello mengeluarkan isi perutnya di dalam westafel. Marissa kebingungan, ia menghampiri Marcello dengan wajah panik kemudian mengelus punggung lelaki itu. 


"Kamu kenapa, Dad?" tanya Marissa panik.


Marcello tidak dapat menjawab pertanyaan Marissa. Ia terus saja menguras isi perutnya hingga benar-benar habis. Marcello merasakan tubuhnya lemah, kepalanya berputar-putar dan perutnya yang semakin bergejolak. Marcello yang sudah lemah, akhirnya memilih menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Sepertinya Daddy lagi masuk angin, deh."


Dengan langkah cepat, Marissa menghampiri kotak obat-obatan dan meraih sebotol minyak kayu putih dari dalam sana. Ia kembali menghampiri Marcello dengan botol minyak kayu putih di tangannya.


"Aku balurin sama ini ya, Dad? Biar perutnya hangat," ucap Marissa sembari memperlihatkan botol minyak kayu putih yang sedang ia genggam.


Marcello yang sudah tidak berdaya hanya bisa membiarkan Marissa mengoleskan minyak kayu putih ke tubuhnya. Padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia begitu menolak.


"Ya, Tuhan! Masa keren-keren begini lulurannya sama minyak kayu putih!" batin Marcello dengan mata terpejam. Ia masih menikmati sensasi perut yang bergejolak dan kepala yang terasa berputar-putar 360 derajat.


"Bagaimana, sudah enakan?" tanya Marissa sambil menatap wajah pucat Marcello.


Marcello masih belum bisa membuka suaranya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan mata yang masih tertutup rapat.


Marissa cemas melihat keadaan Marcello yang lemas dengan wajah memucat. Beberapa kali Marissa mengecek suhu tubuh lelaki itu, tetapi sepertinya tubuh Marcello memang agak lebih hangat dari suhu normal.


Marissa panik, ia berjalan cepat mencari keberadaan Ibunya. Ternyata saat itu Bu Dian sedang berbincang bersama Joe, si wajah dingin.


"Ah, kebetulan sekali!" gumamnya sembari menghampiri kedua orang itu.


"Om Joe, tolong! Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Tuan Marcello, tetapi sekarang keadaannya benar-benar sedang tidak baik," seru Marissa dengan wajah panik.


Mendengar ucapan Marissa, sontak saja kedua orang itu terkejut.


"Ada apa dengan Tuan Marcello?" tanya Joe dengan wajah cemas menatap Marissa.


"Entahlah, tadinya dia muntah terus dan sekarang kondisinya begitu lemah," jawab Marissa.


Tanpa pikir panjang, Joe segera berlari menuju kamar Big Bossnya tersebut. Sedangkan Dian dan Marissa mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa, Marissa?" tanya Dian.


"Marissa tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja Tuan Marcello masuk ke dalam kamar mandi kemudian muntah disana hingga ia benar-benar lemah tak berdaya," jawab Marissa sambil melangkahkan kakinya dengan cepat.


Setibanya didalam kamar, Marissa segera memberitahu Joe bahwa suaminya sedang berada di dalam kamar mandi. Joe pun bergegas menuju kamar mandi dan ternyata benar, lelaki itu tengah bersandar di dinding kamar mandi dengan mata terpejam dan dalam kondisi yang memprihatinkan.


"Tuan! Tuan Marcello, apa yang terjadi pada Anda, Tuan?" tanya Joe panik.


"Joe ...!" lirih Marcello.


"Mari, Tuan. Sebaiknya Anda beristirahat di kamar Anda,"


Dengan sekuat tenaga Joe membantu Marcello yang sudah tidak berdaya berjalan menuju kamarnya. Tubuh Marcello yang besar dan berotot, tidak memungkinkan Marissa membantunya berjalan. Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil muda. Itulah sebabnya ia keluar dan mencari pertolongan.


Setibanya di kamar, Joe membantu lelaki itu berbaring di atas tempat tidur mewahnya.


"Sebaiknya saya panggil Dokter," ucap Joe.


"Ya, Om! Panggil saja, aku pun takut terjadi sesuatu pada suamiku," jawab Marissa sembari menghampiri Marcello dan duduk disamping tubuh lelaki itu.


Sementara Joe memanggil Dokter, Marissa dan Dian menemani Marcello di ruangan itu.


"Memangnya Tuan Marcello makan apa tadi malam?" tanya Dian sembari duduk di kursi kecil yang biasa digunakan oleh Marissa untuk bersolek.


"Entahlah. Waktu makan malam, menunya masih sama seperti yang Marissa makan," jawab Marissa sambil mengelus puncak kepala Marcello dengan lembut.


...***...


Yang penasaran sama cerita lanjutan Om Riyadh, bab nya ntar nyusul ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2