
"Mom, bantuin Maria ngomong sama Daddy, ya! Please," lirih Maria sembari duduk di samping Marissa.
"Ngomong apaan sih, Maria?" tanya Marissa yang nampak kebingungan.
"Ini masalah pertunangan Maria dengan Tuan Aidan, Mom. Maria tidak mau menikah dengannya. Sekarang Maria sudah punya calon sendiri dan bantu Maria mengatakan hal itu kepada Daddy biar Daddy mengerti keinginan Maria," tutur Maria dengan mata membulat menatap Marissa.
"Marissa mengerutkan alisnya. "Benarkah, siapa calonmu?"
"Ehm, itu ...." Maria mulai ragu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Marissa.
Sedangkan Marissa masih menatap Maria tanpa berkedip sedikitpun. Ia begitu penasaran siapa yang bersedia menikahi anak gadisnya itu.
"Hmm?!" gumam Marissa.
"Ehm, namanya Om Udin, Mom!"
"Udin?!" pekik Marissa.
Marissa tidak bisa menahan tawanya. Ia tergelak setelah Maria menyebutkan nama Udin. Nama Udin yang selama ini tidak asing baik di telinga Marissa maupun Marcello, karena anak gadis mereka terus saja menyebut nama Udin, Udin dan Udin.
"Ya ampun, Maria! Apa tidak ada nama lain selain Udin?" ucap Marissa disela gelak tawanya.
Maria menekuk wajahnya sambil menatap sang Mommy yang masih tertawa di hadapannya.
"Ih, Mommy. Mommy belum lihat sih, bagaimana si Om Udin itu sebenarnya. Namanya mungkin terdengar agak kampungan tapi dia keren loh, Mom. Bahkan menurut Maria Om Udin bisa bersaing sama Tuan Aidan," lirih Maria.
"Benarkah? Memang pekerjaan Om Udin itu apa?"
Marissa menghentikan tawanya kemudian mulai mengajak Maria bicara dengan serius di ruangan itu.
Maria menundukkan kepala dan tangannya terus menggulung-gulung ujung rok berwarna abu-abunya. "Dia ... dia hanya seorang sopir pribadi, Mom."
__ADS_1
Marissa terdiam sejenak setelah mendengar jawaban anak gadisnya itu. "Maria, lihatlah Mommy."
Marissa meraih wajah Maria hingga mereka pun saling bertatap mata.
"Jujur, Mommy tidak pernah mempermasalahkan status seseorang, walaupun dia hanya seorang sopir, Maria. Tapi, kali ini Mommy ingin kamu benar-benar memikirkan pilihanmu secara matang. Jangan sampai suatu saat nanti kamu malah menyesali pilihanmu."
"Tidak, Mom! Maria sudah memikirkannya dengan matang dan Maria sangat yakin dengan pilihan Maria," jawab Maria.
"Hmm, baiklah. Mommy bantu kamu bicara sama Daddy. Tapi Mommy tidak berjanji bahwa ini pasti berhasil. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana Daddy?"
"Ya, aku tahu, Mom. Setidaknya Maria tidak sendirian saat ini," lirih Maria.
"Kamu tidak pernah sendiri, Maria. Mommy akan selalu bersamamu," ucap Marissa sembari memeluk tubuh anak gadisnya itu.
Setelah selesai bicara dengan Marissa, Maria pun pamit dan segera kembali ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Sementara itu di ruang utama.
"Daddy,"
"Hmm?"
"Bagaimana cara mengatakannya, ya?" gumam Marissa sembari menggaruk tengkuknya.
"Kenapa, Cha?"
"Ini masalah anak gadismu," ucap Marissa sembari menggenggam tangan Marcello.
"Maria? Ada apa lagi dengan gadis itu? Apa dia buat masalah lagi di sekolahnya?"
"Bukan, Daddy! Bukan masalah itu," sahut Marissa.
__ADS_1
"Lah, trus?"
"Ini masalah rencana pertunangannya dengan Aidan, putra Tuan Alfonso."
Marcello menatap wajah Marissa dengan serius. "Kenapa lagi?"
"Daddy, anak gadismu itu tidak menyukai Aidan, bagaimana bisa kita memaksany bertunangan dengan laki-laki yang sama sekali tidak ia sukai? Aku pun jika seandainya berada di posisi Maria, aku akan menolaknya, Dad! Buat apa menikah tanpa dasar rasa cinta?" tutur Marissa dengan sangat serius.
"Tapi, Maria 'kan belum tahu bagaimana sikap Aidan sebenarnya. Nanti kalau Maria sudah sadar bahwa Aidan itu baik, aku yakin dia pasti akan berterima kasih kepada kita karena sudah menjodohkannya dengan seorang Aidan."
"Masalahnya anak gadismu itu sudah punya pilihan lain!" kesal Marissa.
Mata Marcello membesar setelah mendengar ucapan Marissa. Kini ia menatap istrinya itu dengan tatapan serius. "Benarkah? Siapa lelaki itu?"
"Tapi, janji Daddy tidak akan tertawa," ucap Marissa.
"Ya, janji."
"Udin."
Benar saja, bukan hanya Marissa yang merasa lucu saat nama Udin disebutkan. Marcello pun tertawa lepas saat nama Udin disebut oleh Marissa.
"Tuh 'kan Daddy, dibilang jangan tertawa juga."
"Aku sangat penasaran dengan sosok Udin ini. Kita sudah sering kali mendengar namanya. Tapi, kita sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki itu."
"Dia hanya laki-laki biasa dan pekerjaannya hanya seorang sopir pribadi, Dad."
Marissa menghembuskan napas berat sembari memperhatikan ekspresi wajah Marcello saat itu. Marcello terdiam sejenak dan sepertinya ia sedang berpikir keras.
"Aku ingin bicara masalah ini sama Maria terlebih dahulu sebelum memutuskan semuanya. Ini masalah pelik, Marissa. Kita sudah terlanjur mengiyakan acara pertunangan Aidan dan Maria, bukan? Tidak semudah itu memutuskannya. Aku tidak ingin hanya gara-gara masalah ini, hubunganku dengan Tuan Alfonso menjadi renggang," ucap Marcello.
__ADS_1
...***...