Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 104


__ADS_3

Ismika menangis tersedu-sedu di ruangan pribadi Riyadh sendirian, setelah Riyadh pergi meninggalkannya.


"Aku harus cari tahu dimana keberadaan wanita sialan itu! Dan kedua lelaki penipu itu, awas saja kamu!" gumamnya dengan seharian airmata.


Ceklek!


Pintu ruangan itu kembali terbuka. Seseorang membukanya dari luar dan Ismika pun segera menoleh kearah pintu. Seorang laki-laki muda dan tampan, memasuki ruangan itu dengan wajah heran. Zaid bingung ketika menyaksikan Ibunya menangis histeris didalam ruangan itu sendirian. Ia menghampiri Ismika kemudian duduk di sampingnya sembari mencoba menenangkan wanita itu.


"Ma, Mama kenapa? Apa Papa bersikap kasar lagi sama Mama?" tanya Zaid.


"Seperti itulah Papamu, Zaid. Zaid, ada yang ingin Mama bicarakan kepadamu dan ini tentang masa lalu Papamu," ucap Ismika sambil menyeka air matanya yang masih mengalir di antara kedua sudut matanya.


"Katakanlah, Ma,"


"Zaid, dulu kami menyewa jasa seorang Babysitter untuk membantu kami merawatmu. Namun, siapa sangka ternyata Papamu berselingkuh dengan gadis itu dan mengakibatkan gadis itu hamil. Papamu meminta izin untuk menikahi wanita itu, tetapi apakah salah jika Mama menolaknya, Zaid? Sejak saat itu, Papamu berubah. Ia bukan lagi Riyadh yang dulu. Ia selalu mencari-cari kesalahan Mama untuk menutupi kesalahannya."


Tangis Ismika kembali pecah. Ia sesenggukan didalam pelukan Zaid yang kini wajahnya memerah karena menahan amarahnya.


"Lalu, dimana wanita itu sekarang?!" tanya Zaid.


"Mama juga tidak tahu, Zaid. Dulu dia pergi karena Mama tidak kunjung memberikan restu kepada mereka untuk melaksanakan pernikahan. Dan Mama yakin sekali, Papamu pasti kembali berhubungan dengan wanita itu."


"Mama tenang saja, Zaid tidak akan pernah membiarkan mereka hidup bahagia diatas penderitaan Mama. Zaid akan beri pelajaran pada wanita itu juga anaknya!" geram Zaid.


Rahang Zaid mengeras dan gigi-giginya terdengar bergeretak ketika ia mengucapkan kata-kata itu. Ia benar-benar murka setelah mengetahui penyebab keretakan rumah tangga kedua orang tuanya.


Ismika menyeringai licik karena ia berhasil mendapatkan dukungan dari Zaid, anak semata wayangnya. Sekarang ia tidak begitu takut, walaupun Riyadh mengancamnya, paling tidak ia masih memiliki Zaid yang akan terus membela dan mendukungnya.

__ADS_1


. . .


Riyadh sedang berada didalam kamarnya. Sudah beberapa tahun terakhir, Riyadh dan Ismika tidur dikamar yang berbeda. Lelaki itu sedang duduk di tepian tempat tidur dengan hanya menggunakan handuk sebagai penutup area pribadinya. Ia tersenyum simpul sembari menatap layar ponsel yang sedang berada di dalam genggamannya.


Setelah menghubungi nomor seseorang, ia pun segera meletakkan ponsel tersebut di samping telinganya.


"Marcello, apa kabar?" ucapnya dengan wajah semringah.


Ternyata saat itu ia sedang menghubungi Tuan Marcello yang masih berperang dengan ngidam ala Hot Daddy.


"Buruk! Aku tidak menyangka calon cucumu ini begitu membenci Daddy-nya Tuan Riyadh," jawab Marcello yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Sontak saja, Tuan Riyadh tergelak setelah mendengar jawaban dari sahabat yang sekarang merangkap menjadi menantunya tersebut.


"Oh ayolah, Marcello! Bertahanlah demi cucuku," goda Riyadh.


"Heh, Tuan Riyadh! Kenapa tidak kamu saja yang gantikan posisiku, kamu 'kan Kakeknya!" kesal Marcello setelah mendengar gelak tawa dari lelaki itu.


Tanpa Riyadh sadari, Ismika menguping pembicaraan lelaki itu. Ia dapat mendengarkan ucapan suaminya dengan jelas karena pintu kamar tersebut tidak tertutup sempurna.


"Cucu? Marcello?" gumam Ismika.


Ismika mulai berpikir keras hingga akhirnya ia membulatkan matanya dengan sempurna.


"Jangan-jangan, Riyadh bertemu dengan wanita itu di acara pesta pernikahan Tuan Marcello kemarin. Dan entah kenapa aku curiga bahwa Istri Marcello adalah anak dari Dian dan Riyadh?! Tidak, tidak! Ini tidak mungkin," gumamnya dengan wajah panik.


"Marcello, bolehkah aku bicara dengan Marissa?" tanya Riyadh.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Marcello sembari menyerahkan ponselnya kepada Marissa yang sedang duduk di sampingnya.


"Apa?" tanya Marissa kebingungan ketika Marcello menyerahkan ponselnya.


"Ayahmu ingin bicara," jawab Marcello singkat, karena kepalanya yang masih berat dan terasa berputar-putar 360 derajat.


Marissa tersenyum kemudian dengan cepat ia meraih benda pipih tersebut dan meletakkannya ke samping telinga.


"Ya, Ayah?" sapa Marissa dengan wajah semringah.


"Marissa sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Riyadh yang tidak kalah bahagianya bisa bicara dengan anak perempuannya.


"Baik. Kapan Ayah berkunjung kesini lagi? Soalnya ... disini ada yang lagi kangen sama Ayah," goda Marissa sembari melirik Dian yang duduk sedang duduk di sofa depan tempat tidur Tuan Marcello.


Mata Dian membulat sempurna, menatap Marissa, wajahnya terlihat memerah karena malu. "Marissa!" kesalnya dengan setengah berbisik.


Marissa yang nakal mulai menekan tanda Loudspeakers. Ia berbicara bersama Tuan Riyadh dengan menggunakan suara luar agar Ibunya dapat mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan oleh lelaki itu.


Tuan Riyadh terkekeh pelan. Wajahnya pun ikut merona. "Benarkah? Wah, kalau begitu Ayah akan secepatnya mengunjungi kalian lagi. Dan jangan lupa, sampaikan salam Ayah kepada Ibumu," ucapnya.


"Ciee ..." goda Marissa sambil tergelak.


Bukan hanya Marissa, Marcello yang sedang merasakan sensasi Morning Sickness pun tidak kuat untuk tidak tertawa.


"Dasar, tua-tua keladi!" gumamnya.


Ismika yang masih menguping pembicaraan Riyadh, semakin geram. Apalagi sekarang ia tahu bahwa wanita muda yang menjadi Istri dari Marcello adalah anak dari Dian dan Suaminya.

__ADS_1


"Tidak salah lagi, Marissa adalah anak wanita itu! Pantas saja aku merasa wajahnya begitu familiar," geram Ismika.


...***...


__ADS_2