
"Tuan, Anda tidak apa-apa?"
Salah seorang pengguna jalan menghampiri sopir yang tergeletak di tanah. Lelaki itu akhirnya sadarkan diri dan mulai mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Terima kasih, Tuan. Aku baik-baik saja."
Setelah memastikan bahwa sopir itu baik-baik saja, pengguna jalan itupun kembali meneruskan perjalanannya. Sedangkan sang sopir bergegas memasuki mobilnya kemudian kembali ke mansion.
Dengan ketakutan, lelaki itu berniat menemui Tuan Joe dan ingin menceritakan semua yang sudah terjadi kepadanya dan juga Shakila. Baru saja ia menginjakkan kakinya di depan kediaman Tuan Joe, Tuan Joe sudah menyambutnya dengan wajah cemas.
"Ada apa ini? Kenapa wajahmu berdarah-darah?" tanya Tuan Joe.
Ya, akibat pukulan lelaki sangar itu, wajah Pak Sopir terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"Barusan mobil kami di serang, Tuan. Dan Nona Shakila ...."
Pak Sopir tersebut tidak berani melanjutkan kata-katanya. Namun, Joe tahu bahwa anak perempuannya sedang dalam masalah. Ia mencengkeram kedua bahu Pak Sopir itu dengan erat dan mulai histeris.
"Apa yang terjadi pada anakku! Katakan!" ucapnya dengan wajah memerah.
"Sepertinya Nona Shakila diculik, Tuan," jawabnya dengan gemetar.
"Apa! Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Tuan Joe dengan setengah berteriak.
"Seseorang menghampiri mobil kami kemudian menyerang saya, Tuan. Hingga saya tidak sadarkan diri dan setelah saya sadar, Nona Shakila sudah tidak ada disana."
Pak Sopir itu kini nampak pasrah walaupun Joe akan menghukumnya. Marcello yang saat itu baru saja menginjakkan kakinya di halaman mansion, terkejut setelah mendengar suara Joe yang terdengar sangat marah.
Ia berjalan menghampiri Joe sambil memperhatikan ekspresi Joe yang masih mencengkeram salah satu sopirnya.
__ADS_1
"Ada apa ini, Joe?" tanya Marcello heran. Apalagi saat ia melihat luka di pelipis Pak Sopir tersebut.
"Shakila, Tuan. Sepertinya dia diculik," sahut Joe seraya melepaskan tubuh Pak Sopir tersebut.
"Apa?! Ta-tapi kenapa?" pekik Marcello yang tidak kalah terkejutnya.
Joe menggelengkan kepalanya pelan. "Saya pun tidak tahu, Tuan. Tapi, kata Sopir ini, seseorang sudah membawa pergi Shakila."
Joe meraih ponselnya kemudian mulai menghubungi nomor Shakila. Namun, hingga puluhan kali ia mencoba menghubungi nomor tersebut, Shakila tidak juga menerima panggilannya.
"Bagaimana?!" tanya Marcello panik.
"Ponselnya berdering, tetapi Shakila tidak mengangkatnya."
"Segera kerahkan anak buahmu, Joe! Temukan Shakila, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada calon menantuku!"
Setelah mengucapkan hal itu, Marcello pun segera kembali masuk ke dalam rumah megahnya dan mencoba menghubungi kedua anak lelakinya agar membantu Joe mencari keberadaan Shakila.
Marvel dan Melvin begitu terkejut mendengar berita buruk tersebut. Terlebih Marvel, ia begitu shok setelah tahu bahwa calon istrinya diculik. Sedangkan Melvin mulai curiga bahwa hilangnya Shakila ada sangkut pautnya dengan Aira yang juga tidak tahu dimana rimbanya sekarang ini.
"Ada apa, Dad?" tanya Marissa kepada Marcello yang terlihat panik dengan ponsel di tangannya.
"Shakila, Cha. Kata Joe, gadis itu diculik," ucap Marcello.
"Apa?!" Seketika tubuh Marissa lemas, ia menjatuhkan dirinya di sofa sambil memegang dadanya.
"Ya, Tuhan ... bagaimana ini bisa terjadi," lirih Marissa.
"Kamu tidak perlu cemas, Cha. Percayalah, anak buahku pasti bisa menemukan Shakila. Saat kamu bersembunyi di pelosok desa tak terjamah saja, mereka bisa menemukanmu. Tentu tidak akan sulit bagi mereka menemukan Shakila jika ia masih berada di sekitaran kota ini," jawab Marcello sembari merengkuh tubuh Marissa yang lemas.
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Semoga saja,"
"Yang aku tidak mengerti, apa alasan mereka menculik Shakila. Shakila adalah gadis polos yang hanya bergelut di tempat ini dan juga kampusnya, rasanya tidak mungkin jika gadis itu punya musuh. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Marvel?"
"Jangan menakutiku, Dad," lirih Marissa.
"Aku tidak menakutimu, Cha. Aku hanya menduga-duga saja."
Sementara itu.
Tubuh Shakila yang lemah tak berdaya itu mulai bergerak dan matanya pun perlahan terbuka. Ia memperhatikan sekeliling ruangan asing tersebut dengan seksama.
"Oh, Tuhan ... dimana aku?" gumam Shakila sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
Shakila mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi padanya barusan. Setelah ingat bahwa dirinya sedang diculik, ia pun segera bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan itu.
Namun, belum sampai Shakila menuju pintu, seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut sambil tersenyum manis kepadanya.
"Wah, akhirnya kamu sadar, Gadis Nakalku!" ucapnya seraya menghampiri Shakila yang kembali ketakutan.
"Siapa kamu dan kenapa kamu menculikku?!" teriak Shakila sembari melangkah mundur, mencoba menjauhi lelaki itu.
Lelaki itu mengerutkan kedua alisnya sambil terus mencoba mendekati Shakila yang ketakutan.
"Jangan berpura-pura tidak mengenaliku, Gadis Nakal! Mulai sekarang kamu akan menjadi milikku seorang dan setelah ini kamu hanya akan menari untukku saja," sahutnya sambil tertawa pelan.
"Apa? Menari?!" pekik Shakila kebingungan.
...***...
__ADS_1