
"Akkkhhhh!!!"
Terdengar teriakan dari dalam sebuah kamar. Kamar yang di tempati oleh Kakak kandungnya Dylan. Seorang Dokter dan dua Perawat bahkan tidak mampu menenangkan wanita itu.
Tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya nampak pucat karena ketakutan. Mulutnya terus bergumam dan kadang-kadang ia menjerit histeris di ruangan itu.
Salah seorang Pelayan berlari menuju kamar utama. Dimana Dylan sedang merebahkan tubuh besarnya di atas tempat tidur mewah berukuran king size tersebut sambil membayangkan wajah menggemaskan Maria.
"Ya ampun, Nona Maria. Kenapa kamu buat aku menjadi seperti ini? Aku seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Aku bahkan mau-maunya saja menuruti apa katamu, lihat aku, Nona Maria. Aku sedang menggunakan piyama tidur dengan motif kucing jantan berwarna biru pemberianmu. Dan jangan lupakan gelang aneh ini! Gelang ini masih melingkar di lenganku. Padahal aku sendiri tidak tahu apa bagusnya benda ini," gumam Dylan sembari memperhatikan gelang pemberian Maria yang masih melingkar di pergelangan tangannya.
Tepat di saat itu, seorang Pelayan yang ditugaskan untuk memberitahu Dylan tentang Kakaknya, akhirnya tiba di depan pintu kamar utama. Ia segera mengetuk pintu kamar Dylan sembari memanggil nama majikannya tersebut.
Tok ... tok ... tok ....
"Tuan Dylan, Tuan Dylan?!" panggilnya.
Lamunan Dylan pun buyar. Ia bangkit dari posisi nyamannya kemudian duduk di tepian tempat tidur dengan kaki menjuntai ke lantai.
"Ya, ada apa, Bi?"
"Tuan Dylan, Kakak Anda--"
__ADS_1
Belum habis Pelanyan itu berucap, Dylan sudah memotong kata-katanya.
"Kenapa dengan Kakakku, Bi?" pekik Dylan sembari melangkah dengan cepat menuju pintu kamar kemudian membukanya. Nampak seorang Pelayan sedang berdiri di depan pintu kamar dengan wajah pucat pasi.
"Nyonya kembali histeris, Tuan. Dokter dan dua perawat yang merawatnya bahkan terlihat kewalahan saat mencoba menenangkannya."
"Ya, Tuhan!" pekik Dylan.
Tanpa memperdulikan reaksi Pelayan saat itu, Dylan terus berlari kecil menuju kamar Kakaknya. Di tengah kepanikan, tersungging sebuah senyuman di wajah Pelayan yang berlari di belakang Dylan.
"Astaga, Tuan Dylan ... Anda menggemaskan sekali!" batin Pelayan itu sambil tersenyum-senyum sendiri saat melihat penampilan Dylan yang sangat menggemaskan dengan piyama tidur bermotif Doraemon tersebut.
"Kakak," panggil Dylan sembari mencoba menghampiri Kakaknya yang masih ketakutan.
Wanita itu duduk di salah satu sudut kamar sambil menekuk kedua lututnya. Mulut wanita itu terus bergumam dan rambut panjangnya terlihat acak-acakan.
Setelah mendengar suara Dylan, wanita itu segera mengangkat kepalanya dan menatap Dylan yang kini berjongkok tepat di hadapannya.
"Dylan, dia datang lagi! Lelaki itu datang lagi dengan membawa pistol! Dia mengancam akan membunuhku. Aku takut, Dylan! Aku takut," ucap wanita itu sambil memeluk erat tubuh Dylan.
"Tenang, Kak. Dia sudah pergi karena aku baru saja mengusirnya," sahut Dylan sembari membalas pelukan Kakaknya sambil mengelus punggung wanita itu.
__ADS_1
"Benarkah? Dia sudah pergi? Lalu bagaimana dengan pistolnya? Ya, dia tadi membawa pistol itu dan mencoba menembakkannya kepadaku."
Mata wanita itu membulat menatap Dylan. Ia benar-benar ketakutan. Dylan menyentuh pipi wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka bahwa Kakak perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung keluarganya, akan menjadi seperti ini.
"Pistolnya sudah aku buang, Kak. Jadi, Kakak tidak usah mencemaskan hal itu lagi, ya," jawab Dylan sambil menitikkan air matanya.
Perlahan Dylan mengajak wanita itu bangkit dari posisinya kemudian membawa wanita itu kembali ke tempat tidur. Dylan memeluk wanita itu dengan erat sambil mengisyaratkan kepada Dokter agar memberinya obat penenang.
Setelah Dokter berhasil menyuntikkan obat penenang kepada wanita itu, Dylan pun mengajaknya untuk beristirahat.
"Sebaiknya Kakak istirahat saja."
Wanita itu meraih tangan Dylan kemudian menggenggamnya dengan erat. "Jangan tinggalkan Kakak, Dylan. Temani Kakak, ya. Kakak masih takut," lirihnya dengan mata yang masih liar. Menatap ke sekeliling ruangan kamar.
Dylan membalas genggaman Kakaknya sambil tersenyum. "Ya, Kak. Aku akan tetap disini, menemanimu."
Setelah beberapa saat, obat penenang yang diberikan oleh Dokter pun mulai bereaksi. Wanita itu mulai tenang dan tidak meracau lagi. Dylan masih setia menemani sang Kakak hingga akhirnya wanita itu tertidur dengan sangat nyenyak.
"Aku ingin sekali mencoba melupakan kesalahan lelaki itu, Kak. Aku ingin belajar memaafkan, tetapi jika aku melihatmu seperti ini, kebencianku malah semakin menjadi pada lelaki itu!" gumam Dylan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
...***...
__ADS_1