
Seperti yang diucapkan oleh Marcello sebelumnya, mereka mengadakan acara 7 bulanan Marissa dengan mengundang para anak-anak penghuni panti asuhan, dimana Marcello menemukan Marissa dulu.
Acara di laksanakan di halaman depan mansion yang sangat luas tersebut. Dimana anak-anak panti bisa bergerak bebas kesitu kemari. Bukan hanya anak-anak panti, Marissa dan Marcello juga mengundang beberapa keluarga dan kerabat dekat mereka, termasukrmasuk Erika dan Fattan.
"Selamat ya, Cha. Semoga kamu dan bayimu selalu sehat hingga melahirkan nanti," ucap Erika sambil menyentuh perut besar Marissa.
"Terima kasih, Tante Erika!" sahut Marissa dengan menirukan suara anak kecil.
"Eh, ngomong-ngomong bagaimana denganmu?" tanya Marissa penasaran karena sampai sekarang Erika belum juga hamil padahal hari pernikahan mereka hanya berjarak beberapa minggu saja.
"Masih belum, Cha. Kata Dokter--" ucapan Erika tertahan. Wajahnya berubah menjadi sendu ketika bersitatap dengan Marissa. Selama ini ia divonis susah mendapatkan keturunan karena ada sedikit masalah pada rahimnya.
"Oh, Erika!"
Marissa menghambur ke pelukan Erika dan kedua sahabat itupun berpelukan dengan erat.
"Doakan aku segera menyusulmu ya, Cha."
Erika melerai pelukan mereka dan kini ia menatap wajah sabahatnya itu sembari melemparkan sebuah senyuman hangat.
"Tentu saja, Erika. Aku akan selalu mendoakanmu," ucap Marissa.
Saat itu Sofia tengah berada di antara mereka dan ia pun merasa Iba kepada Erika setelah tau kondisi Erika yang sebenarnya.
"Ternyata masih ada yang lebih menyedihkan dari kami. Jika kami masih punya harapan memiliki momongan lagi, lalu bagaimana dengan Erika?" batin Sofia.
"Oh ya, Erika. Aku lupa memperkenalkan kalian. Kenalkan, ini Sofia. Istri dari Om Joe. Masih ingat 'kan sama Assisten dingin menyebalkan itu?" ucap Marissa sembaru memperkenalkan Sofia kepadanya. l
__ADS_1
Erika menatap Sofia sambil tersenyum kemudian mengulurkan tangannya kepada wanita itu.
"Wah, ternyata tipe assisten menyebalkan itu keren juga, ya! Maksudku ternyata dia sama seperti Bossnya, menyukai daun muda," sahut Erika sambil terkekeh.
"Erika. Panggil saja Erika, tidak perlu pake Nona karena sepertinya usia kita tidak berbeda jauh, ya kan?" lanjut Erika.
"Sofia. Ya, sepertinya memang begitu," sahut Sofia sambil tersenyum hangat.
Sementara Sofia dan Erika mulai berbincang di tempat itu, Marissa pamit karena Marcello mengajaknya menemui para tamu undangan.
"Aku dengar kamu baru saja keguguran, ya?" tanya Erika kepada Sofia dengan raut wajah sedih.
Sofia tersenyum kecut. "Ya, baru beberapa hari yang lalu."
Erika menepuk pundak Sofia dengan lembut. "Yang sabar ya, Sofia. Tapi kamu masih beruntung jika dibandingkan denganku. Aku malah divonis Dokter tidak bisa memiliki keturunan karena ada masalah pada rahimku. Kamu masih bisa hamil lagi, Sofia. Teruslah berusaha dan jangan lupa berdoa."
"Kamu benar, Erika. Aku memang sangat bodoh. Aku sempat terpuruk dan merasa bahwa diriku adalah wanita yang paling menyedihkan di dunia ini."
Erika tersenyum kemudian merengkuh pundak Sofia. "Aku doakan semoga Tuhan segera memberikan gantinya."
"Terima kasih, Erika, dan aku juga berdoa semoga Tuhan memberikan keajaiban untukmu dengan menghadirkan sosok mungil itu di tengah-tengah keluarga kecilmu nantinya," balas Sofia.
"Aminn."
Acara tujuh bulanan sederhana ala Marissa pun akhirnya selesai. Satu persatu tamu undangan berpamitan padanya. Begitupula para anak-anak panti asuhan, mereka sudah kembali ke panti dengan di antar dua buah bus besar. Bus yang sengaja di sewa oleh Marcello untuk membawa mereka ke mansion.
"Akhirnya acaranya selesai juga. Aku sangat lelah, Dad." Marissa menghembuskan napas lega kemudian bersandar di dada bidang Marcello.
__ADS_1
"Ya, aku pun sama. Aku merasa sangat lelah dan aku sudah merindukan ranjang istimewaku," jawab Marcello.
"Apa kamu sudah tahu tentang Erika, Dad?" tanya Marissa sembari melangkahkan kakinya bersama Marcello menuju kamar utama.
"Ya, Fattan sudah bercerita."
"Aku kasihan sama Erika, Dad. Dia bilang Bu Nilam sudah ngebet pengen punya cucu dan hampir tiap hari Bu Nilam bertanya pada Erika, kapan ia hamil," tutur Marissa dengan wajah sendu.
"Ya, aku tahu. Fattan pun menceritakan masalah itu padaku. Fattan bilang mereka memang belum siap mengatakan hal yang sebenarnya pada Bu Nilam soal kondisi rahim Erika yang sebenarnya."
"Oh, Tuhan. Semoga saja ada keajaiban untuk mereka."
"Ya, semoga saja."
Sementara itu di kamar Joe dan Sofia.
Sofia melepaskan satu-persatu pakaian yang ia kenakan dan bersiap menuju kamar mandi. Belum sempat Sofia melangkah menuju kamar mandi, Joe sudah menangkap tubuh mungilnya kemudian memeluknya denga erat.
"Hei, kira-kira kapan aku bisa beraksi, Sofia? Aku sudah tidak sabar lagi ingin mencetak Joe junior," tutur Joe sembari menciumi tengkuk Sofia.
"Hei, Bung! Tahan sebentar lagi, ya!" goda Sofia.
"Sampai kapan? Jangan sampai senjata keramatku karatan akibat menunggu terlalu lama, ya!"
Sofia tergelak mendengarnya. "Ya ampun, Sayang. Kasihan sekali senjatamu sampai di bilang karatan kayak begitu. Memangnya dia besi tua," sahut Sofia.
...***...
__ADS_1