Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 62


__ADS_3

"Sebaiknya aku pulang, mereka pasti mengkhawatirkan aku," gumam Marissa sembari memperhatikan cuaca yang semakin memburuk.


"Tidak, aku tidak mengizinkanmu kembali di cuaca yang seperti ini," sahut Marcello.


Duaaarrrr!!!


Suara petir kembali menggelegar, seolah meruntuhkan langit di desa itu.


"Akhhh!!!"


Marissa menjerit ketakutan sambil menutup kedua telinganya. Sedangkan Marcello terkekeh melihat gadis itu yang ketakutan dengan wajah memucat.


"Nah, apa sekarang kamu masih berpikir untuk pulang?!" goda Marcello.


Dengan cepat Marissa menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar ketakutan dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kediaman Bu Nilam.


Detik berganti menit, tetapi hujan tak juga kunjung berhenti. Malah semakin menjadi, petir dan kilat menyambar di segenap penjuru desa. Para warga pun tidak ada yang berani keluar rumah, termasuk Fattan dan Bu Nilam.


Marcello memperhatikan sekelilingnya dan ternyata tempat itu adalah sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Marcello meraih gagang pintu dan pintunya pun terbuka. Tak ada satupun perabot di rumah itu. Hanya rumah kosong yang penuh dengan debu. Atapnya pun sudah terlihat bolong-bolong.


"Sebaiknya kita masuk, Cha. Sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat." Marcello mengajak Marissa masuk ke dalam ruangan kosong tersebut. Setelah gadis itu masuk, Marcello pun menutup pintunya.


Marissa bersandar di dinding ruangan itu dengan tubuh menggigil. Gadis itu kedinginan. Daster yang di kenakannya terlihat basah kuyup. Bibirnya terlihat memucat dan bergetar. Sudah beberapa kali Marissa bersin-bersin.


Marcello tidak tega melihat Marissa dalam kondisi seperti itu. Ia melepaskan jasnya kemudian memasangkannya ke tubuh gadis itu. Walaupun jas itu terlihat basah di bagian luar tetapi tidak di bagian dalamnya. Jas itu masih mampu menghangatkan tubuh Marissa.


"Kenakan lah, Daddy tidak ingin kamu jatuh sakit," ucap Marcello sembari meraih tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


Waktu terus berlalu, tak terasa malam pun menjelang, tetapi hujan masih tak kunjung berhenti. Ruangan itupun menjadi gelap gulita.


"Tuan Marcello, aku takut!" seru Marissa sambil mempererat pelukannya di tubuh Marcello.


"Tidak apa, Cha. Daddy ada disini, bersamamu," sahut Marcello sambil mengelus rambut gadis itu.


Tiba-tiba, Marcello merasakan tubuh Marissa yang semakin menghangat. Lelaki itu panik sambil meraba-raba kening Marissa. "Cha, kamu sakit! Benarkan kata Daddy, kamu itu memang bandel!" ucapnya.


"Sekarang kita terjebak di sini dan tidak bisa berbuat apa-apa. Daddy takut terjadi sesuatu kepadamu, Cha" tuturnya dengan wajah cemas sembari mencoba memberikan kehangatan untuk gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Tuan Marcello. Ini sudah terbiasa terjadi padaku jika main hujan-hujanan," sahut Marissa sambil menutup matanya.


"Apa kamu yakin?!" tanya Marcello.


"He'em,"


Sejenak tempat itu menjadi hening, hanya suara hujan yang terdengar semakin menjadi dan suara petir masih bersahutan walaupun tidak se'nyaring sebelumnya.


"Dad, apa Daddy masih mencintai Nona Sarrah?" tanya Marissa tiba-tiba.


Marcello terkekeh pelan. "Tidak," jawabnya singkat.


"Benarkah?" Marissa menengadah menatap bayangan wajah Marcello di kegelapan.


"Ya."


"Kenapa Daddy memutuskan hubungan dengannya? Bukankah dulu Daddy begitu mencintainya?" tanya Marissa lagi.


"Karena dia sudah mengkhianati Daddy," sahutnya sambil tersenyum tipis.


Sementara itu di kediaman Bu Nilam.


Bu Nilam mondar mandir di dalam rumahnya dengan wajah panik.


"Fattan, di mana Marissa? Ini sudah malam dan dia belum juga kembali. Ibu takut terjadi sesuatu kepadanya!" ucap Bu Nilam.


Fattan terdiam sambil memperhatikan cuaca di malam itu. Ia berniat mencari Marissa ke rumah-rumah warga sekitar. Siapa tahu gadis itu sedang numpang bernaung di salah satu rumah warga.


"Erika, sebenarnya Marissa kemana, sih? Kok, kalian tidak ada yang tahu kemana gadis itu pergi?!" tanya Bu Nilam cemas.


"Erika tidak tahu, Bu. Bukankah Erika tadi sedang bantu-bantu Ibu di dapur, sedangkan Pak Fattan sedang mandi di kamar mandi. Jadi tidak ada yang tahu kemana Marissa pergi. Apa jangan-jangan diculik oleh Tuan Marcello, ya?!" tutur Erika kemudian menutup mulutnya karena wajah Bu Nilam terlihat sedih ketika ia mengatakan hal itu.


"Jangan berkata seperti itu, Nak. Kasihan Marissa," ucap Bu Nilam.


"Maafkan Erika, Bu."


"Sebaiknya aku cari dia," ucap Fattan.

__ADS_1


"Hati-hati ya, Nak."


"Aku ikut," ucap Erika.


"Tidak usah, kamu di sini saja. Biar aku yang mencarinya," tutur Fattan sambil menahan tubuh Erika yang ingin mengikutinya.


Lelaki itu menyingsingkan celananya kemudian meraih sebuah payung dan melangkah menerobos derasnya hujan di kegelapan malam.


"Semoga dia menemukan gadis itu," ucap Bu Nilam.


"Amin."


Fattan menghampiri setiap rumah warga di malam itu. Namun, tak ada satupun warga yang mengetahui keberadaannya. Hingga ada salah satu warga yang mengaku sempat melihat Marissa berkunjung di kediaman Marcello.


Fattan bergegas menuju rumah yang dimaksud oleh orang itu, tapi sayangnya ia malah tidak menemukan siapapun di rumah kecil itu. Baik itu Marcello ataupun Marissa, mereka hilang bagai di telan bumi.


Fattan putus asa dan kembali ke kediamannya dengan tangan kosong. Wajah Bu Nilam makin pucat ketika mengetahui Fattan pulang seorang diri.


"Besok Fattan cari lagi, Bu." tutur Fattan.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, seorang Ibu-Ibu berlari kecil memberitahu warga sekitaran desa.


"Eh, ayo cepat! Ada pasangan mesum yang kepergok warga dan sedang diamankan di rumah Pak Kepala Desa," seru Ibu-Ibu tersebut.


"Ada apa, sih? Pagi-pagi sudah bergosip aja?!" tanya Bu Nilam sembari menghampiri Ibu-Ibu tersebut.


"Itu Bu Nilam, ada pasangan yang kepergok berbuat mesum di rumah kosong yang angker itu lo, Bu. Mereka sudah diamankan di rumah Kepala Desa. Yukk, tengokin, Bu, biar kita bully rame-rame, bikin sial desa aja," ajak Ibu-Ibu tersebut.


"Marissa?!"


Fattan segera berlari menuju rumah Pak Kepala Desa. Entah mengapa ia yakin sekali bahwa orang itu adalah Marissa dan Marcello.


...***...


Tunggu'in kelanjutannya, ya! Oh, ya. Author mau ucapin terima kasih banyak untuk reader yang sudah memberikan Vote, Like, Komen serta Hadiah untuk mendukung karya remahan Author ini. Tanpa kalian, Author bukanlah siapa-siapa, love you all 😘😘😘 dukung terus karya Author, ya!!!

__ADS_1


__ADS_2