Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 96


__ADS_3

"Anda serius, Dok?" tanya Marcello dengan wajah berseri-seri menatap Dokter.


"Sepertinya, ya. Tapi karena saya bukan ahlinya dalam bidang ini, saya tidak bisa memastikan bahwa perkiraan saya 100 persen benar, Tuan Marcello. Sebaiknya Anda panggil saja Dokter spesialis kandungan untuk memastikannya," tutur Dokter.


"Kamu dengar itu, Dian? Icha ku hamil, itu artinya aku akan menjadi seorang Ayah. Benar-benar menjadi seorang Ayah dari darah dagingku sendiri," ucap Marcello histeris dengan mata berkaca-kaca.


Dokter itu tersenyum kecut melihat ekspresi Tuan Marcello. Walaupun terlihat agak berlebihan, tetapi ia mengerti bahwa lelaki yang usianya hampir kepala empat tersebut, masih belum memiliki seorang anak. Jadi, wajar saja jika dia begitu bahagia mendengar kabar baik ini.


Begitupula Dian, ia turut bahagia atas kehamilan Marissa. Itu artinya, ia akan segera menjadi seorang nenek, di usianya yang masih terbilang muda.


"Ya! Selamat ya, Tuan Marcello."


"Sebaiknya aku segera memerintahkan Joe agar secepatnya menjemput Dokter Kandungan untuk memeriksakan kehamilan Marissa," gumamnya.


"Ehm, saya punya nomor ponsel Dokter Kandungan jika Anda mau, Tuan Marcello. Namanya Dokter Nisa," ucap Dokter tersebut.


"Ah, iya. Tentu saja," jawab Marcello dengan cepat.


Setelah memberikan nomor ponsel Dokter Spesialis Kandungan itu kepada Marcello, Dokter cantik itupun segera pamit kepada mereka. Tanpa menunggu lama, Marcello segera menghubungi nomor ponsel Dokter Nisa dan meminta wanita itu agar secepatnya datang ke Mansion.


Tentu saja Dokter Nisa menyetujuinya, suatu kehormatan bagi Dokter Nisa bisa melayani Istri dari seorang Marcello. Seorang pengusaha sukses yang terkenal seantero negeri.


Sementara itu.


"Kamu dari mana saja sih, Pah?" tanya Ismika kepada sang Suami, Riyadh.


Riyadh memilih duduk di kursi yang berdekatan dengan Istrinya. Matanya masih mencari-cari sosok yang selama bertahun-tahun menghantui pikirannya. Wanita sederhana yang tidak sengaja, ia hancurkan masa depannya.

__ADS_1


"Ke toilet, setelah selesai mengambil ponselku didalam mobil."


Tiba-tiba saja, ia melihat Joe dari kejauhan dan ia ingin segera menemui pria itu. Riyadh kembali bangkit dari tempat duduknya kemudian meminta izin kepada Zaid dan Ismika.


"Aku ingin menemui Joe, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya," ucapnya sembari melenggang pergi.


Zaid dan Ismika saling tatap dan memperhatikan punggung Riyadh yang semakin menjauh dari mereka. Ismika menghembuskan napas berat kemudian berucap.


"Kamu lihat Papamu, Zaid? Bahkan di sinipun, ia tidak betah berlama-lama berada di dekatku."


Zaid mengelus puncak tangan Ismika sambil tersenyum kecut. "Yang sabar ya, Mah."


Sekarang Riyadh berada tepat didepan Joe. Joe tersenyum hangat kemudian mengulurkan tangannya kepada lelaki itu dan mulai berbasa-basi.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Marissa, apa dia baik-baik saja?"


"Semoga Marissa baik-baik saja. Oh ya, Joe. Ngomong-ngomong soal Marissa, bolehkah aku bertanya sesuatu tentangnya?" sambung Riyadh.


Joe mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Tuan Riyadh. "Boleh saja, selama tidak menyinggung masalah pribadi Tuan Marcello dan Nona Marissa," jawab Joe.


Tuan Riyadh menganggukkan kepala tanda setuju dan mengerti apa yang dimaksud oleh Joe. "Bolehkah aku tahu, berapa usia Marissa sekarang? Sepertinya usia gadis itu masih sangat muda, ya?"


"Nona Marissa baru berusia 19 tahun, memangnya kenapa Tuan Riyadh? Apa ada yang salah pada Nona kami?" tanyanya balik. Joe menyeringai licik, padahal ia mengerti apa maksud Tuan Riyadh mempertanyakan hal itu kepadanya.


"Ah, tidak-tidak. Aku hanya penasaran saja dan ternyata dugaanku benar, usianya jauh lebih muda dari Anakku, Zaid."


Untuk sejenak Riyadh terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara mempertanyakan hubungan Marissa dan Dian kepada Joe.

__ADS_1


"Ehm, Joe. Satu lagi pertanyaanku,"


"Silakan tanyakan, Tuan."


"Dian Maharani, wanita yang tadi mengikuti Marcello. Sebenarnya apa hubungan wanita itu dengan Marissa? Apakah dia Ibunya?"


"Begini saja, Tuan Riyadh. Saya rasa pertanyaan Anda sudah menjurus ke masalah pribadi mereka. Dan saran saya, sebaiknya Anda tanyakan saja langsung kepada yang bersangkutan. Terima kasih," jawab Joe dengan wajah dinginnya.


Riyadh hanya bisa menghembuskan napas berat setelah mendengar jawaban dari lelaki itu.


. . .


Marcello dan Dian masih menunggu kedatangan Dokter Nisa yang sedang di perjalanan menuju Mansion. Marissa bahkan belum sadarkan diri, wanita itu masih terlihat lemah diatas tempat tidurnya.


Dian mengelus puncak kepala Marissa setelah ia berhasil melepaskan beberapa asesoris yang menghiasi di kepala anaknya itu. Sesekali ia melabuhkan ciuman hangatnya di kening Marissa sambil tersenyum tipis.


Sedangkan Marcello terus memperhatikan Dian dan bibirnya gatal sekali ingin menanyakan soal hubungan wanita itu dengan Riyadh, sahabatnya dari negeri seberang.


"Dian,"


Sontak Dian menoleh kearah Marcello dan menatap lelaki itu. "Ya, Tuan Marcello?"


"Siapa sebenarnya Tuan Abraham itu? Apakah dia Riyadh Abraham, lelaki yang tadi mengajakmu bicara saat di pesta?" tanya Marcello dengan tatapan serius menatap Dian.


Dian sempat terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak menyangka bahwa Marcello ternyata begitu dekat dengan sosok lelaki yang sudah menghancurkan masa depannya itu.


"Ya, Tuan Marcello. Lelaki itu adalah Riyadh Abraham, Ayah kandung Marissa," jawabnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2