Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 287


__ADS_3

Setelah Aidan pergi meninggalkan mansion. Marcello segera memanggil Joe beserta para Bodyguardnya untuk segera menemui Dylan di kediamannya.


Marissa kebingungan karena ia sama sekali tidak tahu cerita yang sebenarnya. Tuan Marcello bahkan tidak menceritakan siapa Sarrah yang sebenarnya untuk Shakila dan Aira.


"Sebenarnya ada apa ini, Dad?"


Marcello menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian merengkuh pundak Marissa. "Sebaiknya aku jemput Maria dulu, baru nanti aku ceritakan semuanya padamu," jawab Marcello.


Baru saja Marcello melangkahkan kakinya, Marissa kembali memanggil lelaki itu.


"Daddy! Tunggu, aku ikut!" ucap Marissa sembari menghampiri Marcello.


"Tidak, tidak! Aku tidak setuju. Sebaiknya kamu disini saja. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, Cha!"


"Tidak, aku tidak mau diam disini. Sementara putri kesayanganku sedang dalam bahaya disana." Marissa bersikeras untuk ikut bersama Marcello ke tempat tinggal Dylan demi menjemput putrinya.


Marcello menghembuskan napas berat kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah kalau begitu, tapi berjanjilah bahwa kamu tidak akan bertindak tanpa seizinku! Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu maupun anak kita, Cha!" tegas Marcello.


"Baiklah, aku berjanji!"


Akhirnya merekapun berangkat menuju kediaman Dylan. Padahal saat itu Dylan dan Maria sedang menikmati waktu mereka sambil membicarakan masalah Kakak perempuannya.


Tidak berselang lama, rombongan Tuan Marcello pun tiba di kediaman Dylan dan menerobos masuk tanpa permisi. Para penjaga keamanan yang sedang berjaga di depan pagar rumah Dylan pun tidak berani melakukan apa-apa, setelah melihat pasukan Bodyguard yang diturunkan oleh Tuan Joe.


"Dimana Dylan?" tanya Marcello dengan kasar.


"Tuan Dylan sedang bersantai di ruang utama bersama Nona Maria, Tuan Marcello. Biar saya antar," ucap salah satu penjaga.


"Tidak perlu!" ketusnya.


Tanpa pikir panjang, Marcello segera memasuki kediaman Dylan bersama Marissa yang masih setia mengikutinya. Sedangkan Tuan Joe dan para Bodyguardnya mengikuti dari belakang.


Dari kejauhan, Marcello melihat Maria yang sedang duduk bersandar di dada bidang Dylan sambil bercerita-cerita. Pasangan itu masih belum menyadari kedatangan rombongan mereka.

__ADS_1


Setibanya di ruangan itu, Marcello segera menarik kasar tangan Maria dan menjauhkan gadis itu dari Dylan. Maria dan Dylan yang tidak tahu apa-apa, kebingungan melihat ekspresi Tuan Marcello saat itu.


"Daddy! Daddy kenapa?" tanya Maria.


"Ternyata selama ini Dylan hanya ingin mempermainkan dirimu, Maria. Dia sengaja mendekatimu karena ingin menyakiti dirimu. Benar 'kan, Dylan?"


Dylan menggelengkan kepalanya pelan. Ia sama sekali tidak tahu apa maksud Tuan Marcello saat itu.


"Sebenarnya apa maksud dari ucapan Anda, Tuan Marcello? Saya berani bersumpah bahwa saya benar-benar mencintai putri Anda dan tidak ada keinginan untuk mempermainkannya," sahut Dylan dengan wajah bingung menatap Marcello.


Di tengah-tengah ketegangan yang sedang terjadi, seorang Perawat yang bertugas menjaga Kakak perempuan Dylan tiba di ruangan itu dengan napas terengah-engah.


"Tuan Dylan, Kakak Tuan sudah sadar dan dia meminta Anda untuk segera menemuinya," ucap Perawat itu.


"Baiklah," sahut Dylan sembari ingin melangkahkan kakinya.


"Mau kemana kamu! Urusan kita belum selesai!" tanya Marcello seraya meraih tangan Dylan yang ingin pergi begitu saja.


"Maafkan saya, Tuan Marcello. Saat ini kondisi Kakak saya sedang tidak baik dan saya harus menemaninya."


Maria pun merasa kesal karena tiba-tiba saja Daddy datang sambil marah-marah kepada Dylan tanpa sebab yang jelas.


"Sebenarnya Daddy kenapa, sih? Om Dylan berkata jujur, Dad. Saat ini Kakaknya sedang sakit. Kalau kalian semua tidak percaya, sebaiknya ikutilah bersama kami," ucap Maria.


"Tidak, Maria!" pekik Dylan sambil membulatkan matanya menatap Maria.


"Biar mereka tahu bahwa kamu tidak bohong, Om!" sahut Maria.


Untuk saat ini Dylan tidak ingin mempertemukan Kakaknya dengan Tuan Marcello. Ia takut wanita itu akan semakin terpukul setelah bertemu dengan lelaki itu.


"Sebaiknya tidak, Maria."


"Tapi kenapa?" tanya Maria heran.

__ADS_1


"Kami akan ikut," sela Marcello.


Marissa menggenggam erat tangan Marcello kemudian bertatap mata dengan lelaki itu. Marissa pun sebenarnya ragu jika harus menemui wanita itu. Apalagi setelah mendengar bahwa Sarrah sedang mengalami depresi berat.


"Baiklah, Tuan Marcello." Dylan pun akhirnya mengalah kemudian mengajak Tuan Marcello dan Nyonya Marissa ke kamar Kakak perempuannya.


Setibanya di ruangan itu, nampak Sarrah sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis lirih sambil bersandar di sandaran tempat tidur.


Marissa dan Marcello membulatkan mata mereka saat melihat kondisi Sarrah saat ini. Jauh berbeda dari Sarrah yang mereka kenal dulu. Tubuhnya kurus dan penampilannya pun terlihat apa adanya.


"Sarrah," lirih Marissa.


Tiba-tiba saja kejadian-kejadian di masa lalunya kembali terlintas. Dimana ia sering kali berseteru dengan wanita itu hanya untuk memperebutkan perhatian dari Tuan Marcello.


Marcello pun nampak iba. Ia tidak menyangka bahwa wanita itu akan mengalami nasib buruk dan membuat dunianya jungkir balik.


"Anda lihat, Tuan Marcello? Beginilah keadaan Kakak saya," lirih Dylan sambil menatap sedih ke arah Kakaknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Marcello.


"Entahlah. Saat aku menemukan dirinya, keadaan Kak Sarrah sudah seperti ini. Dia tidak bisa di ajak bicara dengan benar. Bahkan ucapannya pun tidak bisa di percaya," jawab Dylan.


"Lalu, apakah dia masih ingat dengan kedua anak kembarnya?" tanya Marcello kepada Dylan.


"Apa?! Anak kembar?!" pekik Dylan.


Bukan hanya Dylan yang terkejut mendengarnya, Marissa pun tidak kalah terkejutnya.


"Daddy, apa maksudmu! Jangan katakan bahwa ...." Mata Marissa membesar, seolah tidak percaya.


"Apa, siapa!" pekik Dylan yang semakin kebingungan.


Maria hanya bisa menggaruk kepala sembari menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah kursi. Ia bingung kenapa hubungannya bersama Om Emon kesayangannya semakin rumit saja.

__ADS_1


"Aduh, kepalaku mumet," gumamnya.


...***...


__ADS_2