
Beberapa bulan kemudian.
"Akkhh!" pekik Maria sembari berlari kecil menuju Dylan yang sedang menunggunya di depan pintu kamar mandi.
"Bagaimana?" tanya Dylan dengan tatapan serius menatap wajah Maria yang nampak semringah.
"Lihatlah!"
Maria mempelihatkan sebuah benda kecil dengan dua garis merah di tengahnya. Dylan meraih benda itu sambil tersenyum lebar.
"Akhh, jadi itu benar?!" pekik Dylan.
"Ya!" Maria menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Oh, terima kasih, Maria sayang! Aku sayang kamu," ucap Dylan seraya mengangkat tubuh mungil istrinya itu kemudian membawanya berputar-putar bersamanya.
"Sudah, sudah! Aku pusing, Sayang."
Maria memegang kepalanya yang sakit. Akhir-akhir ini kepalanya memang sering sakit tanpa alasan yang jelas. Dan sekarang semuanya terjawab dengan hasil test pack tersebut.
"Maafkan aku, Sayang. Aku lupa karena saking senangnya."
Perlahan Dylan menurunkan tubuh Maria kemudian menuntunnya menuju tempat tidur.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, siapa tahu dengan begitu sakit kepalamu akan sedikit berkurang," ucap Dylan sembari meletakkan selimut untuk menutupi tubuh Maria dari kaki hingga perutnya.
"Terima kasih," sahut Maria sambil tersenyum hangat menatap Dylan.
Dylan pamit sebentar dan ingin menemui Kakaknya untuk memberitahu berita baik itu. Dengan langkah cepat, Dylan menelusuri ruangan demi ruangan hingga ia menemukan Kakaknya itu di halaman depan rumahnya. Wanita itu tengah asik menyiram tanaman kesayangannya.
"Kak, aku punya kabar baik."
Dylan meraih alat penyiram tanaman yang sedang dipegang oleh Sarrah kemudian meletakkannya ke tanah.
"Ada apa sih, Dylan?" tanya Sarrah bingung.
__ADS_1
Dylan menuntun Sarrah ke sebuah kursi taman dan mendudukkan wanita itu disana bersama dengannya.
"Kak, Maria hamil."
"Apa?!" pekik Sarrah sambil tersenyum lebar. "Syukurlah, berarti firasat Kakak benar bahwa istrimu sedang hamil," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca karena saking bahagianya.
"Ya, Kak. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Maria benar-benar hamil. Aku kira dia hanya kelelahan akibat mengurus tokonya, Kak. Dan sekarang aku sangat senang," sahut Dylan dengan wajah semringah.
"Selamat ya, Dylan. Kakak ikut senang mendengarnya. Semoga Maria dan calon bayi kalian selalu diberikan kesehatan hingga hari H-nya nanti."
"Amin, terima kasih, Kak."
"Oh ya, bagaimana dengan kedua putriku? Mengapa mereka belum juga memberiku kabar bahagia seperti ini?" ucap Sarrah sambil menekuk wajahnya.
Dylan terkekeh pelan. "Mungkin belum, Kak. Berdoa saja semoga kedua keponakanku secepatnya menyusul."
"Ya, kamu benar. Oh ya, apa kamu sudah memberitahu kedua mertuamu, Dylan? Aku yakin sekali Tuan Marcello dan Nyonya Marissa pasti sangat bahagia mendengarnya. Sama sepertiku, inilah moment yang paling mereka tunggu selama ini," lanjut Sarrah sambil menepuk pundak Dylan dengan lembut.
"Ah, iya! Kakak benar, hampir saja aku lupa." Dylan meraih ponselnya kemudian mencoba menghubungi nomor ponsel Tuan Marcello.
"Bagaimana kepalamu, masih terasa sakit? Jika masih sakit juga, sebaiknya kita panggil Dokter untuk memeriksa kesehatanmu," ucap Marcello sambil mengelus puncak kepala Marissa.
"Masih, Dad. Padahal aku sudah minum obat yang diberikan oleh Dokter kemarin."
Tiba-tiba ponsel Tuan Marcello berdering. Marcello segera meraih ponselnya kemudian menerima panggilan dari Dylan tersebut.
"Sebentar ya, Sayang."
"Siapa?" tanya Marissa.
"Menantu kita, Dylan."
"Dylan?!"
Marissa segera bangkit dari posisinya kemudian duduk di samping Tuan Marcello. Marissa meminta suaminya untuk mengaktifkan loudspeakers, agar ia dapat mendengar dengan jelas apa yang ingin dibicarakan oleh Dylan.
__ADS_1
Entah mengapa akhir-akhir ini pikiran Marissa hanya tertuju pada Maria, putri kesayangannya. Marcello pun menurut saja, ia segera mengaktifkan loudspeakers di ponselnya dan kemudian menyapa lelaki itu dari seberang telepon.
"Ya, Dylan?"
"Dad, hari ini aku punya kabar baik untuk kalian."
Seketika Marcello dan Marissa saling bertatap mata dengan pikiran mereka masing-masing.
"Ya, kabar baik apa itu, Dylan?" tanya Tuan Marcello.
"Dad, apa Mommy juga ada disana?"
"Ya, tentu saja. Dimana ada Daddy, disitu ada Mommy. Memangnya kenapa, Dylan? Jangan buat kami penasaran," ucap Tuan Marcello.
"Mom, Dad, Maria hamil."
"Apa?!" pekik pasangan itu secara bersamaan.
Marissa refleks memeluk tubuh Marcello dan menciumi wajah lelaki itu berkali-kali karena saking bahagianya.
"Kamu tidak bohong 'kan, Dylan?!" tanya Marissa seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya Mom, Maria hamil. Kami baru saja memeriksanya sendiri dan hasilnya positif."
"Sudah di cek ke Dokter belum?" tanya Marissa lagi.
"Belum sih, Mom. Tapi, setelah ini aku akan segera menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaan Maria."
"Secepatnya, Dylan. Biar kita tahu bagaimana keadaan Maria," ucap Marissa lagi.
Setelah puas berbincang bersama menantunya itu, akhirnya panggilan itupun terputus. Marissa merengek kepada Tuan Marcello agar segera mengajaknya bertamu ke kediaman Dylan.
Dia begitu merindukan sosok Nona Kitty yang sekarang menjadi Nyonya besar di kediaman Tuan Dylan. Walaupun Maria dan Dylan selalu mengunjungi kediaman mereka. Namun, tetap saja Marissa merasa ada yang kurang karena sosok Maria yang biasa membuat hari-harinya penuh warna sudah tidak tinggal bersama mereka.
...***...
__ADS_1