Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 61


__ADS_3

Setelah mendengar penuturan Erika, Marissa terdiam. Ia kembali mengintip lelaki itu dari balik jendela. Marcello masih berdiri disana dengan senyuman anehnya menatap Marissa.


"Apa kamu yakin dia jatuh cinta padaku, Erika?" tanya Marissa yang masih menatap Hot Daddynya dari jendela.


"Ya. Aku yakin sekali, Cha. Coba saja kamu bicarakan sama Tuan Marcello baik-baik, mungkin saja nanti dia akan mengakuinya."


"Ya 'kan, Pak Fattan?" Erika menepuk pundak Fattan yang hanya terdiam sambil memperhatikan Marissa.


"Entahlah, aku kurang tau kalau soal perasaan seseorang," jawabnya.


"Hhhhh dasar, lelaki sama saja!" gerutu Erika.


Marissa terus mengintip lelaki itu dari balik jendela sambil berpikir keras. Sebenarnya ia ingin menuruti apa kata Erika, menanyakan perasaan lelaki itu kepadanya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Marissa ragu bahwa lelaki itu mencintainya.


Tak terasa sore pun menjelang. Awan terlihat menghitam dan sepertinya hujan lebat akan segera turun. Marcello nampak memperhatikan langit yang mulai menggelap dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kediamannya.


Tiba-tiba saja hati Marissa merasa mantap untuk menanyakan soal perasaan lelaki itu kepadanya. Ia berjalan keluar rumah dan berniat menemui lelaki itu. Namun, sayangnya lelaki itu sudah menghilang dan dari kejauhan nampak Marcello melenggang menuju kediamannya.


"Tu ...!" Marissa ingin berteriak tetapi ia malu.


"Ah, sudahlah. Sebaiknya aku susul saja dia!" gumamnya.


Marissa berlari kecil menuju Marcello, tetapi lelaki itu sudah sangat jauh darinya. Marcello berjalan dengan tergesa-gesa karena sebentar lagi hujan akan segera turun.


"Sebenarnya dia itu mau kemana? Kok, jalannya cepat sekali?!" gerutu Marissa sambil berlari kecil.


Marissa bahkan tidak menyadari bahwa langit sudah menggelap. Bukan hanya karena matahari yang sudah mulai tenggelam, tetapi juga karena awan hitam sudah menggumpal diatas kepala mereka.


Hingga akhirnya Marcello tiba di depan rumah sederhana miliknya. Ia membuka kunci pintu kemudian masuk kedalam ruangan sempit itu. Ia tidak menyadari bahwa Marissa sedang mengikutinya dari belakang.


"Loh, ngapain Tuan Marcello memasuki rumah orang? Mana dia punya kunci pintunya, apa jangan-jangan dia tinggal disana sekarang?!" gumamnya Marissa.

__ADS_1


Marcello duduk di kasur lusuhnya dengan lutut menekuk. Ia terdiam sambil memikirkan nasibnya dan Marissa yang begitu keras kepala. Hingga akhirnya ia dikejutkan oleh suara ketukan yang terdengar sangat cepat.


Tok ... tok ... tok ...


"Siapa, sih? Apa dia tidak tahu bahwa langit akan segera runtuh?!" gerutu Marcello yang kesal karena merasa terganggu.


Marcello bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan menghampiri pintu ruangan itu. Perlahan ia membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya ia karena Marissa sedang berdiri di depan pintu dengan wajah bimbang.


"Icha?!"


Marcello tersenyum dan segera meraih tangan gadis itu. "Masuklah, di luar dingin."


Marissa masuk ke dalam rumah yang sekarang ditempati oleh lelaki itu. Ia memperhatikan sekeliling ruangan dengan tatapan bingung.


"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Marcello?" tanya Marissa.


"Sekarang ini rumah Daddy. Kenapa? Apa kamu kira Daddy tidak sanggup hidup di desa ini?!" jawabnya dengan bangga.


"Tinggal disini, membuat kamu benar-benar berubah, Cha. Lihat penampilanmu sekarang, pakaian apa yang sedang kamu kenakan ini?!" ucapnya.


"Saya kesini bukan untuk membahas pakaian saya, Tuan Marcello. Saya ingin bertanya kepada Anda dan Anda harus menjawabnya dengan jujur. Apa tujuan Anda datang ke tempat ini?!" tanya Marissa dengan wajah serius menatap Marcello.


Marcello kembali tersenyum dan meraih tangan gadis itu. Ia ingin mengajak Marissa untuk duduk di kasur lusuhnya.


"Duduklah dulu, Cha. Biar ngobrolnya enak," ajaknya.


"Jawab saja pertanyaanku, Tuan Marcello," tolak Marissa.


Marcello menghembuskan napas panjang kemudian duduk di kasur lusuhnya sambil menekuk lutut, seperti yang ia lakukan sebelumnya.


"Menjemputmu, tetapi karena kamu menolak ya, terpaksa Daddy tinggal disini hingga kamu luluh dan bersedia ikut Daddy pulang," sahutnya.

__ADS_1


Marissa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dia ingin menanyakan perasaan lelaki itu yang sebenarnya, tetapi ia takut. Ia sangat gugup, badannya bahkan terasa panas dingin.


"Tuan Marcello, apakah Anda mencintai saya?!" tanya Marissa.


Jiwa Marissa seakan melayang dan meninggalkan raganya di tempat itu bersama Marcello. Urat malunya pun seakan sudah putus setelah berhasil menanyakan hal itu kepada lelaki tersebut.


Marcello sempat terdiam, tetapi pandangannya tidak pernah lepas dari gadis itu. Ia bangkit dari posisi duduknya dan kini berdiri tepat di hadapan Marissa. Ia meraih tangan Marissa kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Daddy sayang kamu, Cha. Kamu akan selalu menjadi Putri kecilnya Daddy," sahutnya.


Duarrr!!!


Bunyi petir menggelegar tepat setelah Marcello mengatakan hal itu. Hujan pun turun dengan lebatnya.


Terlihat jelas kekecewaan di mata Marissa, ia putus asa setelah mendengar ucapan lelaki itu. Perlahan, Marissa melepaskan genggaman tangan Marcello dan menjauhi lelaki itu.


"Sebaiknya aku pulang!" ucap Marissa sebelum ia berlari menerobos hujan.


Marcello panik, ia meraih jasnya kemudian segera berlari mengejar Marissa.


"Cha, kembalilah! Nanti kamu sakit!" teriaknya sambil mengejar gadis itu.


Marissa tidak peduli, ia terus berlari karena rasa kecewanya mengalahkan rasa takutnya terhadap petir dan kilat yang terus menyapa desa itu. Hingga akhirnya Marcello berhasil menangkap tubuh gadis itu kemudian membawanya ketempat aman untuk berteduh.


"Lepaskan aku!" kesal Marissa.


"Tidak akan! Apa kamu ingin sakit, heh?!" sahut Marcello tidak kalah kesalnya.


Marissa mendengus kesal sambil mencoba melepaskan tubuhnya dari lelaki itu. Namun, percuma Marcello merengkuh tubuhnya dengan sangat erat.


...***...

__ADS_1


Ada kejutan apa ya, setelah ini ... 😅 tunggu UP selanjutnya, ya!


__ADS_2