Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 69


__ADS_3

Baru saja Marcello selesai melakukan ritual mandinya, ia sudah dikejutkan dengan ramainya para Pelayan yang sedang mengeluarkan barang-barang yang ada di kamarnya. Marcello menatap heran kepada para Pelayan kemudian menghampiri mereka.


"Apa-apaan ini, siapa yang sudah berani memerintahkan kalian mengeluarkan barang-barangku?!" kesal Marcello.


"E, ehm, itu ... Nona Marissa," sahut salah satu Pelayannya dengan kepala tertunduk.


Tiba-tiba Marissa masuk kedalam kamar dengan wajah yang seakan tidak berdosa. Ia tersenyum sambil menatap Marcello yang terlihat kesal, kemudian menghampiri lelaki itu.


Marissa mulai beraksi lagi. Apalagi saat itu Marcello hanya mengenakan sebuah handuk kecil untuk menutupi senjatanya. Gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Marcello sambil memberikan kerlingan nakal. Buah kenyal milik Marissa yang berukuran besar menempel sempurna di dada bidang lelaki itu.


"Daddy EL, bukankah kamar ini sekarang milik kita berdua? Jadi, boleh donk Icha mengubah suasana kamar ini, agar terasa lebih nyaman. Kamar ini terasa sumpek, Dad," ucap Marissa.


Marcello tidak mampu berkata-kata, ia hanya bisa menelan saliva sambil menahan gejolak jiwanya yang ingin segera mengajak gadis itu bergelut di atas tempat tidur.  Apalagi dua buah bulatan kenyal itu begitu menggoda imannya.


Sesuatu yang tertutup handuk kecil itu mulai bangkit dan bergerak-gerak. Marcello segera melepaskan tangan Marissa kemudian menjauh dari gadis itu. Ia tidak ingin Marissa menyadari bahwa sesuatu di bawah sana sudah meronta-ronta meminta haknya.


"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, Daddy ingin segera berpakaian," ucapnya sambil melenggang pergi menuju ruang pakaian.


Marcello mengumpat kasar karena senjatanya bangun dan manggut-manggut di bawah sana. "Bisa-bisanya kamu bangkit, hah! Memalukan. Ingat, gadis itu adalah bayi mungil yang dulu kamu sayang-sayang sebagai seorang anak! Jangan sampai aku benar-benar melakukan itu padanya, berarti aku adalah Ayah yang bejat!"


Jika Marcello mengumpat kasar karena senjatanya yang bangun karena godaan Marissa, berbeda dengan gadis itu. Ia mengumpat kasar karena lelaki itu berhasil menahan hasratnya.


"Sialan! Lelaki itu memang kuat iman juga rupanya!" kesal Marissa.

__ADS_1


Tiba-tiba saja seorang Pelayan berlari menghampiri Marissa dengan wajah pucat.


"Nona, Nona Marissa. Di luar, ada beberapa orang polisi yang ingin bertemu dengan Anda."


"Polisi?!"


Firasat buruk sudah mulai ia rasakan ketika mendengar ucapan Pelayan itu, tentang Polisi yang ingin bertemu dengannya. Marissa melangkahkan kakinya sambil terus berpikir. Setibanya di halaman depan Mansion, ternyata benar. Ada beberapa orang Polisi yang sedang menunggu kedatangannya.


Marissa menggelengkan kepalanya pelan, ketika ia melihat sosok Sarrah di antara beberapa Polisi tersebut. Wanita itu menyeringai licik ketika ia datang menghampiri mereka.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Marissa sambil memperhatikan Sarrah yang berdiri di samping salah satu Pak Polisi.


"Kami mendapat laporan bahwa Anda telah mencuri serta memalsukan perhiasan milik Nona Sarrah sehingga mengakibatkan kerugian untuknya."


"Sudah, Pak! Kita geledah saja kamarnya. Saya yakin, dia pasti menyembunyikan cincin saya di sana," sela Sarrah dengan sangat antusias.


"Ini pasti salah paham, Pak! Tidak mungkin Nona kami melakukan pencurian," bela Joe yang juga berada di sana.


"Maafkan kami, Tuan Joe. Kami harus menggeledah kamar Nona Marissa untuk memastikan kebenarannya."


Joe tidak berhak melarang para Polisi melakukan tugas mereka. Ia pun mengizinkan mereka masuk dan menggeledah bangunan megah itu.


"Baiklah, silakan."

__ADS_1


Joe menuntun para Polisi menuju kamar Marissa. Sedangkan Marissa berjalan di belakang mereka dengan wajah memucat. Ia meremass kedua tangannya secara bergantian. Ia baru ingat bahwa cincin milik sarah masih ia simpan di dalam lemari pakaiannya.


"Mampus, kamu Marissa! Inilah pembalasanku karena kamu sudah membuat jariku membusuk dan hampir saja di amputasi!" ucap Sarrah yang tengah berjalan di sampingnya dengan setengah berbisik.


Marissa tersenyum sinis menatap wanita itu. "Aku tidak takut, Nona Sarrah. Karena aku yakin Tuan Marcello tidak akan pernah membiarkan aku kalah darimu."


"Heh! Kita lihat saja nanti, Anak pungut! Siapa yang dipilih oleh Marcello setelah ini, aku atau dirimu! Jelas dia akan memilihku, karena kamu hanya anak pungut yang suka mencuri barang milik orang lain, menjijikan!" hardik Sarrah.


Marissa malah terkekeh mendengar hardikan Sarrah. Ia merasa lucu ketika wanita itu begitu yakin bahwa Marcello yang kini sudah berstatus sebagai suami sahnya akan memilih Sarrah dibandingkan dirinya.


"Baiklah, baiklah, terserah apa katamu, Nona Sarrah."


Sarrah semakin kesal. Ia berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Marissa yang masih berjalan di belakang. Sarrah menghampiri para Polisi dan berjalan di samping mereka.


"Masuklah,"


Joe membukakan pintu kamar Marissa dan mempersilakan para Polisi itu memeriksa seluruh ruangan itu. Joe menghampiri Marissa yang terlihat memucat dan mengajak gadis itu bicara.


"Nona, Anda tidak melakukan apa yang dituduhkan kepada Anda, bukan?" tanya Joe sambil memperhatikan wajah Marissa.


Joe sedikit khawatir setelah melihat ekspresi Marissa. Ia takut Nona kecilnya itu memang melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan kepadanya. Jika benar itu terjadi, itu artinya Marissa benar-benar dalam masalah.


...***...

__ADS_1


__ADS_2